Jika di Indonesia kita mengenal ojek online sebagai salah satu pilihan transportasi masyarakat, di Tiongkok terdapat budaya yang jauh lebih masif, yakni penggunaan sepeda listrik dan sepeda gowes sewaan untuk masyarakat umum.
Pemandangan tersebut saya temui saat mengikuti kunjungan pendidikan di Tiongkok mulai 14 September 2026. Di sejumlah sudut kota besar seperti Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen, terlihat barisan sepeda berwarna-warni di berbagai titik trotoar.
Sepeda berwarna biru, kuning, hijau, dan warna lainnya tersebut ternyata merupakan sepeda sewaan yang dapat digunakan masyarakat melalui layanan berbasis aplikasi.
Fenomena ini menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi transportasi, tetapi juga dari perspektif taawun atau saling membantu dan menghindari israf atau sikap berlebihan dalam penggunaan sumber daya.
Sepeda yang berjajar di sejumlah sudut kota tersebut bukan merupakan sepeda milik pribadi. Sepeda itu disediakan untuk digunakan masyarakat melalui perusahaan penyedia layanan sewa sepeda.
Konsepnya cukup sederhana. Masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi, atau memilih tidak menggunakan motor maupun mobil karena pertimbangan kemacetan dan sulitnya mencari tempat parkir, dapat memanfaatkan sepeda sewaan tersebut.
Sepeda dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti menuju stasiun kereta cepat, kampus, warung, maupun kantor yang berjarak beberapa kilometer.
Di Tiongkok, layanan sewa sepeda ini dikenal sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan last mile atau kilometer terakhir, yakni kebutuhan transportasi dari titik pemberhentian kendaraan umum menuju tempat tujuan akhir.
Cara menggunakan sepeda sewaan tersebut terbilang sederhana.
Pertama, pengguna membuka aplikasi Alipay atau WeChat. Selanjutnya, pengguna memindai QR Code yang ditempel pada bagian stang atau belakang sadel sepeda.
Setelah QR Code dipindai, kunci otomatis sepeda akan terbuka. Pengguna kemudian dapat langsung mengayuh sepeda atau menggunakan tenaga listrik pada e-bike.
Sesampainya di tujuan, sepeda diparkir pada titik putih yang telah ditentukan di trotoar. Setelah itu, sepeda dikunci secara manual dan saldo pengguna otomatis terpotong sesuai biaya penggunaan.
Informasi yang saya terima dari tour guide menyebutkan bahwa biaya sewa sepeda relatif murah sehingga layanan tersebut membantu masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi.
Ada sejumlah alasan yang membuat layanan sepeda sewaan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di Tiongkok.
Pertama, murah. Biaya sewa sepeda jauh lebih murah dibandingkan menggunakan taksi.
Kedua, bebas macet. Sepeda memiliki jalur khusus di badan jalan raya, baik di sisi kanan maupun kiri. Sepeda juga dapat melintasi gang-gang kecil.
Kondisi tersebut membantu masyarakat mencapai tempat tujuan tanpa terlalu terhambat kemacetan. Selain itu, pengguna tidak perlu memikirkan persoalan parkir kendaraan.
Ketiga, terintegrasi dengan transportasi umum. Setelah turun dari bus atau kereta cepat, masyarakat dapat langsung menemukan sepeda di titik yang telah ditentukan.
Sebaliknya, sepeda juga dapat digunakan untuk menuju titik transportasi umum sehingga perjalanan menjadi lebih praktis.
Keempat, ramah lingkungan. Pemerintah China mendorong penggunaan berbagai pilihan transportasi yang dapat membantu mengurangi polusi dan kemacetan.
Dari fenomena tersebut, ada pelajaran yang dapat kita ambil untuk diterapkan di Indonesia, khususnya mengenai semangat taawun.
Sepeda sewaan memungkinkan masyarakat menggunakan fasilitas yang sama secara bergantian. Masyarakat tidak harus memiliki kendaraan pribadi untuk dapat bergerak secara cepat dan mandiri.
Di sisi lain, penggunaan fasilitas bersama juga mengajarkan rasa tanggung jawab. Sepeda yang telah selesai digunakan harus dikembalikan dan diparkir pada tempat yang telah ditentukan sehingga dapat kembali digunakan oleh orang lain.
Semangat berbagi seperti ini dapat menjadi salah satu bentuk taawun dalam kehidupan sosial. Satu fasilitas dapat memberikan manfaat kepada banyak orang ketika digunakan secara bertanggung jawab.
Fenomena sepeda sewaan di Tiongkok juga memberikan perspektif lain tentang kebutuhan transportasi.
Orang tidak harus kaya dan memiliki kendaraan pribadi untuk dapat bergerak cepat dan mandiri. Dengan fasilitas yang tersedia secara bersama, kebutuhan mobilitas tetap dapat terpenuhi.
Hal tersebut juga dapat mengajarkan hidup hemat dan menghindari israf, yakni menggunakan sesuatu secara berlebihan ketika sebenarnya tidak diperlukan.
Dari perjalanan pendidikan ini, sepeda listrik dan sepeda gowes sewaan bukan sekadar alat transportasi. Di balik keberadaannya terdapat pelajaran tentang berbagi fasilitas, tanggung jawab, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat taawun dapat diwujudkan melalui berbagai hal sederhana. Salah satunya menyediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan bersama, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemilik, tetapi juga oleh masyarakat luas.





0 Tanggapan
Empty Comments