Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Shenzhen Futian Shixia School, Saat Anak Kelas Empat Mulai Belajar Kedirgantaraan

Iklan Landscape Smamda
Shenzhen Futian Shixia School, Saat Anak Kelas Empat Mulai Belajar Kedirgantaraan
Penulis bersama siswa Shenzhen Futian Shixia School. Foto: Dok/Pri

Hari keempat di China, Kamis (17/9/2026), rombongan Training Manajemen and Leadership Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah tiba di Shenxhen Futian Shixia School.

Pagi itu, kami melihat sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sekolah yang luas. Bukan pula sekadar gedung yang modern.

Yang menarik justru cara sekolah ini memperkenalkan masa depan kepada anak-anak.

Shenxhen Futian Shixia School berdiri di lahan sekitar tiga hektare. Sebanyak 5.400 siswa belajar di dalamnya. Mereka berasal dari jenjang SD hingga SMP. Sembilan tahun. Itulah rentang pendidikan wajib yang mereka jalani di sekolah ini.

Kami diterima pimpinan sekolah. Seperti lazimnya sebuah kunjungan, ada sambutan dan foto bersama di halaman sekolah.

Tetapi setelah itu, cerita menjadi lebih menarik. Kami diajak berkeliling. Ruang demi ruang. Kegiatan demi kegiatan.

Sekolah ini terasa seperti laboratorium besar tempat anak-anak belajar mengenali dunia. Ada kelas dirgantara.

Sejak kelas empat, siswa mulai diperkenalkan pada dunia kedirgantaraan. Anak yang memiliki minat lebih jauh dapat mengikuti kelas khusus untuk mendalaminya.

Shenzhen Futian Shixia School, Saat Anak Kelas Empat Mulai Belajar Kedirgantaraan
Aktivitas harian di Shenzhen Futian Shixia School yang Shenzhen Futian Shixia School. Foto: Dok/Pri

Guru-gurunya bukan sekadar menguasai teori di buku. Mereka didatangkan dari kalangan yang memiliki keahlian di bidang dirgantara.

Sekolah juga bekerja sama dengan perguruan tinggi terbaik di China yang memiliki kepakaran dalam bidang tersebut.

Anak-anak tidak hanya diberi tahu bahwa pesawat bisa terbang. Mereka diperkenalkan pada ilmu yang membuatnya bisa terbang.

Di ruangan lain, kami menemukan kelas keramik. Anak-anak membuat karya dengan tangan mereka sendiri. Tidak berhenti pada latihan. Karya yang dibuat dituntut layak jual.

Di sini, kreativitas bertemu dengan keterampilan. Anak belajar bahwa sebuah karya bukan hanya untuk dipuji, tetapi juga bisa memiliki nilai.

Lalu ada kelas manufaktur. Kayu-kayu diolah menjadi berbagai benda. Anak-anak memotong, menyusun, merakit, dan menghasilkan karya.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat sesuatu yang semula hanya berupa bahan mentah berubah menjadi benda yang berguna.

Di ruang lain, dunia berubah lagi. Matematika. Komputer. Artificial intelligence.

SMPM 5 Pucang SBY

Teknologi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dari anak-anak. Ia diperkenalkan sebagai bagian dari proses belajar.

Kami seperti sedang melihat satu pesan besar yang disampaikan sekolah ini tanpa banyak kata:

Anak tidak cukup hanya disiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka perlu diberi kesempatan untuk membuat masa depan.

Karena itu, sekolah tidak hanya mengajarkan apa yang sudah diketahui. Anak-anak juga diajak mencoba. Membuat. Merancang. Memecahkan masalah. Bahkan menghasilkan sesuatu yang bisa bernilai.

Shenzhen Futian Shixia School, Saat Anak Kelas Empat Mulai Belajar Kedirgantaraan
Shenzhen Futian Shixia School yang megah. Foto: Dok/Pri

Itulah yang membuat kunjungan ini terasa berbeda. Sekolah bukan sekadar tempat anak duduk berjam-jam mendengarkan guru. Sekolah bisa menjadi tempat anak menemukan minatnya.

Seorang anak mungkin tertarik pada pesawat. Yang lain pada keramik. Yang lain pada kayu. Yang lain pada matematika, komputer, atau AI.

Minat itu tidak harus menunggu sampai kuliah. Ia bisa dikenalkan sejak sekolah dasar.

Mungkin inilah salah satu hal penting yang kami bawa pulang dari Shenxhen Futian Shixia School.

Pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan pertanyaan, anak ini nanti mau menjadi apa?

Bisa juga dimulai dengan pertanyaan yang lebih sederhana: Apa yang ingin ia coba? Dari sana, bakat bisa tumbuh. Kepercayaan diri bisa terbentuk. Dan masa depan perlahan menemukan bentuknya.

Setelah berkeliling, rombongan kembali berkumpul di aula. Kunjungan ditutup dengan pertemuan dan foto bersama. Kami kemudian meninggalkan sekolah itu.

Tetapi satu hal masih tertinggal di kepala. Sekolah ternyata bisa menjadi tempat yang sangat luas untuk bermimpi. Tiga hektare luas tanahnya. 5.400 siswanya.

Tetapi yang paling luas mungkin bukan halaman atau gedungnya. Melainkan ruang yang diberikan kepada anak-anak untuk membayangkan masa depan mereka sendiri. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/09/2026 10:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu