Ada dua landasan yang menjadi fondasi seluruh amal seorang muslim yang dikenal dengan rumus 2I, yaitu Ikhlas dan Ittiba’.
Ikhlas dan ittiba’ adalah dua pilar mutlak diterimanya segala amal ibadah dalam Islam. Ikhlas memastikan ibadah murni hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan ittiba’ memastikan pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.
Sebesar apa pun sebuah ibadah, semewah apa pun sedekah, dan setinggi apa pun jabatan sosial seseorang, semuanya dapat kehilangan nilainya apabila niatnya tidak lagi tertuju kepada Allah semata.
Sebaliknya, amal yang tampak sederhana dapat menjadi sangat agung di sisi Allah karena dikerjakan dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Bayyinah 5.
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama…”
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibadah atau Mengumpulkan Tepuk Tangan
Di zaman ketika jempol lebih cepat daripada hati, ada satu pertanyaan sederhana yang diam-diam sangat mengganggu: kita ini sedang beribadah kepada Allah, atau sedang mengumpulkan tepuk tangan manusia?
Pertanyaan itu memang terdengar sedikit “nakal”. Namun, bukankah banyak penyakit hati justru tumbuh dari pertanyaan yang tidak pernah berani kita ajukan?
Hari ini, kebaikan sering kali berubah menjadi pertunjukan. Sedekah harus difoto, membantu orang harus direkam, bahkan doa pun kadang lebih sibuk dipublikasikan daripada dipanjatkan.
Seolah-olah kamera adalah malaikat pencatat amal yang baru. Padahal dalam Islam, kualitas sebuah amal bukan pertama-tama diukur dari seberapa besar nilainya, melainkan dari seberapa bersih niat yang melahirkannya.
Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab khalasha, yang berarti bersih, murni, tidak bercampur. Seperti emas 24 karat yang tidak dicampuri logam lain, demikian pula amal yang ikhlas:
tidak dicampuri ambisi mencari popularitas, pujian, jabatan, atau penghargaan. Sayangnya, memurnikan emas lebih mudah daripada memurnikan niat.
Ironisnya, musuh terbesar ikhlas bukanlah setan. Justru sering kali adalah diri sendiri yang menyamar sebagai orang saleh. Kita berkata, “Saya hanya ingin berbagi inspirasi.”
Lalu lima menit kemudian membuka media sosial dan bertanya, “Sudah berapa yang menyukai postingan saya?” Kalau jumlahnya sedikit, hati mulai gelisah. Kalau banyak, wajah mulai berbunga. Artinya, niat yang tadi katanya menuju langit, ternyata masih sempat mampir ke notifikasi.
Di sinilah satire kehidupan modern bekerja dengan sangat halus. Kita tidak lagi mengejar pahala, tetapi mengejar algoritma. Padahal algoritma media sosial berubah setiap saat, sedangkan penilaian Allah tidak pernah salah.
Rahasia Hamba dan Allah
Tokoh sufi besar, Al-Junaid al-Baghdadi, menggambarkan ikhlas sebagai sebuah rahasia antara seorang hamba dan Allah. Begitu rahasianya, malaikat tidak mengetahuinya sehingga tidak dapat menuliskannya sebagai kebanggaan. Setan pun tidak mampu merusaknya.
Bahkan hawa nafsu pun tidak sanggup menguasainya. Betapa indahnya gambaran itu. Artinya, ikhlas bukan sesuatu yang dipamerkan. Justru ketika dipamerkan, ia sedang kehilangan kemurniannya.
Dalam literatur Islam, para ulama menjelaskan bahwa keikhlasan memiliki beberapa tingkatan. Tingkat pertama adalah ikhlasnya orang awam. Mereka beribadah karena takut neraka dan berharap surga.
Ini bukan sesuatu yang buruk, bahkan sangat manusiawi. Anak kecil pun belajar disiplin karena ada hadiah dan hukuman. Namun, perjalanan ruhani tidak berhenti di sana.
Tingkat berikutnya adalah ikhlasnya orang-orang yang mencintai Allah. Mereka beribadah karena rasa syukur, cinta, dan kerinduan kepada Sang Pencipta. Surga bukan lagi tujuan utama, melainkan bonus dari sebuah cinta.
Lalu ada tingkatan tertinggi, yaitu para arifin. Mereka taat bukan karena takut ataupun berharap balasan. Mereka taat karena menyadari bahwa Allah memang layak ditaati.
Semua yang dimiliki hanyalah titipan-Nya. Bahkan kemampuan untuk beribadah pun merupakan karunia-Nya.
Ini seperti seorang anak yang memeluk ibunya bukan karena ingin dibelikan mainan, melainkan karena ia memang mencintai ibunya.
Begitulah cinta bekerja. Ia tidak selalu membutuhkan alasan, imbalan, atau tepuk tangan.
Allah bukan Pegawai
Keikhlasan juga diuji bukan ketika hidup berjalan mulus, melainkan ketika kenyataan menolak bekerja sama dengan harapan.
Kita sering berkata, “Saya sudah berdoa.” Tetapi diam-diam maksudnya adalah, “Ya Allah, laksanakan proposal saya.” Begitu doa tidak sesuai ekspektasi, hati mulai menggugat.
Padahal orang yang ikhlas memahami bahwa Allah bukan pegawai administrasi yang wajib menyetujui semua permohonan hamba-Nya.
Allah adalah Rabb yang Maha Mengetahui kapan memberi, kapan menunda, dan kapan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik.





0 Tanggapan
Empty Comments