Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah tiba di Hongling Shenkang School, Shenzhen, China.
Sekolah itu berdiri di bawah bukit. Pemandangan alam menjadi latar bagi bangunan sekolah yang modern. Gedung-gedungnya tertata rapi. Fasilitasnya lengkap. Sistem pendidikannya pun menarik untuk diamati.
Inilah sekolah yang menjadi tempat kunjungan sekaligus penutupan Training Management and Leadership Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah selama berada di China.
Sebelumnya, rombongan telah mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan di Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen.
Hongling Shenkang School menerapkan pendidikan sembilan tahun. Jenjang SD dan SMP berada dalam satu sistem pendidikan.
Namun, yang paling mudah diingat bukan hanya gedung dan fasilitasnya. Melainkan suasananya.
Sekolah ini membawa sebuah motto sederhana: Happy, Smile, Confidence, and Sun. Motto itu seperti bukan sekadar tulisan di dinding.
Rombongan benar-benar merasakannya. Sejak kedatangan, pimpinan sekolah, para guru, Kepala Dinas Pendidikan Shenzhen, Atase Pendidikan China-Indonesia, hingga perwakilan perguruan tinggi Guangzhou Selatan menyambut dengan hangat.
Tidak kaku. Tidak berjarak. Ada keramahan yang membuat kunjungan terasa seperti perjumpaan antarteman yang sedang sama-sama belajar.

Belajar dari Ruang-Ruang Pendidikan
Seperti kunjungan sebelumnya, rombongan diajak melihat berbagai fasilitas sekolah. Lapangan olahraga. Laboratorium komputer. Laboratorium bahasa. Perpustakaan. Dan berbagai ruang pendukung pembelajaran lainnya. Semuanya tertata.
Bukan sekadar modern, tetapi juga menunjukkan bagaimana ruang pendidikan dirancang untuk mendukung aktivitas siswa.
Dari gedung dan fasilitas yang terlihat, sekolah ini tampak mendapat dukungan kuat dari pemerintah setempat.
Tidak mengherankan jika sekolah tersebut menjadi salah satu tujuan kunjungan pendidikan dari berbagai negara.
Bahkan ketika rombongan tiba di Bandara Shenzhen untuk meninggalkan China, terlihat rombongan dari negara lain membawa tas kenang-kenangan dari sekolah tersebut.
Sekolah itu rupanya bukan hanya tempat belajar bagi siswanya. Ia juga menjadi tempat orang lain datang untuk belajar tentang pendidikan.
Di situlah menariknya kunjungan ini. Rombongan Muhammadiyah datang bukan untuk mencari sekolah yang semuanya harus ditiru.
Juga bukan untuk mengatakan bahwa satu sistem pendidikan pasti lebih baik daripada sistem lainnya.
Justru sebaliknya. Ada pengalaman yang bisa dibawa pulang. Ada hal yang mungkin cocok diterapkan. Ada pula yang belum tentu sesuai dengan konteks Indonesia.

Sama-Sama Belajar
Setelah mengunjungi berbagai fasilitas dan melihat aktivitas siswa, rombongan mengikuti sesi ramah-tamah bersama pimpinan sekolah, para guru, Kepala Dinas Pendidikan Shenzhen, perwakilan perguruan tinggi Guangzhou Selatan, serta Atase Pendidikan China-Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Atase Pendidikan China-Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah yang bersedia berkunjung dan melihat langsung sekolah-sekolah di China.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama kunjungan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pendidikan di Indonesia.
Tetapi ada pesan yang menarik. Tidak semuanya harus diambil. Jika ada sesuatu yang kurang baik, jangan dibawa pulang.
China pun, katanya, akan terus belajar dan memperbaiki sistem pendidikannya.
Sebab, setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalimat itu terasa penting. Sebab, pendidikan bukan perlombaan untuk mencari siapa yang paling sempurna. Pendidikan adalah perjalanan panjang untuk terus memperbaiki diri.
Muhammadiyah datang ke China untuk belajar. China pun membuka diri untuk belajar dari Indonesia. Di situlah perjumpaan ini menjadi lebih berarti daripada sekadar kunjungan sekolah.

Satu Kata tentang Pendidikan China
Perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Alpha Amirrachman, Ph.D., menyampaikan terima kasih kepada Kedutaan Besar China di Indonesia yang telah memfasilitasi dan mendampingi rombongan sejak keberangkatan hingga kepulangan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Shenzhen, perwakilan perguruan tinggi Guangzhou Selatan, serta pimpinan dan seluruh guru Hongling Shenkang School.
Kepada seluruh peserta, disampaikan harapan agar pengetahuan dan pengalaman selama perjalanan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan.
Ilmu itu harus pulang. Masuk ke sekolah. Masuk ke ruang kelas. Menjadi gagasan. Menjadi perubahan.
Dan pada akhirnya, membuat sekolah-sekolah Muhammadiyah semakin maju dan berprestasi.
Menjelang acara berakhir, Atase Pendidikan China-Indonesia memberikan satu tantangan kecil kepada seluruh peserta.
Masing-masing diminta menyampaikan satu kata tentang pendidikan di China. Satu per satu peserta memberikan jawabannya. Satu kata.
Tetapi di balik satu kata itu ada empat hari perjalanan, kunjungan ke berbagai sekolah, percakapan dengan para pendidik, serta banyak hal yang diamati sepanjang perjalanan Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen.
Setelah itu, dilakukan pertukaran kenang-kenangan antara pihak sekolah dan peserta. Sebuah cara sederhana untuk mengikat perjumpaan.

Pulang Membawa Pertanyaan
Perjalanan kemudian ditutup dengan menyanyikan Mars Muhammadiyah. Suara para peserta bergema di sekolah yang berada di bawah bukit itu.
Liriknya mengingatkan kembali pada identitas gerakan yang dibawa rombongan sejak awal perjalanan:
Sang Surya tetap bersinar/Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri/ Membuatku rela hati
Ya Allah Tuhan Rabiku/Muhammad Junjunganku
Al Islam agamaku/ Muhammadiyah gerakanku…
Ada suasana yang terasa berbeda pada bagian akhir ini. Beberapa hari sebelumnya, rombongan datang sebagai tamu. Kini mereka pulang sebagai pembelajar yang membawa banyak pertanyaan.
Bagaimana membuat sekolah lebih menyenangkan? Bagaimana membangun kepercayaan diri anak? Bagaimana menghadirkan fasilitas yang mendukung pembelajaran? Bagaimana membangun sistem pendidikan yang terus bergerak maju?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selesai di Shenzhen. Memang tidak harus selesai. Sebab sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah selesai belajar.
Justru sekolah yang baik adalah sekolah yang selalu bersedia melihat ke luar, bercermin, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang masih bisa kami perbaiki?
Di bawah bukit Hongling Shenkang School, pertanyaan itu ikut dibawa pulang. Bukan sebagai oleh-oleh. Melainkan sebagai pekerjaan rumah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments