Pukul 08.00 waktu Guangzhou. Sarapan baru saja selesai. Rombongan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah segera bergerak menuju sebuah sekolah yang berada di tengah hiruk-pikuk Kota Guangzhou, China.
Namanya Xiehe School. Sekolah ini bukan sekolah baru. Sudah berdiri sejak 1911. Usianya kini sekitar 115 tahun. Namun pagi itu, suasana di sekolah tersebut jauh dari kesan tua.
Sekitar pukul 08.30, rombongan tiba. Sejumlah pimpinan sekolah, perguruan tinggi, Dinas Pendidikan Guangzhou, serta atase pendidikan China dan Indonesia sudah menunggu.
Foto bersama menjadi pembuka perjumpaan. Tetapi yang segera menarik perhatian justru bukan seremoni itu. Dari halaman sekolah terdengar aktivitas para siswa. Mereka sedang berolahraga pagi.
Seluruh siswa mengikuti kegiatan tersebut sekitar 15 menit sebelum masuk kelas. Sebuah kebiasaan sederhana.
Tetapi dari sana terlihat satu hal: pendidikan di Xiehe tidak dimulai hanya dengan buku.
Tubuh lebih dulu digerakkan. Baru kemudian pikiran diajak bekerja.

Sekolah Tua, Aktivitas Padat
Xiehe School berdiri di atas lahan sekitar 7.000 meter persegi di tengah Kota Guangzhou. Di kawasan kota yang padat, lahan sebesar itu terasa tidak biasa.
Sekolah ini mengelola tiga jenjang pendidikan sekaligus: sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Total siswanya sekitar 4.000 orang. Guru yang mendampingi mereka sekitar 300 orang.
Terutama bagi siswa SMA, kehidupan sekolah berlangsung lebih panjang. Mereka diwajibkan tinggal di asrama. Aktivitas belajar dimulai pukul 07.00 dan baru berakhir pukul 22.00.
Disiplin bukan sekadar aturan yang tertulis. Ia menjadi bagian dari ritme kehidupan siswa. Pagi dimulai dengan olahraga. Hari berlanjut dengan pembelajaran. Malam pun masih diisi aktivitas belajar.
Setelah menyaksikan olahraga pagi, rombongan diarahkan menuju sebuah ruangan khusus untuk conference. Ruangannya membuat rombongan terkesan. Ditata indah, menyerupai gedung teater. Di ruangan itulah perjumpaan berlangsung.
Kepala sekolah, pihak yayasan, Kepala Dinas Pendidikan Guangzhou, serta atase pendidikan China dan Indonesia menyampaikan sambutan.
Dari pihak Muhammadiyah, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah Alpha Amirrachman, Ph.D menyampaikan terima kasih atas sambutan Xiehe School. Dia juga memperkenalkan secara singkat kiprah Muhammadiyah di Indonesia.
Perjumpaan itu kemudian membawa rombongan pada satu kata yang menjadi ruh Xiehe School: harmoni.
Sekolah ini mengusung pendidikan yang menekankan harmoni dalam kehidupan dengan alam, berpegang teguh pada kebenaran, serta menyiapkan generasi muda yang mandiri dan berkarakter.
Ada enam karakteristik harmoni yang dibudidayakan di sekolah tersebut. Sehat jasmani dan rohani. Mencintai negara sendiri. Mencintai kesenian. Mencintai sains. Peduli ekologi. Serta belajar dengan hati dan bermoral.
Enam nilai itu bukan sekadar daftar yang dipajang. Semua mata pelajaran di Xiehe School diarahkan untuk selaras dengan enam budaya harmoni tersebut.
Matematika, sains, bahasa, kesenian, maupun pelajaran lainnya tidak berdiri sendiri. Semuanya dihubungkan dengan karakter.
Sebab bagi Xiehe, pendidikan bukan hanya perkara seberapa banyak pengetahuan yang masuk ke kepala. Tetapi juga bagaimana pengetahuan itu membentuk manusia.

Kejujuran yang Membebaskan
Ada satu prinsip yang menarik dari filosofi sekolah ini. Kejujuran harus menjadi bagian dari harmoni. Sederhana. Tetapi tidak selalu mudah dilakukan.
Sekolah meyakini bahwa ketika kejujuran dijalankan, kebenaran akan hadir sebagai sesuatu yang membebaskan.
Di titik ini, pendidikan tidak lagi sekadar menyiapkan anak untuk lulus ujian. Ia menyiapkan mereka untuk menjalani kehidupan. Mandiri. Berkarakter. Sehat secara jasmani dan rohani. Dan mampu hidup selaras dengan lingkungan.
Setelah pertemuan resmi selesai, rombongan tidak langsung meninggalkan sekolah. Beberapa siswa datang. Mereka menjadi pemandu.
Salah satunya siswa kelas tiga SMP. Dengan percaya diri mereka menjelaskan berbagai hal yang ada di lingkungan sekolah. Para tamu dari Indonesia pun mengikuti langkah mereka.
Di sini ada sisi lain yang menarik. Anak-anak yang biasanya menjadi objek pendidikan justru mengambil posisi sebagai orang yang menjelaskan sekolahnya kepada tamu. Mereka berjalan. Menunjukkan fasilitas. Bercerita. Menjawab pertanyaan.
Sekolah pun tidak lagi dijelaskan oleh kepala sekolah. Ia dijelaskan oleh murid-muridnya sendiri. Seolah-olah para siswa sedang mengatakan kepada tamu: Inilah sekolah kami.

Kolam Ikan yang Menjadi Ruang Belajar
Xiehe School ternyata tidak hanya mengandalkan gedung dan fasilitas. Di berbagai sudut sekolah terdapat kolam ikan. Bukan sekadar untuk mempercantik lingkungan. Kolam itu dimanfaatkan sebagai media belajar bersama anak-anak.
Di sana alam hadir bukan sebagai sesuatu yang hanya dibicarakan di dalam kelas. Alam bisa dilihat. Diamati. Dirawat. Dipelajari.
Ekologi menjadi pengalaman, bukan sekadar teori. Barangkali di situlah makna harmoni yang ingin dibangun Xiehe.
Anak-anak tidak hanya diajari untuk memahami alam. Mereka juga diajak hidup bersamanya.
Menjelang akhir kunjungan, rombongan dan tuan rumah melakukan pertukaran oleh-oleh. Foto bersama kembali dilakukan. Kali ini suasananya terasa berbeda.
Rombongan tidak lagi sekadar tamu yang baru datang. Mereka sudah melihat ruang-ruang belajar Xiehe. Melihat siswa berolahraga pada pagi hari.
Melihat bagaimana sekolah dengan sekitar 4.000 siswa menjalankan pendidikan. Mendengar filosofi harmoni. Menyaksikan siswa menjadi pemandu. Dan melihat kolam ikan yang berubah menjadi ruang belajar.
Xiehe School telah melewati lebih dari satu abad. Awalnya, sekolah ini merupakan tempat pendidikan guru dan hanya menerima murid perempuan.
Kini, ia telah berkembang menjadi sekolah yang mengelola jenjang SD, SMP, dan SMA dengan sekitar 4.000 siswa dan 300 guru.
Zaman berubah. Sekolah berubah. Tetapi satu hal tetap dicari: bagaimana pendidikan membentuk manusia.
Pagi itu, di tengah Guangzhou, rombongan Muhammadiyah seperti menemukan satu pelajaran yang sederhana.
Sekolah bukan hanya tempat anak-anak belajar menjadi pintar. Sekolah adalah tempat mereka belajar menjadi manusia.
Belajar menjaga tubuh. Belajar menggunakan ilmu. Belajar mencintai negeri. Belajar menghargai seni dan sains. Belajar merawat alam. Belajar dengan hati.
Dan yang paling penting: belajar hidup dalam harmoni. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments