Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyerap Hikmah di Balik Larangan Allah

Iklan Landscape Smamda
Menyerap Hikmah di Balik Larangan Allah
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan

Dalam ushul fikih dikenal sebuah kaidah, Al-ashlu fin nahyi li at-tahrim, yang bermakna bahwa pada dasarnya setiap larangan menunjukkan hukum haram hingga terdapat dalil lain yang mengalihkannya. Karena itu, larangan Allah Swt. bukan sekadar aturan yang boleh diabaikan, melainkan petunjuk agar manusia terhindar dari kerusakan dan penderitaan.

Ketika larangan itu dilanggar, akibatnya bukan hanya dosa, tetapi juga berbagai dampak buruk dalam kehidupan. Kita dapat melihatnya pada berbagai kasus, seperti pencurian, korupsi, perzinaan, maupun bentuk kemaksiatan lainnya. Pelakunya sering kali harus menanggung berbagai konsekuensi, baik secara hukum, sosial, maupun batin.

Di antara larangan Allah Swt. yang sangat dekat dengan kehidupan setiap muslim adalah sebagai berikut.

1. Larangan Melupakan Allah Swt.

Melupakan Allah Swt. akan membuat seseorang kehilangan arah hidup. Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS Al-Hasyr: 19)

Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa orang-orang yang meninggalkan kewajiban kepada Allah akan dibuat lupa terhadap berbagai kebaikan yang dapat menyelamatkan mereka dari azab pada hari kiamat. Mereka disebut sebagai orang-orang fasik karena keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seseorang yang melupakan Allah akan mudah terjerumus dalam berbagai kemaksiatan tanpa merasa bersalah. Padahal, larangan tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah agar manusia tetap berada di jalan yang benar.

2. Larangan Berbuat Kerusakan

Islam melarang segala bentuk kerusakan (fasad). Dalam Tafsir Jalalain, kata fasad dimaknai sebagai kemaksiatan yang mencakup berbagai perbuatan, seperti zina, korupsi, pencurian, durhaka kepada orang tua, dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya.

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS Al-A’raf: 56)

Setiap bentuk kemaksiatan akan membawa dampak buruk, bukan hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat. Banyak persoalan sosial yang muncul akibat perilaku yang menyimpang dari tuntunan agama. Sebaliknya, orang-orang yang senantiasa berbuat baik akan lebih dekat dengan rahmat Allah Swt.

3. Larangan Mencampuradukkan Kebenaran dan Kebatilan

Allah Swt. juga melarang manusia mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan karena hal itu dapat menyesatkan banyak orang.

Firman Allah Swt.:

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, padahal kamu mengetahui.”
(QS Al-Baqarah: 42)

SMPM 5 Pucang SBY

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat tersebut melarang mencampurkan kebenaran agama dengan kebatilan, serta melarang menyembunyikan bukti-bukti kebenaran, termasuk kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad Saw. yang telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya.

Perbuatan mencampuradukkan yang benar dan yang salah hanya akan menjauhkan manusia dari petunjuk Allah Swt.

4. Larangan Merusak Pahala Sedekah

Sedekah merupakan wujud kepedulian terhadap sesama. Namun, pahala sedekah dapat hilang apabila disertai sikap riya, mengungkit-ungkit pemberian, atau menyakiti hati penerimanya.

Allah Swt. berfirman:

“…Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian….”
(QS Al-Baqarah: 264)

Sungguh merugi seseorang yang bersedekah hanya demi pujian manusia atau masih mengungkit pemberiannya hingga melukai hati orang yang dibantu.

5. Larangan Bersikap Sombong

Nikmat yang diberikan Allah Swt. merupakan ujian bagi setiap hamba. Orang yang berhasil melewati ujian tersebut adalah mereka yang semakin bersyukur kepada Allah dan semakin banyak berbuat baik kepada sesama.

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS Luqman: 18)

Kesombongan merupakan sifat yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Sebaliknya, seorang mukmin hendaknya memiliki sifat tawaduk dan tasamuh (lapang dada), serta menjadikan setiap nikmat sebagai sarana untuk semakin mendekat kepada Allah Swt.

Penutup

Larangan-larangan Allah Swt. bukanlah bentuk pembatasan terhadap manusia, melainkan wujud kasih sayang-Nya agar setiap hamba terhindar dari keburukan dunia maupun akhirat. Semakin seseorang memahami hikmah di balik setiap larangan, semakin tumbuh pula kesadaran untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga diri dari segala larangan-Nya dan termasuk golongan hamba yang memperoleh rahmat serta rida-Nya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 15/07/2026 01:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu