Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menghadiri Puncak Dasawarsa ke-4 Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, Ahad (27/9/2026).
Kegiatan yang bertepatan dengan 15 Rabiul Akhir 1448 itu berlangsung di lapangan pondok. Ribuan santri dan wali santri mengikuti acara di bawah terop besar yang menghadap panggung utama.
Di panggung tersebut, backdrop bertuliskan “Kesyukuran 40 Tahun Pondok Pesantren Al-Ishlah 1986–2026” terpampang. Abdul Mu’ti kemudian menyampaikan orasi tentang pendidikan, kebangsaan, dan keislaman.
Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir. Di antaranya Bupati Lamongan Dr. Yuhronur Effendi, MBA; Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Drs. KH M. Akrim Mariyat; Prof. Dr. Husnan Bey Fananie, MA; Prof. Dr. Amin Abdullah; KH Danial, SE; Prof. Dr. Muhammad Chirzin; Prof. Dr. Ali Mufrodi, MA; dan Prof. Biyanto, M.Ag.
Spirit Nubuwah
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Ishlah yang telah istiqomah selama 40 tahun dalam bidang pendidikan.
Menurutnya, keberadaan pesantren seperti Al-Ishlah memberikan manfaat besar bagi negara.
“Angka 40 bermakna penting dalam catatan sejarah Islam. Angka penting ini semoga ada spirit nubuwah,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga membenarkan informasi yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah, Drs. KH Muhammad Dawam Saleh. Ia menyebut SMP Muhammadiyah 12 Paciran memiliki sekitar 1.200 murid dan menjadi sekolah Muhammadiyah dengan jumlah murid terbanyak di Indonesia.
SMP Muhammadiyah 12 Paciran yang bersinergi dengan Pondok Pesantren Al-Ishlah menjadi salah satu ikon pendidikan di kawasan tersebut. Dari sebuah dusun kecil di pesisir Paciran, lembaga pendidikan ini berkembang hingga mampu mengelola sekolah dengan ribuan siswa dan mendapat animo besar dari masyarakat.
40 Tahun Al-Ishlah
Puncak Dasawarsa ke-4 menjadi penanda perjalanan Pondok Pesantren Al-Ishlah sejak berdiri pada 1986. Pesantren yang awalnya berada di lahan kosong dan hanya memiliki 10 santri itu kini berkembang dengan ribuan santri.
Perkembangannya juga ditandai dengan hadirnya masjid berkapasitas sekitar 2.000 jamaah serta lembaga pendidikan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains Islam (STIQSI) Lamongan.
Kehadiran Mendikdasmen menjadi kado istimewa dalam peringatan 40 tahun Al-Ishlah. Abdul Mu’ti berharap pesantren tersebut terus menjaga istiqomah dalam mengembangkan pendidikan.
Ia juga mendorong Al-Ishlah untuk terus memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern, mempertahankan semangat perjuangan berkemajuan, serta menjaga lingkungan di sekitarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments