Memaafkan tidak selalu mudah. Apalagi ketika yang menyakiti adalah orang yang seharusnya menghormati kita. Kata-katanya menusuk. Sikapnya merendahkan. Tuduhannya terasa tidak adil.
Pada saat seperti itu, membalas sering terasa lebih mudah daripada memaafkan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak justru tampak ketika seseorang mampu menahan diri saat memiliki kesempatan untuk membalas.
Abdullah bin Zubair menjelaskan tentang firman Allah dalam Surat al-A’raf ayat 199: “Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.”
Ayat itu berbunyi:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Pesannya sederhana, tetapi tidak ringan untuk dijalankan: maafkan, ajak kepada kebaikan, dan jangan larut dalam perilaku orang yang tidak bijaksana.
Teladan itu terlihat dalam kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Umar dikenal sebagai sosok yang tegas. Suatu ketika, seorang lelaki bernama ‘Uyainah masuk ke majelisnya. Ia justru memaki Umar dan melontarkan tuduhan yang menyakitkan.
Umar sempat tersulut. Ia hampir membalas perlakuan itu dengan kemarahan. Namun, seorang sahabat bernama al-Hurr segera mengingatkan:
“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ Dan ini termasuk orang-orang bodoh.”
Umar pun berhenti. Ayat Allah membuat kemarahannya mereda. Ia menahan diri.
Begitulah generasi terbaik memberikan pelajaran. Bukan bahwa mereka tidak pernah marah. Bukan pula bahwa mereka tidak memiliki keberanian untuk membalas. Justru karena mereka mampu marah, tetapi memilih menahan diri.
Dalam kehidupan kita, bentuknya mungkin lebih sederhana. Seseorang menulis komentar kasar di media sosial. Kita tergoda membalas dengan kalimat yang lebih tajam.
Seorang teman menyampaikan cerita yang tidak benar tentang kita. Jari sudah ingin mengetik klarifikasi panjang.
Di tempat kerja, seseorang mengambil hasil kerja kita lalu mengakuinya sebagai miliknya. Hati mendidih.
Di dalam keluarga pun begitu. Kadang orang yang paling dekat justru menjadi orang yang paling mudah melukai.
Pada saat seperti itu, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah pilihan. Mau membalas atau menahan diri? Mau memperpanjang persoalan atau mengakhirinya? Mau memenangkan pertengkaran atau menjaga hati?
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga tidak selalu berarti membiarkan kezaliman terus terjadi.
Tetapi memaafkan berarti tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan bagi kita untuk ikut menjadi buruk. Di situlah letak kemuliaannya.
Orang yang kuat bukan hanya orang yang mampu membalas. Kadang kekuatan terbesar justru terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi memilih memaafkan karena mengingat Allah.
Umar telah memberi contoh. Kemarahannya berhenti ketika ayat Allah mengingatkannya.
Semoga kita pun demikian. Ketika hati mulai panas, semoga kita masih memiliki ruang untuk mengingat Allah. Ketika ingin membalas, semoga kita teringat bahwa menahan diri juga merupakan kemenangan.
Semoga Allah melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments