Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Kebaikan Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan

Iklan Landscape Smamda
Ketika Kebaikan Terlalu Sibuk Mencari Pengakuan
Ilustrasi: OpenAI

Kita sedang hidup di zaman ketika banyak orang tidak cukup hanya berbuat. Mereka ingin dilihat. Tidak cukup membantu. Harus diketahui.

Tidak cukup mengabdi. Harus dipuji. Tidak cukup mendapat penghargaan.Harus diumumkan.

Pelan-pelan, pengakuan manusia menjadi kebutuhan. Bahkan kadang lebih dicari daripada keridaan Allah.

Ada orang yang tidak pernah lelah bercerita tentang apa yang telah dilakukannya. Tentang pengorbanannya. Tentang jasanya. Tentang bantuan yang pernah diberikannya. Tentang penghargaan yang pernah diterimanya.

Semua perlu diketahui. Semua perlu dicatat. Semua perlu dipublikasikan. Padahal tidak semua orang membutuhkan cerita itu. Sebagian bahkan tidak ingin mendengarnya.

Tetapi cerita terus diulang. Karena yang sebenarnya ingin diyakinkan bukan orang lain. Melainkan diri sendiri. Bahwa dirinya penting. Bahwa dirinya berjasa. Bahwa dirinya layak dihargai. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.

Islam tidak melarang seseorang mendapatkan penghargaan. Tidak pula melarang orang menceritakan prestasi untuk kepentingan yang baik.

Tetapi ada garis tipis yang sering tidak kita sadari. Antara menyampaikan kebaikan dan memamerkan kebaikan. Antara bersyukur dan membanggakan diri. Antara menginspirasi dan mencari tepuk tangan.

Al-Qur’an mengingatkan tentang orang-orang yang senang dipuji atas sesuatu yang sebenarnya tidak mereka lakukan.

Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan…” (QS Ali Imran: 188).

Ayat ini terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Sebab zaman sekarang menyediakan begitu banyak panggung.

Media sosial adalah salah satunya. Satu kebaikan dapat segera dipotret. Satu bantuan dapat segera diunggah. Satu penghargaan dapat segera diumumkan. Satu keberhasilan dapat segera dipublikasikan.

Tidak selalu salah. Tetapi kita perlu bertanya kepada diri sendiri. Untuk siapa semua itu?Untuk memberi manfaat?

Atau untuk mendapatkan pengakuan? Untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan? Atau agar orang lain tahu bahwa kita sudah berbuat baik?

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya bisa sangat menentukan.

***

Rasulullah saw mengingatkan tentang bahaya riya. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman bahwa Dia tidak membutuhkan sekutu dalam suatu amal.

Siapa yang melakukan suatu amal dan mempersekutukan selain-Nya dalam amal itu, Allah meninggalkan amal tersebut dan orang yang menyekutukan-Nya itu. (HR Muslim)

Betapa berat peringatannya. Amal yang secara lahiriah terlihat baik bisa kehilangan nilainya ketika orientasinya bergeser.

Bukan lagi karena Allah. Melainkan karena manusia. Ingin disebut. Ingin dipuji. Ingin dianggap berjasa. Ingin menjadi yang paling menonjol. Di titik ini, kita patut melihat zaman dengan lebih jernih.

Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa akan datang masa ketika manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Dalam hadis tentang tanda-tanda Kiamat, disebutkan bahwa orang-orang yang dahulu miskin dan menggembala akan berlomba-lomba dalam membangun bangunan yang tinggi. (HR Bukhari dan Muslim)

Tentu hadis itu tidak berarti setiap gedung tinggi adalah tanda keburukan. Yang perlu direnungkan adalah semangat perlombaannya. Berlomba menunjukkan siapa yang lebih besar.

Siapa yang lebih hebat. Siapa yang lebih kaya. Siapa yang lebih berpengaruh. Siapa yang lebih mendapatkan pengakuan.

Hari ini perlombaan itu tidak hanya berlangsung dalam bentuk bangunan. Ia juga terjadi di ruang sosial. Jumlah pengikut. Jumlah penghargaan. Jumlah kegiatan. Jumlah pemberitaan.Jumlah orang yang hadir. Jumlah orang yang menyebut nama kita.

Seolah-olah nilai seseorang dapat dihitung dari seberapa banyak orang yang mengakuinya.

Padahal Allah tidak menilai manusia dengan ukuran itu. Allah melihat hati dan amalnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

***

Mungkin karena itu kita perlu berhenti sejenak. Menepi dari keramaian. Bertanya kepada diri sendiri. Mengapa kita begitu membutuhkan pengakuan?

Mengapa kita kecewa ketika kebaikan kita tidak disebut? Mengapa kita merasa kurang ketika penghargaan tidak datang?

Mengapa kita harus terus mengingatkan orang lain tentang apa yang telah kita lakukan?

Jangan-jangan kita sedang membangun sesuatu yang hanya terlihat oleh manusia. Sementara yang seharusnya kita bangun adalah sesuatu yang dilihat Allah.

Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Tidak semua pengabdian harus diberitakan.Tidak semua jasa harus diingatkan kembali.

Ada kebaikan yang justru menjadi indah karena tidak diketahui siapa-siapa. Ada sedekah yang hanya diketahui oleh tangan yang memberi dan Allah.

Ada air mata dalam doa yang tidak pernah masuk kamera. Ada pengorbanan yang tidak pernah mendapatkan piagam. Ada orang-orang yang bekerja bertahun-tahun tanpa pernah meminta disebut.

Mereka mungkin tidak terkenal di bumi. Tetapi boleh jadi sangat dikenal di langit.

Kita sering sibuk membangun nama. Padahal yang seharusnya kita bangun adalah amal. Kita sibuk menjaga citra. Padahal yang lebih penting adalah menjaga hati.

Kita takut tidak dipuji manusia. Padahal yang semestinya kita takutkan adalah tidak diterima Allah.

Akhir zaman mungkin bukan hanya tentang semakin banyaknya kerusakan yang terlihat.

Bisa jadi ia juga tentang perubahan ukuran dalam diri manusia. Yang penting bukan lagi benar atau salah. Tetapi terlihat atau tidak terlihat.

Bukan lagi ikhlas atau tidak. Tetapi dipuji atau tidak. Bukan lagi bermanfaat atau tidak. Tetapi viral atau tidak.

Di tengah zaman seperti itu, menjaga keikhlasan menjadi perjuangan. Tidak mudah. Sebab manusia memang senang dipuji.

Tetapi orang beriman harus belajar satu hal. Tidak semua yang membuat kita terkenal membuat kita mulia. Dan tidak semua yang tidak diketahui manusia berarti tidak bernilai.

Boleh jadi amal yang paling kecil di mata manusia justru paling besar di sisi Allah.

Sebaliknya, boleh jadi sesuatu yang paling ramai dipuji manusia justru kosong di hadapan-Nya.

Maka sebelum mencari pengakuan manusia, mungkin kita perlu bertanya: Apakah Allah mengakui amal kita?

Sebab pada akhirnya, semua panggung akan ditinggalkan. Tepuk tangan akan berhenti.

Nama akan dilupakan. Penghargaan akan berdebu. Foto akan tenggelam oleh foto-foto baru.

Yang tersisa hanya amal. Dan di hadapan Allah, kita tidak membawa jumlah pujian.

Kita membawa apa yang benar-benar pernah kita kerjakan. Di situlah manusia akhirnya mengetahui.

Bahwa pengakuan paling penting bukan datang dari manusia. Melainkan dari Allah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/09/2026 14:46
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu