Ada kalanya kita mengira bahwa rahmat Allah datang melalui sesuatu yang besar. Menolong orang dalam jumlah banyak. Bersedekah dengan harta yang melimpah. Membangun masjid. Memberangkatkan orang lain umrah. Atau melakukan amal yang kemudian diketahui banyak orang.
Padahal, rahmat Allah bisa datang melalui kebaikan yang sangat sederhana. Bisa jadi melalui segelas air yang kita berikan kepada seseorang yang kehausan. Melalui tangan yang membantu orang tua menyeberang jalan.
Melalui senyum kepada tetangga yang sedang dirundung masalah. Atau melalui kesediaan kita mendengarkan seseorang yang sedang membutuhkan tempat untuk bercerita.
Kebaikan-kebaikan kecil itu sering kali tidak masuk berita. Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada orang yang bertepuk tangan. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi Allah tahu.
Dan Al-Qur’an memberikan kabar yang menenteramkan: “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-A’raf: 56)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa berbuat baik bukan sekadar cara membuat orang lain bahagia. Kebaikan juga menjadi jalan mendekat kepada rahmat Allah. Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Seorang ayah yang pulang kerja dalam keadaan lelah, tetapi tetap menyempatkan diri mengusap kepala anaknya, sedang menanam kebaikan.
Seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuk keluarganya, meski tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih, sedang menanam kebaikan.
Seorang guru yang sabar menghadapi murid yang berkali-kali melakukan kesalahan, sedang menanam kebaikan.
Seorang anak yang merawat orang tuanya ketika mereka sudah lanjut usia, sedang menanam kebaikan.
Dan seorang manusia yang memilih memaafkan ketika sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk membalas, sedang menanam kebaikan.
Kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang kelak menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada kita.
Setelah Salah, Jangan Menjauh
Namun manusia bukan malaikat. Kita bisa berbuat baik, tetapi kita juga bisa salah. Kita bisa jatuh dalam dosa. Kita bisa menyakiti orang lain, baik dengan tangan, perkataan maupun sikap.
Karena itu, selain berbuat baik, jangan lupa memohon ampun kepada Allah. Jangan sampai dosa membuat kita justru semakin jauh dari-Nya.
Ketika menyadari kesalahan, segeralah kembali. Minta maaf kepada manusia jika kesalahan itu berkaitan dengan manusia. Mohon ampun kepada Allah dan bertobat jika kita melakukan dosa.
Al-Qur’an mengingatkan: “Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” (QS An-Naml: 46)
Ada pelajaran penting di sini: pintu rahmat Allah tidak tertutup hanya karena kita pernah melakukan kesalahan.
Yang berbahaya bukanlah pernah jatuh. Yang berbahaya adalah ketika sudah jatuh, kita tidak mau bangkit. Sudah salah, tetapi tidak mau mengakui. Sudah berdosa, tetapi tidak mau bertobat.
Bayangkan seseorang yang tanpa sengaja memecahkan kaca rumah tetangganya. Ia bisa saja memilih pergi dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Tetapi hati kecilnya tahu. Ia lalu mengetuk pintu rumah tetangga, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan bersedia mengganti kerusakan.
Mungkin harga kaca itu tidak seberapa. Tetapi keberanian mengakui kesalahan jauh lebih berharga.
Begitulah semestinya kita kepada Allah. Ketika salah, jangan lari dari Allah. Justru berlarilah menuju ampunan-Nya.
Mengajak kepada Kebaikan
Ada jalan lain untuk mendekat kepada rahmat Allah: mengajak orang lain kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Kebaikan tidak selalu harus disampaikan dari mimbar.
Seorang ustaz tentu bisa menjadi penyeru kebaikan. Tetapi seorang guru juga bisa. Orang tua bisa. Pemimpin bisa. Penulis bisa.
Trainer bisa. Inspirator bisa. Bahkan seorang teman yang mengingatkan temannya untuk salat tepat waktu pun sedang mengambil bagian dalam menyerukan kebaikan.
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.” (QS At-Taubah: 71)
Perhatikan janji Allah itu: “Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.”
Maka, ketika kita mengingatkan seseorang kepada kebaikan, sebenarnya kita bukan hanya sedang menolong orang tersebut. Bisa jadi, pada saat yang sama, kita sedang menjemput rahmat Allah untuk diri kita sendiri.
Namun mengajak kepada kebaikan tentu membutuhkan cara yang baik pula. Jangan sampai niatnya benar, tetapi caranya justru menyakiti.
Jangan sampai kita ingin membuat orang dekat dengan agama, tetapi kata-kata kita malah membuatnya menjauh.
Kebaikan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan keteladanan, kelembutan dan kasih sayang.
Sebab sering kali orang tidak membutuhkan nasihat yang panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang menunjukkan bahwa kebaikan itu memang bisa dilakukan.
Kebaikan yang Tidak Kita Ketahui Balasannya
Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah membalas sebuah kebaikan.
Mungkin kita pernah membantu seseorang mencari pekerjaan. Bertahun-tahun kemudian, tanpa kita duga, orang itu membantu keluarga kita.
Mungkin kita pernah memberikan sedikit uang kepada seseorang yang sedang kesulitan. Kita menganggapnya kecil. Tetapi bagi orang tersebut, pertolongan itu mungkin menyelamatkan keluarganya dari tidak makan hari itu.
Mungkin kita pernah menghibur seseorang yang sedang putus asa. Kita lupa percakapan itu. Tetapi ia mungkin mengingatnya seumur hidup. Dan bisa jadi, ada kebaikan yang tidak pernah kembali kepada kita dalam bentuk apa pun di dunia.
Tetapi bukankah kita berbuat baik bukan untuk mendapatkan balasan manusia?
Kita berbuat baik karena Allah. Maka, ketika tidak ada yang berterima kasih, jangan berhenti berbuat baik.
Ketika kebaikan kita tidak dibalas, jangan kecewa. Ketika orang lain bahkan tidak tahu apa yang telah kita lakukan, tetaplah ikhlas. Sebab ada satu hal yang pasti: Allah tidak pernah luput melihat kebaikan hamba-Nya.
Mari memperbanyak kebaikan, sekecil apa pun itu. Mari segera bertobat ketika melakukan kesalahan. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang bijaksana. Dan mari terus berharap kepada rahmat Allah.
Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya amal yang membuat kita merasa aman, melainkan rahmat Allah yang kita harapkan menyertai seluruh perjalanan hidup kita.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal kebaikan kita, melembutkan hati kita untuk terus berbuat baik, dan menjadikan sisa umur kita sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Semoga ketika tiba waktunya kita kembali kepada-Nya, Allah menutup hidup kita dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments