Pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung nikmat Allah?
Kebanyakan dari kita akan langsung menyebut rumah yang nyaman, kendaraan baru, usaha yang berkembang, gaji yang naik, jabatan yang tinggi, atau anak yang berprestasi. Semua itu memang nikmat. Tidak ada yang salah untuk disyukuri.
Namun, persoalannya bukan di sana.
Kita sering menjadikan nikmat yang tampak sebagai ukuran utama kebahagiaan. Ketika semua itu ada, kita merasa Allah begitu dekat. Sebaliknya, ketika sebagian darinya hilang, kita merasa hidup runtuh dan seakan-akan tidak lagi memiliki apa pun.
Padahal, boleh jadi kita sedang salah menghitung nikmat Allah.
Nikmat Allah ibarat gunung es. Yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil. Justru bagian terbesar berada jauh di bawah permukaan, tidak tampak oleh mata, tetapi menyangga seluruh keberadaannya.
Begitu pula dalam kehidupan. Harta bisa dicari kembali. Jabatan dapat berganti. Popularitas bisa memudar. Bahkan kesehatan yang prima suatu hari dapat berkurang.
Namun, bagaimana dengan hidayah?
Bagaimana jika Allah tidak lagi menggerakkan hati kita untuk menghadiri majelis ilmu?
Bagaimana jika salat mulai terasa berat, Al-Qur’an berhari-hari tak lagi dibuka, atau nasihat yang dahulu membuat hati bergetar kini terdengar biasa saja?
Bukankah kehilangan itu jauh lebih besar daripada kehilangan harta?
Bayangkan dua orang. Yang pertama memiliki rumah megah, mobil mewah, dan rekening yang terus bertambah. Namun, ia tidak pernah lagi merasakan nikmat bermunajat kepada Allah.
Azan terdengar, tetapi hatinya tidak tergerak. Al-Qur’an tersimpan rapi di rak, tetapi berdebu karena lama tak disentuh.
Sementara yang kedua hidup sederhana. Rumahnya kecil, motornya tua, penghasilannya pas-pasan.
Namun, setiap kali azan berkumandang, langkahnya ringan menuju masjid. Air matanya menetes ketika membaca ayat-ayat Allah.
Ia memiliki keluarga yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan sahabat-sahabat saleh yang menguatkan imannya.
Siapakah yang sebenarnya lebih kaya?
Allah Ta’ala mengingatkan: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat Allah bukan hanya yang dapat dilihat oleh mata atau dihitung dengan angka.
Ada nikmat yang tidak pernah masuk dalam daftar syukur kita karena telah menjadi bagian dari keseharian. Napas yang masih teratur. Hati yang masih lembut menerima nasihat.
Orang tua yang masih mendoakan. Pasangan yang mendukung ketaatan. Anak-anak yang tumbuh dalam cinta kepada agama. Teman-teman yang mengingatkan ketika kita mulai lalai.
Semua itu adalah karunia yang nilainya tidak dapat diganti dengan berapa pun harta yang dimiliki.
Ironisnya, kita sering bersyukur ketika mendapat kenaikan gaji, tetapi lupa bersyukur karena Allah masih menjaga iman kita.
Kita bergembira saat membeli kendaraan baru, tetapi jarang meneteskan air mata karena Allah masih memberi kesempatan untuk bersujud.
Padahal Rasulullah saw telah mengingatkan: “Barang siapa memasuki pagi dalam keadaan aman, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis ini mengubah cara pandang kita tentang kekayaan.
Ternyata ukuran nikmat bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar karunia Allah yang masih menyertai kehidupan kita setiap hari.
Karena itu, jangan hanya mengucapkan Alhamdulillah ketika rezeki bertambah.
Ucapkan juga ketika Allah masih menjaga imanmu.
Saat hatimu masih tergerak untuk salat.
Saat Al-Qur’an masih engkau rindukan untuk dibaca.
Saat masih ada air mata yang jatuh karena takut kepada-Nya.
Saat masih dipertemukan dengan orang-orang saleh yang mengingatkanmu kepada jalan kebaikan.
Sebab, boleh jadi nikmat terbesar yang Allah berikan bukanlah sesuatu yang membuatmu paling bahagia di dunia.
Melainkan sesuatu yang kelak menyelamatkanmu ketika berdiri di hadapan-Nya pada hari akhir. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments