Kongres ke-15 Muhammadiyah, sekarang diganti dengan istilah Muktamar, berlangsung di Surabaya pada 25 Februari hingga 3 Maret 1926. Kegiatan tidak hanya diisi dengan sidang-sidang organisasi dan rapat umum yang dihadiri ribuan peserta. Di tengah rangkaian agenda itu, kaum perempuan Muhammadiyah juga menggelar sidang khusus. Jika disederhanakan, selain ada Muktamar Muhammadiyah, pada saat bersamaan ada Muktamar Aisyiyah 1926.
Sidang bagian perempuan tersebut dilaksanakan pada Ahad malam, 28 Februari 1926. Bertempat di Oriënt-Bioscoop, salah satu gedung pertunjukan yang saat itu kerap digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat di Surabaya. Menurut beberapa sumber, bioskop ini berada di koridor yang sekarang masuk jalan Tunjungan.
Bioskop pada dekade 1920-an tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemutaran film. Namun juga menjadi ruang publik yang sering disewa untuk rapat, ceramah, pertunjukan musik, dan pertemuan organisasi masyarakat. Oriënt-Bioscoop berada di kawasan Tunjungan, yang sejak masa kolonial sudah menjadi pusat perdagangan, hiburan, hotel, dan pertokoan elit.
Sidang Aisyiyah itu dihadiri sekitar 350 perempuan dari berbagai cabang Muhammadiyah yang datang sebagai utusan maupun peserta Muktamar. Meski jumlah pesertanya tidak sebesar rapat umum yang mencapai ribuan orang, sidang perempuan menjadi salah satu forum penting dalam perjalanan Muhammadiyah.
Sidang membahas berbagai persoalan penting yang dihadapi perempuan pribumi pada masa itu. Berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan perempuan, keluarga, pendidikan, hingga pembinaan masyarakat dibahas secara khusus oleh para utusan dari berbagai daerah. Persidangan berlangsung sederhana. Tapi sarat makna karena menjadi momentum berkumpulnya para perempuan Muhammadiyah dari berbagai wilayah Hindia Belanda untuk saling bertukar pengalaman dan gagasan.
Sidang baru dimulai sekitar pukul 21.30. Dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Besar (sekarang Pimpinan Pusat) Aisyiyah, Nyai Siti Walidah. Istri KH Ahmad Dahlan ini membuka acara. Tidak lupa menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta yang telah memenuhi ruang pertemuan.
Agenda pertama diisi oleh Nona Atminie dari Malang. Dalam ceramahnya, ia mengangkat persoalan kondisi ekonomi kaum perempuan. Tema ini menunjukkan bahwa sejak satu abad lalu Muhammadiyah melalui Aisyiyah telah memberikan perhatian terhadap persoalan ekonomi. Khususnya ekonomi keluarga dan posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Sayangnya, laporan surat kabar pada masa itu tidak merinci isi ceramahnya. Namun, pembahasan tentang keadaan ekonomi perempuan memperlihatkan adanya kesadaran gender. Bahwa persoalan kesejahteraan menjadi bagian penting dari gerakan pembaruan Islam yang diusung Muhammadiyah.
Gerakan pembaruan bukan sekadar membicarakan ibadah dan pendidikan agama. Tapi juga memberi ruang bagi diskusi mengenai tantangan kehidupan sehari-hari yang dihadapi kaum perempuan.
Setelah itu, giliran utusan Muhammadiyah Cabang Purbalingga, Banyumas, menyampaikan pidato. Kehadiran delegasi dari luar Surabaya memperlihatkan bahwa Muktamar benar-benar menjadi ajang pertemuan nasional bagi cabang-cabang Muhammadiyah. Yang pada tahun 1926-an mulai berkembang di berbagai daerah di Hindia Belanda, setelah mendapat izin pada 1920.
Sidang Aisyiyah dalam Muktamar 1926 juga menjadi tempat bertemunya pengalaman dari berbagai cabang. Para utusan dapat menyampaikan praktik-praktik terbaik yang dilakukan di daerah masing-masing. Sekaligus mendengarkan gagasan baru yang berkembang di wilayah lain.
Agenda berikutnya diisi oleh seorang utusan perempuan dari Muhammadiyah Cabang Pakadjangan atau Pekajangan. Dalam pidatonya, ia membahas pola kehidupan menurut ajaran Islam. Topik ini menjadi salah satu tema yang sangat relevan pada masa itu.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya memang dikenal sebagai gerakan tajdid atau pembaruan. Termasuk berusaha mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunah. Karena itu, pembahasan mengenai pola hidup Islami tidak hanya menyentuh aspek ibadah. Tapi juga kehidupan keluarga, pendidikan anak, hubungan sosial, hingga pembentukan karakter masyarakat.
Melalui sidang Aisyiyah, nilai-nilai itu dapat disampaikan secara langsung kepada para peserta. Dengan harapan agar nantinya saat kembali ke daerah masing-masing bisa mengembangkan kegiatan Muhammadiyah maupun Aisyiyah.
Dalam susunan acara sebenarnya terdapat agenda bertajuk “Ceramah tentang Anak-anak Bumiputra”. Namun, agenda itu harus ditunda. Laporan surat kabar tidak menjelaskan alasan penundaan itu maupun kapan materi tersebut akhirnya disampaikan.
Meski demikian, masuknya isu mengenai anak-anak bumiputra ke dalam agenda resmi menunjukkan satu kesadaran penting. Bahwa perhatian Muhammadiyah terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda telah menjadi bagian penting dari pembahasan Muktamar. Sejak awal berdiri, Muhammadiyah memang menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama gerakan.
Setelah agenda yang ditunda itu, utusan perempuan dari Muhammadiyah Cabang Kepanjen tampil sebagai pembicara berikutnya. Ia menyampaikan uraian yang bersifat umum kepada para peserta. Sayangnya, isi pidatonya tidak dijelaskan secara rinci dalam laporan sezaman.
Usai seluruh pidato utama disampaikan, sidang memasuki waktu istirahat. Setelah jeda, panitia memutuskan agar agenda-agenda yang masih tersisa dibahas secara singkat. Pembahasan difokuskan langsung pada pokok-pokok persoalan sehingga seluruh rangkaian acara dapat diselesaikan sesuai jadwal.
Cara sidang berlangsung juga memperlihatkan disiplin penyelenggaraan Muktamar pada masa itu. Walaupun berlangsung hingga larut malam, seluruh agenda tetap diupayakan selesai dengan tertib. Agar peserta dapat mengikuti kegiatan Muktamar berikutnya pada hari-hari selanjutnya.
Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.30, Nyai Walidah akhirnya menutup sidang. Penutupan dilakukan dengan doa bersama sebagai penanda berakhirnya forum yang telah berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Sidang perempuan dalam Muktamar ke-15 di Surabaya adalah bukti jika perempuan sejak sejak dekade 1920-an telah mendapat tempat layak di Muhammadiyah. Perempuan telah memperoleh ruang yang luas dalam dinamika organisasi Muhammadiyah. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta. Tapi juga pembicara, penyampai gagasan, serta wakil dari berbagai cabang yang ikut menentukan arah gerakan.





0 Tanggapan
Empty Comments