Tahun 2026, Pondok Modern Darussalam Gontor berusia 100 tahun. Sebagai bagian dari ungkapan syukur, sejak 2023, Gontor (demikian penulisan selanjutnya) mempersiapkan serangkaian acara peringatan seabadnya. Termasuk, logo peringatan 100 tahun Gontor resmi dirilis pada 8/8/2023. “Spirit dari logo ini adalah perjuangan tanpa kenal lelah Gontor untuk berkontribusi dalam pembangunan peradaban melalui pendidikan,” ungkap Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Umum Peringatan 100 Tahun Gontor.
Logo tersebut menggambarkan angka 100 dengan angka 1 berwarna hijau berupa Menara Gontor dan dua angka 0 berwarna emas yang terjalin sebagai simbol ketakterbatasan dan kesinambungan. Di tepi angka tersebut, tersemat warna merah, hijau, dan putih, yang merupakan warna panji sekaligus brand colour Gontor.
Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi dengan sujud syukur pada 27 September 2023. Adapun acara puncaknya akan diadakan pada 18–20 September 2026.
Acara 100 tahun Gontor dimulai Jumat, 18 September 2026. Diawali dengan khotmul Qur’an yang diikuti oleh seluruh pondok, pondok alumni, UNIDA putra dan putri, serta seluruh alumni, termasuk mereka yang belum bisa hadir di Gontor. Selepas magrib, seluruh santri dan alumni yang hadir akan melaksanakan sujud syukur bersama.
Puncak acara berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, berupa Resepsi Kesyukuran dan dilanjutkan pada malam harinya dengan dua agenda paralel bagi alumni. Rangkaian acara ditutup pada Ahad, 20 September 2026, pagi, dengan senam bersama dan Reuni Akbar yang dimulai pukul 08.00 WIB.
Seperti terbaca pada logo, tema 100 tahun Gontor adalah: Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama. Mari cermati bahwa Gontor menegaskan untuk istiqamah turut membangun peradaban dengan kukuh menegakkannya di atas nilai-nilai Islam.
Karya dan Karya
Gontor, di negeri ini, adalah salah satu lembaga pendidikan yang terbaik. Berdiri pada 1926 dan “disegarkan” pada 1936, pesantren ini telah melahirkan banyak lulusan yang bermanfaat.
Nilai kemanfaatan alumni Gontor telah dirasakan umat Islam dan warga negeri ini pada umumnya. Sekadar menyebut dua alumninya, adalah Hasyim Muzadi (Ketua PB NU 2000–2010) dan Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005–2015).
Tentu akan sangat banyak pelajaran jika kita mengikuti, setidaknya sebagian, alam pikiran dari pendirinya, yaitu dari KH Imam Zarkasyi (1910–1985). Beliau salah satu dari tiga bersaudara pendiri Gontor dan yang termuda. Adapun dua kakaknya adalah KH Ahmad Sahal (1901–1977) dan KH Zainuddin Fanani (1908–1967).
Karya, dalam pandangan Pak Zar (sapaan akrab dari KH Imam Zarkasyi), dihubungkan dengan prinsip amal jariyah yang membawa manfaat kepada orang lain. Lebih lanjut, mari ikuti pandangan Pak Zar di buku KH Imam Zarkasyi: Dari Gontor Merintis Pesantren Modern (2016: 263–267).
Bahwa, semakin besar manfaat karya seseorang bagi sekitarnya, maka semakin besar nilai amal jariyah dari karya itu. Pada saat yang sama, karya yang bermanfaat itu merupakan salah satu bentuk ibadah dan realisasi ketakwaan serta menjadi ukuran kebesaran seseorang.
Seperti yang selalu menjadi tekad Pak Zar ketika mulai merintis sistem pesantren modern, dia mengatakan, “Apabila saya tidak berhasil mengajar melalui pesantren, maka saya akan mengajar dengan pena.”
Sejenak, kita ingat kembali tema 100 tahun Gontor, yaitu: Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama. Artinya, jiwa tema itu sangat paralel dengan pikiran yang telah lama diungkap oleh Pak Zar. Bukankah salah satu nilai Islam adalah aktif menulis? Bukankah tujuan mengajar adalah untuk membangun peradaban?
Kembali ke soal karya. Bahwa, karya dalam pandangan Pak Zar merupakan amal yang bermanfaat bagi orang lain. Bentuknya bisa berupa keberhasilan anak didiknya.
Alumni Gontor rata-rata sukses? Tentang ini, buka saja berbagai catatan. Dari Gontor lahir banyak lulusan yang berhasil di tengah-tengah masyarakat. Karya-karya mereka di berbagai lapangan kehidupan diakui masyarakat.
Di antara alumni Gontor, banyak yang mendirikan dan memimpin pesantren. Lalu, pesantren itu menjadi besar. Lihatlah, antara lain, seperti: Pesantren Pabelan-Magelang, Pesantren Darunnajah Jakarta, Pesantren Al-Husnayain Jakarta, dan Pesantren Al-Amien Sumenep.
Ada lagi tokoh-tokoh nasional yang lulusan Gontor. Misalnya, antara lain seperti KH Idham Chalid (pernah menjadi Ketua Umum PBNU dan pernah menjadi Ketua MPR/DPR) serta Dr. Hidayat Nurwahid (Ketua MPR 2004–2009).
Alumni Gontor yang dikenal sebagai pengusaha sukses, banyak. Dikenal sebagai penulis ternama, tak sedikit. Di luar itu, banyak pula alumni Gontor yang tak kita kenal tapi punya karya besar. Bagian yang disebut terakhir ini bekerja secara gigih dalam memberi kemanfaatan bagi masyarakat meski tanpa publikasi.

Orang Besar
Kembali ke soal karya. Bahwa, karya dalam pandangan Pak Zar merupakan amal yang bermanfaat bagi orang lain. Bentuknya, antara lain, bisa berupa karya tulis.
Pak Zar telah mendirikan Pesantren Gontor, itu karya. Pak Zar sudah mengajar banyak murid, itu juga karya. Tak ketinggalan, ada belasan karya tulis Pak Zar yang berupa buku. Di samping itu, ada juga dua buku yang merupakan karya bersama dengan kakaknya, yaitu KH Zainuddin Fanani.
Terkait karya, Pak Zar tak sekadar hanya punya konsep. Dia telah meninggalkan karya-karya besar. Di antaranya, tentu saja Pesantren Gontor yang harus disebut terlebih dahulu.
Selanjutnya, bagi Pak Zar, seorang santri yang mengajar mengaji satu atau dua orang dengan ikhlas di surau di tengah hutan adalah orang besar. Hal ini karena dia telah berkarya dan bermanfaat bagi orang di tengah hutan, yang mungkin orang lain tidak bisa melakukannya.
Sekilas Perjalanan
Siapa Pak Zar? Dia lahir di Desa Gontor, Ponorogo, pada 21 Maret 1910. Dia pernah belajar di Pesantren Jamsaren Solo dan di Sekolah Mamba’ul ‘Ulum Solo. Lalu, meneruskan ke Sekolah Arabiyah Adabiyah sampai 1930, juga di Solo.
Dia kemudian ke Sumatera Barat, belajar di Normal Islam dan Sumatera Thawalib di Padang. Dr. Mahmud Yunus adalah salah satu gurunya.
Pada 1936 Pak Zar kembali ke Gontor. Sebelumnya, pada 1926, Pesantren Gontor telah didirikan oleh KH Ahmad Sahal, kakak Pak Zar. Selanjutnya, pada 1936 itu, bersama Zainuddin Fanani—kakaknya yang lain—Pak Zar membuka program Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI) di Gontor.
KMI adalah model pendidikan di pesantren yang telah lama mereka, tiga bersaudara itu, idam-idamkan. Formatnya, sebuah sekolah tingkat menengah dengan masa belajar enam tahun.
Tiga bersaudara itu bertekad, harus ada pesantren yang tidak kumuh, berpengetahuan luas, terbuka, dan berpikiran progresif. Para santrinya tidak hanya dibekali pengetahuan dasar tentang Islam, tapi juga diajari ilmu pengetahuan umum.
Ketika pesantren dengan kriteria seperti itu benar-benar mewujud pada 1936 dengan berdirinya KMI, masyarakat lalu menyebutnya sebagai Pondok Modern, nama yang lalu melekat dengan nama aslinya, yaitu Darussalam. Boleh jadi, sebutan itu timbul karena wajah Pondok Gontor yang mengintegrasikan model pendidikan ala pesantren dan ala madrasah.
Di Banyak Titik
Di luar Pesantren Gontor, tak sedikit amanah yang dipercayakan ke Pak Zar. Di antaranya, pernah di Kementerian Agama, yaitu menjadi Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Dasar (1951–1953). Juga, Kepala Dewan Pengawas Pendidikan Agama pada 1953. Pernah pula menjadi Ketua PB Persatuan Guru Islam Indonesia dan selanjutnya tetap menjadi penasihatnya hingga akhir.
Tak hanya di Kementerian Agama, ada juga kontribusi Pak Zar di Kementerian Pendidikan. Di situ, Pak Zar anggota Badan Perencanaan Peraturan Pokok Pendidikan Swasta pada 1957. Lalu, pada 1959 diangkat menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Deppernas). Pernah pula menjadi anggota Komite Penelitian Pendidikan.
Pak Zar pernah menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Juga, menjadi Anggota Delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet 1962 dan menjadi wakil Indonesia dalam Mu’tamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah (Muktamar Akademi Islam se-Dunia) VII di Kairo, 1972.
Benderang Asa
Saat KH Imam Zarkasyi meninggal pada 30 April 1985, mengundang duka banyak pihak. Sejumlah media besar menurunkan berita dan/atau obituarinya.
Kini, ketika kita memperingati 100 tahun Gontor dengan sepenuh rasa syukur, maka sangat relevan untuk menghidup-hidupkan temanya. Tema itu, sekali lagi, yaitu: Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama.
Sungguh, adapun di antara cara menghidup-hidupkannya adalah dengan terus menghadirkan pesan-pesan dari KH Imam Zarkasyi, terutama: Perbanyak karya yang membawa manfaat kepada orang lain dan hubungkan dengan prinsip amal jariyah. Semoga Allah mudahkan kita, aamiin! (*)





0 Tanggapan
Empty Comments