Marah merupakan bagian dari fitrah manusia. Setiap orang pernah mengalaminya, meski dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, tidak semua kemarahan bernilai sama.
Ada kemarahan yang lahir karena membela kebenaran sehingga bernilai positif, tetapi ada pula kemarahan yang muncul karena dorongan hawa nafsu dan emosi sesaat. Jenis yang terakhir inilah yang dilarang dalam Islam karena dapat merusak diri sendiri maupun orang lain.
Orang yang dikuasai amarah biasanya kehilangan kendali. Wajah memerah, emosi memuncak, bahkan tidak sedikit yang melampiaskannya dengan ucapan maupun tindakan yang menyakiti orang lain. Ada pula yang mudah marah hanya karena persoalan sepele, tidak sabar menghadapi kekurangan orang lain, atau kecewa karena keinginannya tidak segera dipenuhi.
Sikap seperti ini termasuk akhlak tercela yang hendaknya dihindari oleh setiap muslim.
Berbeda halnya dengan kemarahan yang muncul karena membela agama atau menjaga kehormatan. Dalam Islam, hal tersebut dikenal sebagai ghirah.
Misalnya, seorang suami yang marah karena istrinya diganggu atau seorang muslim yang terusik ketika agamanya dihina. Kemarahan semacam ini dibenarkan selama tetap berada dalam batas syariat, terukur, dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan untuk melampiaskan kebencian.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat yang sangat singkat, tetapi memiliki makna mendalam.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari).
Nasihat yang diulang berkali-kali tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan amarah merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang mampu menguasai emosinya akan lebih mudah bersikap bijaksana, lapang dada, dan terhindar dari penyesalan akibat keputusan yang diambil ketika emosi menguasai diri.
Al-Qur’an bahkan menempatkan kemampuan menahan marah sebagai salah satu ciri orang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134:
“(Orang-orang yang bertakwa, yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Pada ayat tersebut, menahan amarah disejajarkan dengan kebiasaan berinfak dan memaafkan orang lain. Ketiganya menjadi karakter utama yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja marah karena disakiti, dihina, dibenci, direndahkan, atau menjadi korban perundungan. Namun, bagi orang yang menginginkan derajat takwa, semua ujian tersebut harus dihadapi dengan kesabaran dan pengendalian diri.
Kebiasaan menahan marah akan melahirkan pribadi yang pemaaf, berlapang dada, dan lebih mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain disebutkan:
“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” (HR. Abu Dawud).
Dua hadis tersebut menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan menundukkan hawa nafsu ketika amarah datang.
Menahan marah memang tidak mudah. Namun, dari sikap itulah lahir berbagai kebaikan, seperti kesabaran, kelapangan hati, kemampuan memaafkan, serta ketenangan jiwa.
Karena itu, setiap muslim hendaknya membiasakan diri untuk mengendalikan amarah, bukan membiasakan diri marah kepada orang lain, apalagi kepada mereka yang tidak bersalah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu menahan amarah, gemar memaafkan, dan memperoleh derajat takwa yang dijanjikan-Nya.





0 Tanggapan
Empty Comments