Lebih dari 425 hadis telah dipelajari. Tetapi, sebanyak apa yang benar-benar tinggal dalam kehidupan?
Pertanyaan itu disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang Dr. KH. Sam’un, M.Ag, dalam Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Wage, Taman, Sidoarjo, Rabu (30/9/2026). Kajian berlangsung setelah salat Subuh berjamaah hingga waktu syuruq.
Kajian rutin tersebut membahas Fiqih Sunnah Jilid 4 karya Sayyid Sabiq. Materi telah sampai halaman 349, hadis nomor 427 dan seterusnya. Perjalanan Jilid 4 pun segera berakhir dan akan dilanjutkan dengan jilid berikutnya.
Namun, bagi Ustadz Sam’un, selesainya satu jilid bukan sekadar penanda bahwa sebuah buku telah selesai dibaca. Ada hal yang jauh lebih penting: apa yang tersisa dari ilmu itu dalam kehidupan.
“Dengan demikian kita sudah mempelajari lebih dari 425 hadis Nabi Muhammad saw. Berarti kita sudah banyak hadis yang kita pelajari. Pertanyaannya, seberapa banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dan kita amalkan atau malah sebaliknya, semua kita lupakan,” ujar Kiai Sam’un
Pertanyaan itu menjadi inti kajian. Sebab, belajar agama bukan perlombaan mengumpulkan pengetahuan. Ilmu seharusnya mengubah cara seseorang beribadah, bersikap, memperlakukan orang lain, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu materi yang dibahas adalah kewajiban mengucapkan selawat dan salam ketika nama Nabi Muhammad saw disebut.
“Dalam Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq mengutip sejumlah pendapat ulama, antara lain Thahawi dan Halimi, yang memandang pengucapan selawat ketika nama Nabi disebut sebagai kewajiban,” terang Kiai Sam’un.
Pembahasan itu diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah melalui Tirmidzi. Hadis tersebut memberikan peringatan keras kepada orang yang mendengar nama Rasulullah SAW disebut, tetapi tidak berselawat kepada beliau.
Kitab juga mencantumkan hadis dari Abu Dzar dengan pesan yang serupa.
Bagi Kiai Sam’un, pembahasan itu tidak berhenti pada persoalan hukum fikih.
“Ada kebiasaan sederhana yang bisa langsung dipraktikkan, ketika nama Rasulullah saw disebut, berselawat. Di situlah ilmu menemukan bentuknya,” papar dia.
Hadis yang sebelumnya berada di halaman buku berpindah menjadi kebiasaan lisan. Pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan berubah menjadi adab.
Ilmu Tidak Cukup Disimpan
Pesan tentang ilmu yang harus berbuah amal juga tampak dalam pembahasan QS Al-Baqarah ayat 215.
Allah SWT berfirman:
يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَاْلْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).’ Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah [2]: 215)
Menurut Kiai Sam’um, ayat tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang infak memiliki konsekuensi praktis. Ada orang-orang yang perlu diperhatikan, mulai dari orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin hingga ibnu sabil.
“Dengan kata lain, memahami ayat bukan tujuan akhir. Ada tangan yang harus bergerak. Ada harta yang harus dikeluarkan. Ada orang yang membutuhkan pertolongan,” ujar dia.
Kiai Sam’un juga mengangkat kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang mendapat ujian melalui ibunya.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa kesalehan personal tidak boleh membuat seseorang mengabaikan hak orang tua.
“Ibadah yang banyak tetap harus berjalan bersama penghormatan dan perhatian kepada mereka yang memiliki hak atas kita,” katanya.
Pembahasan kemudian dikaitkan dengan QS Al-Ahzab ayat 33–34. Ayat tersebut memuat tuntunan kepada keluarga Nabi Muhammad saw untuk menjaga ketaatan, mendirikan salat, menunaikan zakat, menaati Allah dan Rasul-Nya, serta mengingat ayat-ayat Allah dan hikmah yang dibacakan di rumah.
Rangkaian materi itu seperti mengembalikan jamaah pada pertanyaan awal: setelah sekian banyak hadis dipelajari, apa yang berubah?
Mungkin ada hadis yang masih diingat. Ada pula yang sudah terlupa. Itu bagian dari proses belajar. Tetapi yang lebih penting adalah apakah ada hadis yang kemudian mengubah kebiasaan.
Apakah setelah belajar tentang selawat, lisan menjadi lebih terbiasa berselawat? Apakah setelah belajar tentang berbakti kepada orang tua, perhatian kepada ayah dan ibu menjadi lebih baik?
Apakah setelah memahami ayat tentang infak, tangan menjadi lebih ringan membantu orang yang membutuhkan?
“Di situlah ukuran ilmu tidak lagi berada pada banyaknya halaman yang selesai dibaca, Ilmu agama memiliki nilai ketika ia menuntun amal,” ujar Kiai Sam’un.
.Kajian Rabu Pagi di Masjid Al Ikrom Wage, yang diikuti 132 jamaah, karena itu bukan sekadar perjalanan menyelesaikan Fiqih Sunnah Jilid 4 sebelum beralih ke Jilid 5.
Lebih dari itu, ia menjadi perjalanan untuk terus menguji diri: dari ratusan hadis yang telah dipelajari, berapa yang benar-benar hidup dalam perilaku?
Sebab, buku bisa selesai dibaca. Kajian bisa selesai diikuti. Bahkan hafalan bisa bertambah. Tetapi pertanyaan yang lebih panjang justru dimulai setelah itu: sudahkah ilmu menjadi amal? (*)





0 Tanggapan
Empty Comments