Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Muhammadiyah 1 Menganti Gelar Bimtek Peningkatan Kompetensi Pendidik dalam Menangani PDBK

Iklan Landscape Smamda
SD Muhammadiyah 1 Menganti Gelar Bimtek Peningkatan Kompetensi Pendidik dalam Menangani PDBK
Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Pendidik SD Muhammadiyah 1 Menganti yang menangani PDBK/PDPD, Sabtu (19/9/2026). (Faradilla Nur Aulia Rahma/PWMU.CO).
pwmu.co -

Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti menggelar Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Pendidik yang Menangani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)/Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD), Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam meningkatkan kompetensi seluruh pendidik agar mampu memberikan layanan pendidikan yang inklusif, ramah, dan sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPPI) Tahun 2026 yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Penyelenggara Pendidikan Inklusif

SD Muhammadiyah 1 Menganti menjadi bagian dari 52 satuan pendidikan di Indonesia yang terpilih dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti, Ma’rifah Ramadhona SPd.

Agenda kemudian berlanjut dengan sambutan oleh Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Menganti, Bambang Sumantri MPd

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Pimpinan Cabang Muhammadiyah Menganti Bidang Pendidikan, Drs Suroso.

Dalam sambutannya, Suroso sekaligus membuka rangkaian program SPPPI Tahun 2026 yang ke depan akan dilanjutkan dengan berbagai program pengembangan dan penguatan pendidikan inklusif di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti.

Bimbingan teknis kali ini menghadirkan Sutiyah SPd atau yang akrab disapa Ustadzah Tiyah, sebagai narasumber.

Sebelum menjabat Kepala SD Muhammadiyah 20 Surabaya, Ustadzah Tiyah aktif sebagai koordinator bidang inklusi sekaligus penggiat pendidikan inklusif di Sekolah Kreatif 20 Surabaya.

Dalam kegiatan tersebut, para guru tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis. Tetapi juga diajak membedah worksheet guru untuk PDBK serta menyusun berbagai administrasi yang dibutuhkan dalam pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus.

Materi disampaikan secara praktis dengan mengacu pada berbagai pengalaman dan data konkret yang ditemui di lapangan.

Bimbingan teknis ini tidak sekadar menjadi kegiatan pelatihan formal. Tetapi juga menjadi ruang bagi para pendidik untuk memahami aspek emosional, psikologis, dan praktik pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus.

“Pendidikan khusus bukan hanya tempat saja, tapi layanan dan sikap yang tulus ikhlas dengan cinta. Karena guru hebat untuk anak istimewa” ujar Ustadzah Tiyah.

Menurutnya, pendidikan khusus tidak semata-mata berbicara mengenai tempat atau fasilitas, tetapi lebih jauh tentang layanan dan sikap yang diberikan kepada peserta didik.

SMPM 5 Pucang SBY

Menjadi guru bagi anak berkebutuhan khusus, menurutnya, bukan hanya persoalan latar belakang pendidikan maupun lamanya seseorang menempuh pendidikan.

Melainkan tentang seberapa besar kepedulian dan ketulusan hati dalam mendampingi anak-anak tersebut bertumbuh dan berkembang.

Ajak Kenali Dinamika Pendampingan

Selain membekali pendidik dengan pengetahuan dan keterampilan, Ustadzah Tiyah juga mengajak para guru untuk memahami berbagai dinamika yang muncul ketika mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus.

Berbagai tantangan yang ditemui di lapangan tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai konsekuensi. Tetapi juga sebagai bagian dari proses dan pengalaman berharga bagi guru dalam membersamai peserta didik.

Ia menekankan pentingnya pendidik memahami kondisi emosional peserta didik berkebutuhan khusus. Namun, pemahaman tersebut tidak berhenti pada kondisi anak.

Guru juga perlu menjaga kondisi emosional dan psikologis dirinya sendiri agar dapat tetap tenang, sabar, dan mampu memberikan pendampingan secara optimal.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif juga membutuhkan keterlibatan orang tua.

Karena itu, pendidik perlu membangun komunikasi dan memberikan dukungan kepada orang tua agar proses pendampingan peserta didik dapat berjalan secara berkesinambungan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat budaya pendidikan inklusif di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti.

Peningkatan kompetensi pendidik diharapkan tidak hanya berdampak pada kemampuan teknis guru, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap karakter, kebutuhan, serta potensi setiap peserta didik.

“Harapannya semoga program ini bisa meningkatkan kompetensi pendidik dalam mendekatkan diri dan memahami siswa hebat” harap Cecillia Diah Pitaloka, yang akrab disapa Ustadzah Cecil, selaku Guru Pendamping Khusus (GPK)/Shadow Teacher.

Melalui pelaksanaan program SPPPI Tahun 2026 ini, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pendidikan yang mampu memberikan ruang tumbuh bagi seluruh peserta didik, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.

Sehingga setiap anak dapat berproses secara optimal dalam lingkungan sekolah yang inklusif.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 22/09/2026 01:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu