Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pakar Pemulasaraan Jenazah Muhammadiyah itu Tutup Usia

Iklan Landscape Smamda
Pakar Pemulasaraan Jenazah Muhammadiyah itu Tutup Usia
Bagi Muhammadiyah, seorang tokoh yang wafat akan senantiasa ada penerus dan pelanjutnya. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. (Muhammad Adil/PWMU.CO).

Drs H Agus Salim, adalah sosok dai yang tenang dan giat berdakwah sejak bujang dalam masyarakat.

Alumni Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1984 itu tanpa kabar sakitnya, telah wafat pada Senin (7/9/2026) di Rumah Sakit Universitas Indonesia (UI), Depok dengan menimbulkan duka keluarga dan masyarakat.

Padahal sebelum wafatnya, Almarhum baru saja mengisi pengajian takziyah di rumah salah satu kerabat.

Sarjana Dakwah lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah ini aktif berdakwah dalam membina umat.

Seakan tak ada waktu selain mengurusi jamaahnya dalam masyarakat, kader Muhammadiyah ini dapat dikatakan tidak mengenal waktu senggang dan istirahat.

Keseharian Sang Pakar

Pagi hingga petang, Agus menjadi guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIM) di MTs Muhammadiyah yang berdiri di daerah kampungnya. Di Kelurahan Kukusan, kecamatan Beji, Kota Depok, ia mengajar hingga menjelang akhir hayatnya.

Agus pernah juga menjadi Kepala Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Kukusan. Ia melanjutkan jabatan Drs Mursin SAg yang mengundurkan diri.

Meskipun hanya berjalan selama tiga tahun, Namun di tangannya, MA berhasil meloloskan satu siswa yang melanjutkan kuliah hingga jadi sarjana pendidikan Islam.

Pada sore hingga malam harinya Agus Salim tetap melaksanakan aktivitas dakwah di lingkungan masyarakat Depok, baik di Kukusan kampung nya sendiri, atau pun di daerah lain, yang jauh dan dekat.

Di masjid-masjid Muhammadiyah dan lainnya, ia juga aktif mengisi Khutbah Jumat dan ceramah agama. Seakan baginya tak ada waktu untuk istirahat.

Di Muhammadiyah ia pun aktif dalam kepengurusan, mulai tingkat ranting, cabang hingga menjadi Ketua Majelis Tabligh di PDM Kota Depok.

Menjelang wafatnya, tercatat Almarhum masih tercatat sebagai Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Kota Depok.

Didikan Mualimin Muhammadiyah membekas dalam dirinya. Berdakwah dengan lemah lembut dan masuk ke kelompok-kelompok lain dalam masyarakatnya hal yang biasa.

Memang, Agus sempat dipandang mubaligh yang mudah terbawa arus. Padahal dakwah di dalam Muhammadiyah itu merangkul bukan memukul.

Justru masyarakat yang berbeda faham di kampungnya makin menghormati Agus Salim sebagai tokoh Muhammadiyah yang pandai bergaul dengan siapa saja.

Agus dan Masjid Al Barokah

Musholla Al Barokah yang menjadi pusat dakwahnya justru telah berhasil dijadikan masjid Jami yang dipakai shalat Jumat dan shalat lima waktu bagi umat di sekitarnya tanpa ada sekat faham yang berbeda.

Pembangunan masjid Al Barokah wakaf dari Muhammadiyah berjalan hingga berdiri megah di tepi jalan raya KH M Usman, seorang ulama pendiri Muhammadiyah di daerahnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Jamaah yang heterogen juga telah memahami masjid itu milik Muhammadiyah. Merekapun ikut dalam beribadah di masjid tanpa kehilangan identitas dan cara beribadahnya. Semuanya itu tidak terlepas dari usaha dan tangan dingin Agus melalui aktivitas dakwahnya.

Apalagi Agus Salim bukan hanya berdakwah bil lisan, tapi juga bil hal yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Terutama bila mereka yang mengalami kematian, maka beliau yang dipercaya sebagai amil di kelurahannya dan langsung yang melakukan pemulasaraan jenazah dari mulai awal hingga pemakamannya.

Karena sering dan lamanya menjadi Amil dan petugas pemulasaraan jenazah, telah membuat namanya harum, bukan saja dalam mengurusi jenazah dan kematian, melainkan juga sebagai pelatih dalam urusan jenazah.

Beliau kerap diundang memberikan pelatihan tentang kematian hingga pemulasaraan jenazah.

Beliau menjelaskan dan mempraktekkan langsung dari mulai memandikan jenazahnya, mengafani, mensalatkan dan menguburkannya dengan arahan dan bimbingannya.

Saat shalat jenazah, beliau tidak segan-segan menjadi imam dan pemberi tausiyah, baik saat di masjid, kuburan, maupun ketika diadakan pengajian takziah di rumah keluarga yang meninggal dunia.

Karena hal inilah Agus Salim dikenal sebagai pakar pemulasaraan jenazah Muhammadiyah, termasuk di kalangan masyarakat kampungnya. Warga Muhammadiyah dan masyarakat di lingkungannya telah kehilangan tokoh yang dihormati umat ini.

Penerus Akan Selalu Lahir

Namun bagi Muhammadiyah seorang tokoh yang wafat akan senantiasa ada penerus dan pelanjutnya.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Esa hilang dua terbilang. Hanya saja, yang menjadi pakar pemulasaraan jenazah ini tidak mudah mencari pengganti nya.

Sebab syaratnya bukan saja orang berlatang belakang pendidikan agama yang kuat. Melainkan juga seorang aktivis dakwah dalam masyarakat.

Terutama orang yang tidak membeda-bedakan warga masyarakat berkaitan dengan pemahaman agama dan ibadahnya. Untuk pengurusan jenazah di kampung tampaknya akan diteruskan oleh adik kandungnya, Amirudin Radun.

Selain urusan jenazah yang dilakukan juga berkaitan dengan ibadah haji dan umroh. Agus juga membuka travel haji dan umroh.

Sudah berapa kali aktivitas ibadah di tanah suci ini di lakukan. Hal ini apakah juga akan dilanjutkan oleh adik kandungnya? Belum ada kabar kepastiannya.

Dengan kepergian beliau sebagai aktivis dan mujahid dakwah dalam Muhammadiyah dan masyarakatnya, banyak pihak yang merasakan kehilangan. Karena itu sedemikian banyak orang yang bertakziah, menyolatkan dan mengantarkan jenazahnya ke kuburan wakaf di kampungnya.

Semoga Allahu yarham Agus Salim termasuk hamba Allah Azza Wa Jalla yang disebut dalam firman Nya, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati rida dan diridai-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba -ham ba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al Fajr: 27-30).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 09/09/2026 15:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu