Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Harumkan Nama Smamuga, Fauziah Raih Juara 1 Pencak Silat Surabaya Championship II 2026

Iklan Landscape Smamda
Harumkan Nama Smamuga, Fauziah Raih Juara 1 Pencak Silat Surabaya Championship II 2026
Fauziah Indah Rosyidani siswi kelas X-E2 Smamuga dari Tapak Suci, Tulangan Fighter Team, Sukses mendapatkan medali Emas dalam kejuaraan Pencak Silat Surabaya Championship II Tahun 2026 (Zulkifli/PWMU.CO)
pwmu.co -

Tangan wasit terangkat. Pertandingan usai. Di tengah riuh suasana GOR Hayam Wuruk Kodam V Brawijaya, Fauziah Indah Rosyidahani memastikan satu hal: dirinya keluar sebagai juara.

Siswi kelas X.E2 SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo (Smamuga) itu berhasil meraih Juara 1 Tanding Kelas H Putri Tingkat Remaja pada Kejuaraan Pencak Silat Surabaya Championship II Tahun 2026 yang berlangsung 12–13 September 2026.

Namun, bagi Fauziah, kemenangan tersebut bukan sekadar tentang medali emas.

“Merasa bangga, tetapi tetap tidak merasa paling baik,” ujarnya kepada PWMU.CO saat diwawancarai Selasa (15/9/2026) melalui WhatsApp pribadinya ketika ditanya apa yang pertama kali terlintas di pikirannya setelah dinyatakan sebagai juara.

Kalimat sederhana itu menggambarkan cara Fauziah memandang sebuah prestasi. Menang bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru kemenangan menjadi pengingat bahwa masih ada perjalanan panjang yang harus ditempuh.

Di balik keberhasilan Fauziah berdiri dua sosok yang selalu menjadi tempatnya kembali: ayah dan ibunya.

Setiap kali berhasil ataupun menghadapi sesuatu yang kurang baik, orang tua menjadi orang pertama yang ingin ia kabari. Begitu pula setelah memperoleh medali emas Surabaya Championship II 2026.

“Orang tua saya. Yang saya peluk biasanya memang pelatih dan teman. Ketika orang tua saya tidak datang, saya langsung telepon Mama untuk memberikan berita yang baik maupun kurang baik,” tuturnya.

Dukungan orang tua bukan sekadar doa. Selama Fauziah menekuni pencak silat, mereka turut memenuhi berbagai kebutuhan latihan dan pertandingan, mulai dari peralatan silat, biaya pendaftaran, uang saku, hingga kebutuhan lainnya.

Fauziah merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya merupakan pensiunan karyawan swasta yang kini memiliki toko di rumah, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga sekaligus membantu menjaga toko.

Menariknya, kecintaan Fauziah terhadap pencak silat berawal dari sebuah ketidaksengajaan.

“Karena sedari dahulu saya kenal silat dengan tidak sengaja, dan berakhir saya memiliki banyak mimpi di pencak silat ini,” katanya.

Kini, pencak silat bukan lagi sekadar aktivitas olahraga baginya. Latihan, pertandingan, kemenangan, bahkan rasa lelah telah menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya.

Fauziah berlatih bersama Tapak Suci, Tulangan Fighter Team. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMP Muhammadiyah 5 Tulangan.

Pengalaman mengikuti berbagai pertandingan membuat rasa gugup yang dulu sering muncul perlahan berkurang.

“Pasti (gugup), tapi sudah tidak seperti dahulu karena sudah terbiasa bertanding,” ungkapnya.

Di tengah pertandingan yang sengit, Fauziah berusaha menjaga ketenangan. Pesan pelatih yang paling ia ingat adalah tetap tenang, tidak terburu-buru, menjaga fokus, dan mengatur napas.

Pesan itu pula yang menjadi pegangan ketika menghadapi lawan di Surabaya Championship II 2026.

“Alhamdulillah, saya diberi kemudahan saat bertanding sehingga saya merasa tidak terlalu berat untuk mengalahkan lawan,” ujarnya.

Menjadi atlet sekaligus siswi SMA tentu bukan perkara mudah.

Sebagai siswi kelas X yang masih beradaptasi dengan lingkungan dan ritme belajar baru, Fauziah harus pandai membagi waktu. Hari-harinya dipenuhi aktivitas yang cukup padat.

Pagi hingga sore ia berada di sekolah. Setelah itu, ia beristirahat sebentar sebelum melanjutkan kegiatan les di Krian hingga sekitar pukul 20.00. Perjalanan belum selesai. Dari Krian, ia kembali ke Tulangan untuk menjalani latihan pencak silat hingga sekitar pukul 22.00.

“Masih sangat sulit, tapi saya juga belajar membagi waktu meskipun ada mengeluhnya,” katanya.

Tidak jarang tugas sekolah belum sempat dikerjakan. Namun, Fauziah berusaha mencari waktu untuk menyelesaikannya sepulang sekolah atau ketika terdapat jam kosong.

Di sinilah perjuangan seorang pelajar sekaligus atlet benar-benar diuji: tetap mengejar prestasi tanpa meninggalkan kewajiban sebagai pelajar.

Rasa lelah dan keinginan untuk menyerah pun pernah datang. Bahkan bukan sekali.

“Pernah dan selalu,” jawab Fauziah ketika ditanya apakah ia pernah merasa ingin menyerah selama masa persiapan.

Lalu apa yang membuatnya kembali bangkit?

“Saya yang memulai dan saya ingat tujuan awal saya mengikuti kegiatan ini.”

Jawaban tersebut menunjukkan alasan Fauziah memilih bertahan. Ketika tubuh lelah dan latihan terasa berat, ia kembali mengingat tujuan yang sejak awal ingin dicapainya.

Salah satu tantangan yang paling sulit baginya adalah menjaga berat badan agar tetap sesuai dengan kategori pertandingan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Menjaga berat badan sangat susah,” katanya.

Bagi atlet pencak silat, menjaga kondisi tubuh menjadi bagian penting dari persiapan. Karena itu, disiplin tidak hanya dibutuhkan ketika berada di gelanggang, tetapi juga dalam keseharian.

Medali emas Surabaya Championship II 2026 tidak ia klaim sebagai keberhasilan seorang diri.

Fauziah menyebut prestasi tersebut dipersembahkan untuk dirinya sendiri, pelatih, dan terutama orang tua.

Selain orang tua, pelatih menjadi sosok penting dalam perjalanan prestasinya. Ia mengapresiasi kesabaran pelatih yang terus memberikan dan mengingatkan materi latihan, mendorong semangat, serta tetap mendampingi tanpa mengeluh.

Dukungan juga datang dari saudara, teman sekelas, sahabat, serta para guru yang memberikan semangat ketika ia menang maupun kalah.

“Yang utama dan pertama adalah orang tua yang mensupport luar biasa. Yang kedua pelatih yang sudah memberikan dan mengingatkan materi tanpa mengeluh atau capek, mendorong semangat lebih. Yang ketiga orang-orang terdekat yang telah mensupport saya di kala saya mau menang maupun kalah,” jelasnya.

Di luar gelanggang pencak silat, Fauziah menyimpan mimpi lain. Ia bercita-cita untuk study abroad atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Mimpi tersebut berjalan berdampingan dengan kecintaannya terhadap pencak silat.

Motto hidupnya pun sederhana, tetapi sarat makna: “Belajar, belajar, terus belajar.”

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga dan pendidikan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama ada kemauan untuk berusaha dan belajar mengatur waktu.

Setelah meraih emas di Surabaya Championship II 2026, Fauziah tidak ingin berhenti.

Ia sudah mempersiapkan target berikutnya. Dalam waktu dekat, ia akan mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) 2026 di Ngawi.

“Bismillahirrahmanirrahim, di langkah berikutnya saya mengikuti pertandingan POPDA 2026 di Ngawi,” katanya.

Perjalanan Fauziah masih panjang. Medali emas yang baru saja diraihnya bukan garis akhir, melainkan salah satu pijakan untuk melangkah menuju target-target berikutnya.

Ia telah belajar bahwa kemenangan membutuhkan latihan, ketekunan, keberanian, dan dukungan banyak orang.

Dan mungkin, seperti motto hidup yang terus ia pegang, perjalanan itu memang sesederhana tiga kata: belajar, belajar, terus belajar.

Sebagai siswi Smamuga yang membawa nama sekolah dalam kompetisi, Fauziah juga menyampaikan harapan kepada sekolah.

Ia berharap sekolah dapat memberikan perhatian dan apresiasi lebih kepada siswa-siswi yang mengikuti perlombaan dan membawa nama baik sekolah.

“Jika ada murid yang ingin berlomba, sekolah bisa membantu dengan uang pendaftaran atau dengan apresiasi terhadap siswa-siswi tersebut. Jadi siswa-siswi merasa bahwa mereka tidak sia-sia mengharumkan nama sekolah dengan baik, dengan segala effort yang diberikan untuk sekolah,” ungkapnya.

Bagi Fauziah, apresiasi tersebut bukan semata-mata persoalan materi. Dukungan sekolah dapat menjadi bentuk penghargaan sekaligus penyemangat agar siswa semakin berani mengembangkan potensi dan meraih prestasi.

Kini, satu medali emas telah berada di tangannya. Namun, di balik kilau medali itu tersimpan cerita tentang latihan hingga malam, tugas sekolah yang harus dikejar, rasa lelah yang berkali-kali datang, serta dukungan orang tua, pelatih, teman, dan guru.

Fauziah Indah Rosyidahani mungkin baru memulai perjalanan panjangnya di kelas X. Tetapi satu hal sudah jelas: ia tidak sedang berjalan tanpa tujuan.

Wali Kelas X-E2 Smamuga, Zainal Abidin, S.Mat., turut mengapresiasi prestasi yang diraih Fauziah Indah Rosyidahani. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi teman-teman sekelasnya untuk berani mengembangkan potensi masing-masing.

Ia berharap Fauziah tidak cepat berpuas diri setelah meraih juara 1. Prestasi tersebut hendaknya menjadi penyemangat untuk terus belajar, berlatih, dan meningkatkan kemampuan, baik di bidang olahraga maupun akademik.

“Prestasi ini tentu membanggakan. Semoga Fauziah tetap rendah hati, terus semangat berlatih, tidak melupakan kewajibannya sebagai pelajar, dan mampu membagi waktu dengan baik antara sekolah dan latihan,” pesan Pak Jay sapaan akrab guru Matematika itu.

Ia juga berharap keberhasilan Fauziah dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswi Smamuga lainnya bahwa prestasi dapat diraih melalui proses, kedisiplinan, kerja keras, dan dukungan dari berbagai pihak.

“Teruslah berjuang dan jangan takut memiliki mimpi besar. Jadikan setiap pertandingan sebagai pengalaman untuk belajar dan berkembang. Semoga prestasi Fauziah terus berlanjut dan dapat membawa nama baik Smamuga di ajang-ajang berikutnya,” tambahnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/09/2026 21:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu