Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jadi Imam Salat Subuh di Rakornas Muhammadiyah, Menteri Abdul Mu’ti Bicara Empat Modal Memajukan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Jadi Imam Salat Subuh di Rakornas Muhammadiyah, Menteri Abdul Mu’ti Bicara Empat Modal Memajukan Pendidikan
Prof. Abdul Mu'ti saat menjayampaikan tausiyah di hadapan peserta RakornasMajelis (Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Foto" M/ Sholihin/PWMU.CO
pwmu.co -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed, mengawali hari terakhir Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan menjadi imam salat subuh.

Bukan di ruang sidang, tetapi di masjid tempat peserta Rakornas melaksanakan salat berjamaah, Rabu (30/9/2026).

Setelah menjadi imam, Abdul Mu’ti menyampaikan kultum di hadapan peserta Rakornas yang terdiri atas kepala sekolah, kepala madrasah, serta pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari berbagai daerah di Indonesia.

Kehadiran Menteri Abdul Mu’ti tersebut telah dikoordinasikan sejak Selasa sore. Protokol kementerian menyampaikan kepada panitia bahwa ia akan datang sebelum waktu Subuh dan menjadi imam sekaligus memberikan kultum.

Dalam kultumnya, Abdul Mu’ti banyak menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya lembaga pendidikan.

Menurut dia, pemimpin AUM harus memiliki wawasan luas sekaligus luwes dalam mengambil keputusan dan membangun relasi.

“Sebagai pimpinan AUM harus luas dan luwes. Luas pandangannya dan luwes dalam mengambil keputusan dan bergaul,” pesan Sekretarus Umum PP Muhammadiyah itu.

Dia juga mengingatkan para pengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah agar tidak menutup diri terhadap perubahan.

“Pemimpin harus mau bertemu, berdialog, dan mendengarkan pandangan dari berbagai pihak,” tegasnya.

Kemampuan beradaptasi, kata Abdul Mu’ti, menjadi bagian penting dari kepemimpinan pendidikan. Perubahan tidak seharusnya dihadapi dengan sikap defensif, tetapi dengan keterbukaan untuk belajar dan mencoba.

Pemimpin AUM juga perlu memahami bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah bukan semata-mata institusi pendidikan. Di dalamnya terdapat ruang dakwah.

“Pemimpin AUM harus memahami bahwa AUM adalah lahan berdakwah,” ujarnya.

Karena itu, pemimpin dituntut bersemangat, percaya diri, dan mampu menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Abdul Mu’ti juga mendorong para pemimpin pendidikan Muhammadiyah untuk berani mencoba. Menurut dia, kegagalan tidak semestinya membuat seseorang berhenti mengambil langkah.

“Pemimpin harus mencoba dan mencoba. Jangan takut gagal. Karena kegagalan adalah sukses yang tertunda,” katanya.

Jadi Imam Salat Subuh di Rakornas Muhammadiyah, Menteri Abdul Mu’ti Bicara Empat Modal Memajukan Pendidikan
Para peserta Rokornas Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Foto: M. Sholihin/PWMU.CO

Berani Berbeda dan Mengambil Risiko

Dikatakan Abdul Mu’ti, selain memiliki visi jangka panjang, pemimpin AUM juga harus adaptif terhadap perubahan. Kepemimpinan, menurut Abdul Mu’ti, tidak cukup hanya dengan menjaga keadaan yang sudah berjalan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Pemimpin perlu berani mengambil risiko dan menyampaikan pendapat, termasuk ketika pendapat tersebut berbeda dengan pandangan orang lain,” ujarnya.

Sikap amanah dan disiplin juga menjadi modal penting. Pemimpin AUM harus mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk mereka yang memiliki pengalaman lebih luas.

Pesan tersebut relevan dengan posisi peserta Rakornas yang sebagian besar merupakan pengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Mereka tidak hanya bertanggung jawab terhadap tata kelola sekolah dan madrasah, tetapi juga menentukan arah pengembangan pendidikan Muhammadiyah di daerah masing-masing.

Di bagian akhir kultumnya, Abdul Mu’ti menyampaikan empat modal yang menurut dia dimiliki Muhammadiyah untuk terus memajukan pendidikan.

Pertama, nama besar Muhammadiyah. Muhammadiyah merupakan organisasi besar yang telah dikenal luas.

“Nama tersebut menjadi modal sosial yang dapat mendukung pengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah,” tegasnya.

Kedua, nama baik. Abdul Mu’ti menyebut warga Muhammadiyah dikenal memiliki karakter amanah, disiplin, bertanggung jawab, dan serius dalam mengelola organisasi.

Ketiga, sumber daya manusia yang unggul. Muhammadiyah memiliki banyak kader dengan latar belakang intelektual dan profesional.

“Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan sekolah dan madrasah Muhammadiyah agar terus bergerak maju,” tutur Mu’ti.

Keempat, kedermawanan. Menurut Abdul Mu’ti, tradisi berbagi dan menyumbang yang dimiliki warga Muhammadiyah juga merupakan kekuatan penting dalam pengembangan pendidikan.

Dia menilai pendidikan Muhammadiyah merupakan salah satu bentuk sumbangan besar Muhammadiyah bagi bangsa dan negara.

“Empat modal tersebut, jika dikelola dengan kepemimpinan yang luas, luwes, adaptif, dan berani mengambil risiko, menjadi kekuatan penting bagi Muhammadiyah untuk terus mengembangkan pendidikan.,” jelasnya

Rakornas Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah pun ditutup bukan sekadar dengan agenda koordinasi organisasi, tetapi dengan pesan tentang kepemimpinan, dakwah, dan tanggung jawab mengelola pendidikan sebagai bagian dari kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/09/2026 09:05
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu