Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cinta di Antara Logika dan Rasa

Iklan Landscape Smamda
Cinta di Antara Logika dan Rasa
Didin Fatihuddin. Foto sketsa: OpenAI
Oleh : Prof. Dr. Didin Fatihudin, SE, M.Si Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Manajemen Keuangan Umsura

Apa makna cinta? Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya bisa berbeda-beda.

Ada yang mengartikan cinta sebagai kasih sayang. Dikasihi dan disayangi. Tidak cukup hanya dikasihi, tetapi juga ingin disayangi. Saling mengasihi, saling menyayangi.

Di kalangan remaja, ungkapannya sederhana: “Aku cinta sama kamu.”

Lalu muncul pertanyaan: “Kamu juga harus cinta sama aku!?”

Ungkapannya sama, tetapi maknanya bisa berbeda. Semuanya bergantung pada konteks.

Bahkan cinta bisa saja dibawa ke dalam logika matematika. Untuk menghitung volume cinta, misalnya, bisa saja dipakai rumus panjang × lebar × tinggi.

Cinta bisa ditambah. Cinta bisa dikurangi. Cinta bahkan bisa dibagi.

Tetapi benarkah cinta sesederhana angka?

Coba kita maknai dengan lebih bijak. Ada cinta ayah dan ibu kepada anak, juga cinta anak kepada ayah dan ibu. Ada cinta kakek dan nenek kepada cucu, juga cinta cucu kepada kakek dan nenek.

Ada cinta suami kepada istri, atau sebaliknya. Ada cinta kepada saudara, keluarga, teman, kerabat, sahabat, dan tetangga.

Sama-sama cinta, tetapi tentu berbeda makna dan emosinya. Kita juga mengenal cinta berdasarkan perjalanan usia. Jatuh cinta ketika SMP. Gita cinta kita berdua ketika SMA. Yang lain ngontrak!?

Lalu ada cerita cinta ketika kuliah. Ada kisah cinta yang berlabuh ketika mulai bekerja.

Jatuh cinta itu mudah. Yang sulit adalah memelihara frekuensi cinta, menjaga konsistensi cinta, dan menerima konsekuensi cinta. Di sinilah logika dan perasaan mulai berebut lahan.

Cinta ketika remaja mungkin lebih banyak menggunakan rasa: 90 persen rasa, 10 persen logika. Ketika kuliah, barangkali menjadi 70 persen rasa dan 30 persen logika. Ketika bekerja, 60 persen rasa dan 40 persen logika.

Sementara cinta ayah-ibu, kakek-nenek, kakak-adik, saudara, mungkin 50 persen rasa dan 50 persen logika.

Tentu saja angka-angka itu bukan hasil penelitian statistik. Itu hanya cara sederhana untuk menggambarkan bahwa cinta dan kehidupan terus mengalami perubahan.

Lalu bagaimana dengan cinta untuk berbagi? Apakah rasio logika dan rasa semakin kecil?

Seharusnya semakin besar. Sebab cinta kepada ayah dan ibu, kepada keluarga, kepada sesama, idealnya tidak mengenal batas.

SMPM 5 Pucang SBY

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain. Bagaimana cinta kita kepada Allah? Bagaimana cinta kita kepada Rasul? Bagaimana cinta kita kepada sesama manusia? Bagaimana pula cinta kita kepada alam dan lingkungan?

Jika kita mencintai Allah, semestinya cinta itu juga melahirkan cinta kepada Rasul, kepada manusia, kepada alam, dan kepada lingkungan.

Berarti cinta tidak bisa dijumlahkan secara kuantitatif. Yang harus full in love adalah kualitas cintanya. Seratus persen.

Benarkah cinta hanya boleh bertambah? Bagaimana dengan cinta yang dibagikan? Apakah ketika dibagi cinta menjadi berkurang?

Rasanya tidak. Justru cinta yang dibagikan seharusnya semakin luas. Karena itu kasih, sayang, dan cinta barangkali memang tidak untuk dihitung-hitung. Apalagi meminta balas jasa.

Ikhlas dong!

Cinta kasih sayang berlaku universal. Bahkan bisa melampaui kehidupan seseorang.

Dalam Islam, kita mengenal tiga bentuk amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Di sana cinta menemukan bentuknya yang panjang. Orangnya boleh wafat. Tetapi cinta dan kasih sayangnya tidak boleh ikut hilang. Ia diteruskan oleh putra-putrinya, cucu, bahkan cicitnya.

Cinta adalah rasa kasih sayang yang mengalir. Kadang sulit dilogikakan. Apalagi di-statistik-kan, baik secara inferensial maupun diferensial.

Cinta lebih dekat kepada sesuatu yang kualitatif, natural, dan menjadi bagian dari sunatullah.

Mungkin karena itu cinta tidak terhingga. Tidak terhitung.

Bukan karena cinta tidak memiliki nilai, tetapi karena nilainya terlalu besar untuk sekadar dihitung dengan angka.

Jadi, apakah kita sudah puas dengan definisi cinta?

Are you satisfied with the definition of love? (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/09/2026 18:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu