Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

AI dalam Pendidikan Kedokteran: Ikhtiar Mencerdaskan, Bukan Menggantikan Akal

Iklan Landscape Smamda
AI dalam Pendidikan Kedokteran: Ikhtiar Mencerdaskan, Bukan Menggantikan Akal
dr. Yelvi Levani. (Istimewa/PWMU.CO
Oleh : dr. Yelvi Levani, M.Sc., Sp.MK Dosen Fakultas Kedokteran Umsura, Kepala LP2IHKI Umsura

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah wajah pendidikan tinggi, termasuk di fakultas kedokteran. Kini, mahasiswa dapat memperoleh penjelasan konsep medis, merangkum jurnal, hingga menyusun kerangka tugas hanya dalam hitungan detik.

Kemudahan ini sering dipandang sebagai revolusi pembelajaran. Namun, sebagai insan akademik, kita perlu menyadari bahwa kecanggihan teknologi bukanlah alasan untuk berhenti berpikir.

AI adalah hasil dari kecerdasan manusia, bukan pengganti akal yang dianugerahkan Allah SWT. Semangat Iqra’ yang menjadi fondasi peradaban Islam mengajarkan bahwa ilmu diperoleh melalui proses membaca, berpikir, menelaah, dan merenungkan, bukan sekadar menerima jawaban secara instan.

Bagi mahasiswa kedokteran, AI memiliki potensi yang sangat besar apabila digunakan secara tepat. Teknologi ini dapat menjadi mitra belajar untuk memahami mekanisme penyakit, menganalisis hasil penelitian terbaru, berlatih menjawab soal berbasis kasus, hingga meningkatkan kemampuan menulis ilmiah dalam bahasa Inggris.

Dosen pun dapat memanfaatkannya untuk menyusun skenario pembelajaran yang lebih interaktif, membuat simulasi kasus klinis, atau memberikan umpan balik yang lebih cepat kepada mahasiswa.

Dengan demikian, AI bukanlah pesaing pendidik, melainkan alat yang memperkaya proses pembelajaran. Yang terpenting, hasil yang diberikan AI harus selalu diverifikasi dengan buku ajar, pedoman klinis, dan artikel ilmiah yang kredibel, karena dalam dunia kedokteran setiap keputusan harus berlandaskan bukti (evidence-based medicine).

Sebaliknya, penggunaan AI tanpa kendali dapat melahirkan budaya instan yang bertentangan dengan nilai-nilai keilmuan. Ketika mahasiswa hanya menyalin hasil AI tanpa memahami isinya, kemampuan berpikir kritis, bernalar ilmiah, dan memecahkan masalah akan semakin melemah.

Lebih mengkhawatirkan lagi, AI dapat menghasilkan informasi yang keliru (hallucination), mencantumkan referensi yang tidak pernah ada, atau memberikan rekomendasi yang tidak sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.

SMPM 5 Pucang SBY

Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan kedokteran hanya akan menghasilkan lulusan yang mahir menggunakan teknologi, tetapi kurang siap mengambil keputusan klinis yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Padahal, seorang dokter dituntut memiliki kompetensi ilmiah sekaligus tanggung jawab moral yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan memiliki tradisi panjang dalam menerima inovasi demi kemaslahatan umat. Semangat tajdid mengajarkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan perlu disambut dengan sikap kritis, adaptif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Oleh karena itu, pemanfaatan AI di perguruan tinggi Muhammadiyah hendaknya disertai dengan penguatan literasi digital, etika akademik, dan integritas ilmiah. Mahasiswa perlu dididik untuk menjadikan AI sebagai teman berdiskusi, bukan “penulis bayangan” yang mengerjakan seluruh tugas. Dosen juga perlu merancang pembelajaran yang lebih menekankan kemampuan analisis, diskusi, refleksi, dan pemecahan masalah nyata, sehingga penggunaan AI justru mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih mendalam, bukan semakin bergantung pada teknologi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan kedokteran bukan sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga dokter yang amanah, berintegritas, berempati, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. AI dapat membantu mempercepat akses terhadap ilmu pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan, kejujuran, maupun nurani seorang calon dokter.

Di sinilah pentingnya pendidikan yang memadukan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sebab, kemajuan teknologi akan menjadi rahmat apabila digunakan untuk memperkuat ikhtiar mencari ilmu, menebarkan kemaslahatan, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu bagi umat dan bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 21/07/2026 09:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu