“Sejarah yang terus menerus ditulis menunjukkan bahwa sejarah itu penting”.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Jumat (7/8/2026).
Momen tersebut berlangsung pada Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 oleh MPI PP Muhammadiyah di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya.
Membuka penyampaiannya, Prof Purnawan menyoroti potret sejarah yang kini kian kurang diminati.
“Memang ada fenomena, di satu sisi, generasi yang kurang suka sejarah” terang Purnawan.
Salah satu indikasinya, menurut Purnawan, yakni kurangnya animo Mahasiswa memasuki jurusan sejarah di sejumlah kampus.
Padahal, lanjutnya, hidup manusia sehari-hari adalah tidak terlepas dari aspek sejarah.
“Jika kita hari-hari ini masih berkiprah di Muhammadiyah, itu adalah karena dampak sejarah” tegasnya.
Di samping itu, Prof Purnawan mengingatkan pentingnya menulis sejarah Muhammadiyah. Pasalnya Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, dan bahkan di dunia, memiliki rekam jejak panjang yang perlu diketahui khalayak.
“Karena kita memiliki track record. Dan Muhammadiyah memiliki heritage, bukti tertulis, dan tugas kita adalah menjaga kebesaran Muhammadiyah” tambahnya.
Lebih lanjut, ada beberapa alasan kenapa harus menuliskan sejarah Muhammadiyah.
“Kita pelan-pelan harus merebut tafsir, membuat narasi yang membuat Muhammadiyah tidak dikerdilkan” tegas Mantan Dekan FIB Unair itu.
Pertama, adalah mendokumentasikan perjalanan Muhammadiyah yang telah berusia lebih dari satu abad.
“Jangan sampai apa yang Muhammadiyah lakukan tidak tercatat” tuturnya.
Kedua, menulis sejarah juga bertujuan menjaga aset Muhammadiyah yang masih ada serta menemukan kembali aset yang sempat hilang.
“Jika tidak, ada potensi apa yang pernah diperjuangkan pendahulu kita terancam, dan bisa hilang.
Ketiga, lanjutnya, fungsi menulis sejarah adalah dalam rangka menjaga konsistensi ideologi gerakan Muhammadiyah mulai level nasional hingga akar rumput.
Keempat, memperkenalkan kiprah dan sepak terjang para tokoh Muhammadiyah kepada masyarakat luas.
“Ada banyak peristiwa kecil yang menjadi simbol bahwa tokoh-tokoh tertentu bertautan dengan Muhamadiyah” tutur pria kelahiran Banjarnegara tersebut.





0 Tanggapan
Empty Comments