Ada orang yang kalau berbicara sulit berhenti. Di rumah, ia mendominasi percakapan. Di tempat kerja, hampir semua pembicaraan ingin ia kuasai. Di grup WhatsApp, komentarnya datang bertubi-tubi. Bahkan ketika orang lain sedang menyampaikan sesuatu, ia sudah buru-buru memotong.
Ada pula yang suka mengganggu dengan kata-kata. Candaan dibuat berlebihan. Kekurangan orang lain dijadikan bahan tertawaan. Kalimat yang dianggap lucu justru melukai. Ketika ditegur, ia menjawab, “Kan cuma bercanda.”
Masalahnya, tidak semua yang membuat kita tertawa membuat orang lain bahagia.
Lebih jauh lagi, ada orang yang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Ia sulit menerima nasihat. Merasa paling tahu. Merasa paling benar. Ketika orang lain berbicara, ia mendengarkan bukan untuk memahami, tetapi untuk mencari celah agar bisa membantah.
Tiga perangai ini tampak sederhana. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan yang sangat serius.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya di antara kamu.
Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi apakah al-mutafaihiqun?”
Beliau menjawab:
“Orang-orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Setelah meriwayatkan hadis ini, Imam Tirmidzi rahimahullah menjelaskan bahwa ats-tsartsar adalah orang yang banyak bicara, sedangkan al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa mengganggu orang lain dengan perkataan dan berbicara jorok kepada mereka.
Imam Ibnul Atsir rahimahullah dalam kitab an-Nihayah menjelaskan, ats-tsartsarun adalah orang-orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri dan keluar dari kebenaran.
Adapun al-mutasyaddiqun adalah orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa kehati-hatian.
Ada pula yang mengatakan bahwa al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang lain dengan mencibirkan bibir ke arah mereka.
Kita mungkin pernah bertemu orang seperti itu. Tetapi pertanyaannya bukan hanya: “Siapa orang itu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Jangan-jangan kita pernah menjadi orang itu?”
Sebab penyakit lisan sering lebih mudah kita lihat pada orang lain daripada pada diri sendiri.
Kita merasa sedang menjelaskan. Padahal mungkin sedang terlalu banyak bicara.
Kita merasa sedang bercanda. Padahal mungkin ada hati yang sedang terluka.
Kita merasa sedang mempertahankan pendapat. Padahal mungkin yang sedang bekerja adalah kesombongan.
Di sebuah meja makan, misalnya. Seseorang sedang bercerita tentang kegagalannya. Ia berharap didengarkan. Belum selesai bercerita, orang di sebelahnya menyela.
“Ah, itu belum seberapa.”
Lalu ia bercerita tentang masalah yang pernah dialaminya. Lebih besar. Lebih berat. Lebih hebat.
Percakapan pun berubah.
Bukan lagi tentang orang yang sedang membutuhkan telinga. Melainkan tentang siapa yang paling banyak mengalami masalah.
Begitu juga di kantor. Ada seorang karyawan menyampaikan gagasan. Belum selesai, sudah dipotong.
“Itu sudah pernah dilakukan.”
Padahal mungkin belum tentu.
Yang lebih menyedihkan, kadang-kadang kita baru menyadari kesalahan itu setelah orang lain memilih diam.
Ia tidak membantah. Tidak marah. Tidak menegur. Ia hanya berhenti bercerita.
Di situlah kita perlu belajar bahwa menjaga lisan bukan hanya soal tidak berkata kasar. Menjaga lisan juga berarti tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Tahu kapan memberi nasihat. Tahu kapan mendengarkan. Tahu kapan bercanda. Dan tahu kapan sebuah candaan harus dihentikan.
Akhlak yang baik bukan sekadar suara yang lembut. Akhlak yang baik juga tampak dari kemampuan membuat orang lain merasa aman ketika berada di dekat kita.
Orang tidak takut salah bicara di hadapan kita. Orang tidak merasa direndahkan ketika menyampaikan pendapat. Orang tidak pulang dengan membawa luka hanya karena lima menit berbincang dengan kita.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru menghubungkan kedekatan dengan beliau pada hari kiamat dengan akhlak. Yang paling beliau cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya.
Maka memperbaiki akhlak bukan perkara kecil. Bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Kurangi bicara yang tidak perlu. Jangan memotong pembicaraan. Jangan menjadikan kekurangan orang sebagai bahan hiburan.
Jangan merasa lebih tinggi hanya karena lebih banyak ilmu, harta, jabatan, pengalaman, atau pengikut. Sebab semua yang kita miliki pada akhirnya adalah titipan.
Hari ini kita bisa berada di atas. Besok mungkin kita membutuhkan pertolongan orang yang selama ini kita remehkan.
Dan pada akhirnya, kita semua akan berdiri di hadapan Allah tanpa membawa jabatan, tanpa membawa popularitas, tanpa membawa tepuk tangan manusia.
Yang ikut bersama kita adalah amal. Termasuk bagaimana kita menggunakan lisan.
Semoga Allah memperbaiki akhlak kita, menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia dan menyakiti, serta menjauhkan hati kita dari kesombongan.
Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad.
Yaa Allah, Yaa Rabb, Yaa Rahman, Yaa Rahim, ampunilah salah dan dosa kami. Jadikanlah kami hamba yang istiqamah menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Tetapkan kami sebagai hamba yang tetap beriman, Islam, sehat, serta selalu dalam limpahan hidayah, rahmat, dan lindungan-Mu di dunia dan di akhirat.
Yaa Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang barokah, dan amalan yang Engkau terima.
Yaa Allah, terimalah dan kabulkanlah doa-doa kami. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments