Memasuki empat bulan terakhir tahun 2026, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan mendorong seluruh Unit Pembantu Pimpinan (UPP) mempercepat pelaksanaan program kerja. Evaluasi capaian, penguatan koordinasi, dan penetapan program prioritas menjadi fokus Rapat Koordinasi antar-UPP bersama Wakil Ketua PDM Lamongan, Rabu (16/9/2026).
Rakor tersebut dihadiri Ketua dan Anggota Majelis Kader dan Sumber Daya Insani (MKSDI), Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting-Pembinaan Masjid (LPCR-PM), serta Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PDM Lamongan.
Pertemuan menjadi ruang konsolidasi untuk melihat perkembangan program selama satu semester, mengidentifikasi agenda yang belum terlaksana, sekaligus menyusun langkah percepatan hingga akhir tahun.
Empat Bulan untuk Menuntaskan Program
Wakil Ketua PDM Lamongan yang membidangi LPCR-PM, MPK SDI, dan LSBO, Fathurrahim Syuhadi, M.Pd., menegaskan bahwa evaluasi bukan sekadar rutinitas organisasi. Evaluasi diperlukan untuk memastikan setiap program yang telah direncanakan benar-benar memiliki tindak lanjut.
Ia menyampaikan tiga hal pokok yang perlu menjadi perhatian setiap UPP. Pertama, menyampaikan perkembangan program yang telah, sedang, dan belum dilaksanakan. Kedua, melakukan evaluasi terhadap program yang telah berjalan. Ketiga, memanfaatkan waktu sekitar empat bulan yang tersisa untuk menuntaskan program yang belum terlaksana.
“Setidaknya masing-masing majelis dan lembaga memiliki dua program unggulan yang bisa dituntaskan sampai akhir tahun,” ujarnya.
Menurut Fathurrahim, banyaknya program tidak selalu menjadi ukuran keberhasilan organisasi. Yang lebih penting adalah kemampuan menetapkan prioritas, melaksanakan program secara terukur, dan memastikan hasilnya memberikan manfaat.
LPCR-PM Perkuat Cabang dan Ranting
Ketua LPCR-PM PDM Lamongan, Yai Najih Bakar, menyampaikan evaluasi program yang meliputi aspek kepemimpinan dan pelaksanaan kegiatan.
Dalam aspek kepemimpinan, koordinasi internal terus dilakukan melalui rapat rutin, baik secara daring maupun luring. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga komunikasi dan kesinambungan kerja organisasi.
Sementara Sekretaris LPCR-PM, Tholin, S.E., menjelaskan terdapat tujuh program yang telah terlaksana atau sedang berjalan. Adapun tiga program lainnya belum terlaksana dan akan dilakukan pemrograman ulang.
Tiga program yang menjadi prioritas tindak lanjut adalah pelatihan fasilitator Satu Desa Satu Kader Kesehatan Muhammadiyah, pelatihan tata kelola masjid Muhammadiyah, serta program bantuan pendirian ranting baru.
Ketiga program tersebut berkaitan erat dengan penguatan struktur Persyarikatan, peningkatan kapasitas kader, serta optimalisasi peran Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Fathurrahim mengapresiasi kinerja LPCR-PM yang memiliki cakupan tugas cukup luas. Saat ini terdapat 27 cabang dan 385 ranting Muhammadiyah di Kabupaten Lamongan.
“Cakupan yang luas ini tentu menjadi tantangan, tetapi sekaligus peluang untuk memperkuat pembinaan cabang dan ranting secara berkelanjutan,” jelasnya.
LSBO Jadikan Seni dan Olahraga sebagai Ruang Dakwah
Ketua LSBO PDM Lamongan, Drs. Ady Sucipto Djaiz, M.Pd., memaparkan sejumlah capaian program sepanjang 2026.
Di antaranya pameran seni budaya, sarasehan budaya, festival drumband, hingga prestasi Juara II tingkat Jawa Timur dalam Turnamen Futsal PWM Jawa Timur. LSBO juga mengikuti Rakorwil LSBO PWM Jawa Timur, Rakernas LSB PP Muhammadiyah, serta Kemah Akbar Seniman dan Budayawan Muhammadiyah.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang aktualisasi potensi seni, budaya, dan olahraga sekaligus memperluas kiprah Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Untuk empat bulan terakhir, LSBO juga mempersiapkan sejumlah agenda yang belum terealisasi. Salah satunya perlombaan dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-114.
Persiapan kegiatan didorong dilakukan secara matang, baik dari sisi teknis maupun administrasi, sehingga program dapat terlaksana sesuai tujuan.
MPK SDI Perkuat Ideologi dan Kaderisasi
Dari MPK SDI PDM Lamongan, Sekretaris Majelis, Dedi Kurniawan, menyampaikan sejumlah program yang telah terlaksana, di antaranya pendampingan Baitul Arqam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan pendampingan Baitul Arqam pimpinan.
Program tersebut menjadi bagian dari penguatan ideologi, pemahaman nilai-nilai Persyarikatan, sekaligus peningkatan kualitas sumber daya insani Muhammadiyah.
Adapun program yang akan dilaksanakan meliputi asistensi dan pendampingan Baitul Arqam bagi Ortom yang baru menyelesaikan Musyawarah Daerah (Musyda). Program ini diarahkan untuk memperkuat konsolidasi dan peneguhan ideologi kader pasca-Musyda.
MPK SDI juga merencanakan penyusunan modul Baitul Arqam untuk seluruh jenjang AUM serta penyelenggaraan Sekolah Ideologi Politior.
Menanggapi laporan tersebut, Fathurrahim mendorong MPK SDI segera membentuk tim penyusun modul Baitul Arqam.
Menurutnya, penyusunan modul perlu dilanjutkan dengan pelatihan bagi guru agar materi yang telah dirumuskan dapat diterapkan secara tepat dalam proses pembinaan di lingkungan AUM dan sekolah Muhammadiyah.
“Modul jangan hanya menjadi dokumen panduan, tetapi harus menjadi instrumen pembelajaran ideologi yang bisa digunakan secara berkesinambungan,” pesannya.
Bukan Sekadar Laporan
Menutup rapat, Fathurrahim menegaskan agar setiap majelis dan lembaga segera menyiapkan instrumen yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program.
Menurutnya, kelengkapan instrumen menjadi bagian penting dalam tata kelola organisasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi.
Rakor tersebut diharapkan tidak berhenti pada laporan capaian, tetapi menghasilkan langkah konkret. Empat bulan terakhir 2026 menjadi momentum bagi setiap UPP untuk memilih program prioritas, memperkuat koordinasi, dan memastikan kegiatan yang telah direncanakan benar-benar terlaksana.
Dengan demikian, program kerja PDM Lamongan tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kader, pengembangan cabang dan ranting, pengembangan seni dan olahraga, serta kemaslahatan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments