Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., mengingatkan mahasiswa agar tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, mandiri, dan berkarakter kuat di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Pesan tersebut disampaikan Fajar dalam kegiatan Orientasi Dinamika Kampus (ORDIK) 2026 yang merupakan rangkaian kegiatan MOX 2026 Umsura, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., beserta jajaran pimpinan universitas, termasuk Wakil Rektor III. Kehadiran Wamen Dikdasmen RI menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa baru agar mampu menghadapi perubahan zaman, khususnya tantangan pendidikan tinggi dan dunia kerja di era digital.
Dalam penyampaiannya, Fajar menegaskan bahwa hakikat perguruan tinggi bukan sekadar memperoleh ijazah atau menyelesaikan kewajiban akademik. Perguruan tinggi juga menjadi ruang pembentukan manusia yang memiliki kompetensi, karakter, dan kemampuan berpikir mandiri.
Menurutnya, perkembangan teknologi AI membawa peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa. Berbagai platform kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan teknologi sejenis dapat membantu proses pembelajaran, tetapi dapat menjadi ancaman apabila digunakan secara tidak tepat.
Ia mengingatkan mahasiswa terhadap fenomena cognitive offloading, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu bergantung pada teknologi sehingga mengurangi keterlibatan dalam proses berpikir secara mandiri.
“AI harus menjadi alat bantu bagi manusia, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir. Mahasiswa tetap harus memiliki otonomi berpikir, daya kritis, dan kemampuan menghasilkan gagasan sendiri,” ujar Fajar dalam pemaparannya.
Ia menambahkan, penggunaan teknologi tanpa kontrol dapat melahirkan lulusan yang hanya memiliki dokumen akademik, tetapi tidak memiliki kompetensi nyata yang dibutuhkan dunia kerja.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun batasan dalam memanfaatkan teknologi agar tetap menjadi pengendali, bukan dikendalikan oleh teknologi.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Dikdasmen RI juga menjelaskan perubahan yang terjadi pada struktur pekerjaan global. Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan perubahan kebutuhan industri menyebabkan berbagai pekerjaan mengalami transformasi.
Mengacu pada proyeksi OECD periode 2025–2030, sejumlah pekerjaan lama diperkirakan mengalami perubahan fungsi, sementara berbagai jenis pekerjaan baru akan muncul dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda.
Menurut Fajar, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk terus memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan masa depan. Ia menyoroti adanya kesenjangan antara perubahan dunia kerja yang cepat dan kesiapan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
“Pekerjaan masa depan tidak selalu berjalan lurus dengan jurusan yang dipilih ketika kuliah. Yang menentukan adalah kemampuan seseorang untuk terus belajar, beradaptasi, berkomunikasi, dan menyelesaikan persoalan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa banyak tokoh nasional maupun profesional sukses yang memiliki perjalanan karier tidak selalu linear dengan latar belakang pendidikan awalnya.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun kemampuan yang bersifat universal, terutama human skills seperti berpikir kritis, komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, serta semangat menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
Selain kompetensi akademik, Fajar menekankan pentingnya penguatan karakter mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa esensi menjadi seorang juara tidak hanya dilihat dari piala, penghargaan, maupun pencapaian formal, tetapi juga dari budaya kerja dan nilai yang melekat dalam diri seseorang.
Ia mengambil pembelajaran dari SDN 1 Sendang Coyo, Rembang, bahwa keberhasilan sejati dibangun melalui empat nilai utama, yaitu jujur, sportif, mandiri, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, kejujuran merupakan modal utama dalam membangun kepercayaan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
“Integritas adalah mata uang yang sangat berharga. Prestasi yang tidak dibangun dengan kejujuran tidak akan memiliki fondasi yang kuat,” ungkapnya.
Sementara itu, sikap sportif mengajarkan seseorang untuk mampu menerima kekurangan diri sekaligus menghargai kelebihan orang lain. Sikap mandiri membentuk individu yang mampu berdiri dengan kemampuan sendiri, sedangkan tanggung jawab mendorong seseorang menyelesaikan tugas dan kewajibannya secara penuh.
Dalam pemaparannya, Fajar juga mengajak mahasiswa Umsura membangun growth mindset atau pola pikir berkembang.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data PISA OECD, peserta didik Indonesia memiliki sejumlah modal positif, seperti semangat belajar yang tinggi, keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, serta kegigihan dalam menghadapi tantangan.
Namun, tantangan yang masih perlu diperkuat adalah kemampuan masyarakat untuk memiliki keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar, usaha, dan kerja keras.
“Setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang. Kegagalan bukan akhir dari perjalanan, tetapi bagian dari proses menuju keberhasilan,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa banyak tokoh dunia yang berhasil setelah melalui berbagai kegagalan dan proses panjang. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan membutuhkan ketekunan, keberanian mencoba, serta kemampuan untuk bangkit kembali.
Menutup materinya, Fajar mengajak mahasiswa baru Umsura membayangkan masa depan sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Masa kuliah harus dimanfaatkan untuk membangun kompetensi, pengalaman, jaringan, serta karakter.
Ia mendorong mahasiswa agar tidak hanya fokus pada kegiatan akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi, berdiskusi, melatih kemampuan berargumentasi, dan meningkatkan kepercayaan diri.
Menurutnya, mahasiswa masa kini harus memiliki mental petarung yang disertai kemampuan berpikir strategis, resiliensi, empati, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan.





0 Tanggapan
Empty Comments