Udara pagi Kalimantan Barat menyambut saya dengan kehangatan yang khas. Hari kedua perjalanan saya bersama tim pendampingan Lesson Study di Yayasan Harapan Masa Depan Cerah, di bawah naungan perusahaan Cargill, membawa petualangan makna yang sungguh berkesan.
Setelah kemarin berdiskusi dan merefleksikan proses pembelajaran di jenjang SD, hari itu—Kamis, (20/8/2026)—fokus pendampingan bergerak ke jenjang pendidikan anak usia dini: TK Andes Resak Masa Depan Cerah.
Mendampingi proses open class dan sesi refleksi bersama guru-guru TK memberikan perspektif yang sangat kaya.
Di ruangan kelas yang cerah dan penuh warna, saya menyaksikan bagaimana pembelajaran keaksaraan awal tidak lagi dipahami secara kaku sebagai hafalan simbol, melainkan disajikan sebagai petualangan sensori yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak.
Geliat Belajar Multisensori di TK Andes Resak
Berdasarkan dokumen dan lembar observasi lesson study yang terisi, kelas TK hari ini memperlihatkan dinamika yang sangat positif. Pembelajaran yang dirancang guru berhasil menggeser paradigma lama.
Anak-anak tidak hanya didorong mengenali bentuk dan bunyi huruf secara verbal, melainkan bergerak aktif melalui eksplorasi multisensori yang kaya.
Secara keseluruhan, pembelajaran ini tidak hanya mencapai pengetahuan faktual. Anak bergerak dari mengenali bunyi dan bentuk huruf menuju penggunaan pengetahuan tersebut dalam berbagai aktivitas konkret dan multisensori.
Penggunaan benda-benda konkret, kartu nama bertekstur, eksplorasi loose parts (seperti biji-bijian, batu kecil, dan stik kayu), serta media sensori lainnya membuka berbagai jalur belajar (learning pathways) bagi anak.
Saat jari-jemari mungil mereka meraba tekstur kartu nama atau menyusun loose parts membentuk lekuk huruf, proses kognitif mereka bekerja secara alami.
Aktivitas memilih, mencocokkan, menyusun, hingga keberanian anak menjelaskan alasan sederhana di balik pilihannya tidak sekadar mengasah kemampuan literasi dasar.
Lebih dari itu, kelas ini telah memberi ruang yang lapang bagi tumbuhnya kemandirian, keterampilan komunikasi, kreativitas, serta penalaran sederhana sejak dini.
Dalam sesi refleksi pasca-pembelajaran yang hangat dan konstruktif, kami merumuskan beberapa catatan penting untuk penguatan pembelajaran ke depan.
Pertama, perbaikan utama sebaiknya fokus pada bagaimana memperdalam cara anak berpikir di dalam aktivitas yang sudah ada. Guru dapat memperbanyak pertanyaan pemantik yang mendorong anak mengungkapkan alasan dan strateginya, seperti:
- “Kok kamu tahu ini huruf namamu?”
- “Bagian mana yang membuat kamu tahu ini huruf B?”
- “Tadi waktu sulit membuat huruf, kamu melakukan apa?”
- “Kalau besok membuat huruf lagi, kamu mau memakai bahan apa?
Mengapa?”(Dengan demikian, aktivitas prosedural dapat sekaligus melatih metakognisi anak).
Kedua, penguatan diferensiasi pembelajaran. Anak yang kesulitan tetap memperoleh pengalaman multisensori yang kaya dan pengulangan bunyi secara intensif.
Bantuan (scaffolding) untuk anak yang mulai berkembang dikurangi secara bertahap untuk melatih kemandirian. Anak yang mahir diberi pengayaan seperti mencari benda lain dengan bunyi awal yang sama atau mulai menyusun kata sederhana.
Ketiga, menggeser pembelajaran secara bertahap dari “anak mampu mengenali dan melakukan” menuju “anak mampu mengenali, melakukan, lalu menceritakan bagaimana dan mengapa ia melakukannya.”
Ini menjadi fondasi kokoh untuk memperkuat transisi menuju pengetahuan metakognitif yang sesuai perkembangan anak usia dini.
Perjalanan pendampingan di TK Andes Resak hari itu memantapkan keyakinan saya bahwa semangat belajar tidak pernah dibatasi oleh jarak.
Dedikasi guru-guru Yayasan Harapan Masa Depan Cerah Cargill dalam menghadirkan pembelajaran yang humanis, kreatif, dan berbasis kebutuhan anak adalah bukti nyata dari komitmen mewujudkan pendidikan berkualitas.
Sebagai pendidik dari SDMM Gresik, pengalaman berbagi dan tumbuh bersama dalam wadah Lesson Study ini menjadi oleh-oleh berharga yang memperkaya sanubari profesional saya.
Semoga benih-benih kebaikan yang kita tanam hari ini tumbuh subur, menuntun anak-anak menjadi pembelajar sepanjang hayat yang kritis, kreatif, dan percaya diri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments