Terlebih, ada jaminan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada dirinya, sesuai firman Nya, “…Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”(QS. At- Talaq: 4).
Keempat, kesabaran dan ketabahan. Seorang muslim sebagai hamba Allah Azza Wa Jalla yang memiliki kesabaran dan ketabahan luar biasa tidak akan membuat dirinya mengeluh dan berkata capek, baik dalam beribadah, bekerja, berikhtiar, berdakwah dan berjuang pada situasi dan kondisi apapun.
Hal ini yang ditunjukkan oleh para nabi dan rasul dalam berdakwah mengajak umat manusia agar mereka menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melaksanakan perintah dan menjauh kan larangan-Nya.
Nabi Nuh alaihi sallam hingga berusia 950 tahun melakukan dakwah mengajak dan membina umat manusia.
Selama hidupnya yang panjang itu, Nabi Nuh alaihi sallam tidak pernah mengeluh dan berkata capek atau lelah karenanya.
Dia terus saja menjalankan tugas dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam berdakwah mengajak umat manusia pada zamannya agar mereka bertauhid dan hanya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. (QS. Al Araf:59).
Menghadapi sikap dan celaan dari kaumnya yang kafir terhadap dakwahnya, Nabi Nuh alaihi sallam tetap saja melaksanakan tugasnya sebagai utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Beliau terus saja melaksanakan berdakwah sesuai perin Tah Nya. Hingga beliau diwahyukan agar membu at bahtera. Beliau kerjakan saja bersama pengikutnya yang beriman dengan penuh ketabahan dan kesabaran. (QS. Hud:25-49).
Tak ada kata lelah kecuali lillah. (QS. Hud:29). Tak sedikitpun berkata “Kami capek”, dalam be kerja, berdakwah dan berjuang, kecuali beliau berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,”Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakanku. ” (QS. Al-Mu’mi nun: 26).
Kelima, istiqamah dalam melaksanakan tugas, kewajiban dan amanah yang diberikan oleh Allah. Sikap istiqamah ini yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan dakwah dan jihad di jalan Nya.
Walaupun bermacam tantangan, rintangan, ganguan dan hambat an yang dihadapi sedemikian besar, beliau tetap tegar dan istiqamah dalam menghadapinya. (QS. Al Ahqaf:13, Fushilat:30).
Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah di Thaif, ternyata mendapat tantangan dari orang-orang daerah tersebut.
Mereka melakukan kekerasan. Beliau pun terluka dan berdarah- darah Kejadian itu tidak membuat beliau menge luh, dan berkata capek. Apalagi beliau menyatakan berhenti berdakwah.
Bahkan saat Malaikat Jibril dan malaikat pen jaga gunung hendak membantu Rasulullah untuk mengazab orang-orang Thaif tersebut, beliau malah berkeberatan.
Beliau justru bersabda, “Bahkan aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari ke turunan mereka orang-orang yang menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (HR, Bukhari no 3231 dan Muslim no 1795).
Amalan Pencegah Capek
Tentu seorang muslim sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pada tempatnya ia mengeluh dan berkata capek setelah melaksanakan ibadah, pekerjaan, ikhtiar, dakwah dan perjuangan yang berat.
Karena itu agar dirinya bisa melakukan semua itu dan dapat mengendalikan diri agar tidak mengeluh dan berkata capek, ia perlu memperhatikan beberapa amalan sebagai berikut:
Pertama, berdoa. Agar supaya seorang mus lim hamba Allah Azza Wa Jalla tidak mengeluh dan berka ta capek, lebih baik sehabis dia beriba dah, bekerja, berikhtiar, berdakwah dan berjuang, maka berdoalah kepada Nya. Bacalah doa seba gai berikut:
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehi dupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).
Kedua, berdzikir. Dari pada seorang hamba mengeluh dan berkata capek, lebih baik banyak berdzikir dan mengingat Allah Azza Wa Jalla. Dengan dzikir akan menenangkan hati, (QS Ar Ra’d:28).
Dalam suatu hadits disebutkan, Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyusuri jalan kota Makkah. Lalu, beliau melewati suatu gunung (bukit) yang dinamakan, ‘Jumdaan’. Kemudian beliau bersabda, ‘Teruslah berjalan! Ini adalah Jumdan. Para Al-Mufarriduun telah mendahului (menang).’





0 Tanggapan
Empty Comments