SMP Muhammadiyah 15 Surabaya kembali melaksanakan upacara bendera pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut diikuti seluruh murid kelas IX bersama guru wali kelas.
Upacara berjalan tertib dan khidmat, disertai dengan menyanyikan Mars Muhammadiyah sebagai salah satu rangkaian kegiatan. Pelaksanaan upacara bendera menjadi salah satu bentuk pembiasaan bagi murid untuk menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab, cinta tanah air, serta memperkuat karakter sebagai bagian dari wawasan kebangsaan.
Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap bendera Merah Putih, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi murid untuk mendapatkan pesan dan motivasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ibu Sagita sebagai pembina upacara menyampaikan amanat dengan mengangkat tema mengenai pentingnya memiliki value atau nilai dalam diri.
Ibu Sagita memberikan perumpamaan menggunakan uang pecahan Rp100.000. Beliau menggambarkan bahwa uang Rp100.000 tetap memiliki nilai meskipun mengalami berbagai kondisi. Uang tersebut, meskipun dilipat, diremas, bahkan menjadi kusut, tetap akan diinginkan seseorang karena nilai yang dimiliki uang tersebut tidak berubah.
Perumpamaan itu kemudian dikaitkan dengan kehidupan para murid.
“Sama halnya dengan diri kita. Apabila kita punya value, maka kalian berharga,” pesan Ibu Sagita dalam amanatnya.
Menurutnya, kondisi seseorang tidak menentukan hilangnya nilai yang terdapat dalam dirinya. Setiap individu memiliki potensi untuk menjadi pribadi yang berharga. Namun, value tersebut perlu diwujudkan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ibu Sagita menegaskan bahwa nilai tidak hanya berupa angka yang diperoleh dalam pembelajaran. Nilai juga tercermin melalui tingkah laku, sikap, kebiasaan, tanggung jawab, serta kepedulian seseorang terhadap lingkungan dan orang lain.
Pak Banjar selaku Kepala SMP Muhammadiyah 15 Surabaya memandang bahwa amanat yang disampaikan dalam upacara memiliki makna penting bagi perkembangan karakter murid.
“Pesan mengenai value diri menjadi pengingat bahwa setiap murid mempunyai potensi. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui kebiasaan positif, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama” Ujar Pak Banjar.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian nilai akademik. Murid juga perlu memiliki karakter yang baik agar mampu menerapkan ilmu dan kemampuan yang dimiliki dalam kehidupan bermasyarakat.
Bu Titin selaku Waka Kurikulum menyampaikan bahwa amanat pembina upacara sejalan dengan proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.
“Kebiasaan mengambil sampah yang berserakan, membantu guru, serta melaksanakan kewajiban dengan disiplin merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan murid untuk membangun karakter” tutur Bu Titin.
Menurutnya, nilai murid juga dapat dilihat melalui perilaku sehari-hari. Sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama merupakan bagian penting dari perkembangan murid.
Bu Wasil selaku Wakil Kepala Sekolah menilai bahwa upacara bendera merupakan salah satu sarana untuk menanamkan kedisiplinan dan wawasan kebangsaan kepada murid.
“Pesan mengenai value diri juga memiliki hubungan dengan wawasan kebangsaan. Setiap murid memiliki peran dan tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang baik. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebersihan, menghargai orang lain, membantu sesama, dan menjaga keharmonisan lingkungan” ujar Bu Wasil.
Menurutnya, mengikuti upacara dengan tertib, menghormati bendera Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, serta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan disiplin merupakan bentuk pembiasaan yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Amanat Ibu Sagita memberikan refleksi kepada mahasiswa PPL PPG Umsura yang mengikuti kegiatan upacara bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran.
Perumpamaan uang Rp100.000 yang tetap berharga meskipun dilipat, diremas, dan kusut menunjukkan bahwa nilai tidak selalu ditentukan oleh kondisi yang terlihat dari luar.
Begitu pula dengan murid. Tentunya setiap anak memiliki potensi dan nilai dalam dirinya yang dapat berkembang apabila mendapatkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung.
“Sebagai calon pendidik, saya melihat bahwa guru memiliki peran bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun kebiasaan positif. Hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan, membantu orang lain, disiplin, dan bertanggung jawab dapat menjadi pembelajaran karakter yang bermakna bagi murid” tutur Desinta (Mahamurid)
Amanat Ibu Sagita juga memiliki keterkaitan dengan wawasan kebangsaan. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari dapat menjadi dasar bagi murid untuk memahami dan menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan.
Sikap membantu orang lain mencerminkan kepedulian sosial. Menjaga kebersihan lingkungan menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan bersama. Menghormati guru dan sesama merupakan bentuk sikap saling menghargai.
Sementara itu, kedisiplinan dalam menjalankan kewajiban membentuk pribadi yang bertanggung jawab.
Wawasan kebangsaan dengan demikian tidak hanya dipahami melalui teori, tetapi juga dapat diterapkan melalui tindakan sederhana di lingkungan sekolah. Murid belajar bahwa menjadi bagian dari bangsa Indonesia berarti memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama serta mampu memberikan kontribusi positif.





0 Tanggapan
Empty Comments