Seorang lelaki masih duduk di teras rumah. Di depannya secangkir kopi yang sudah dingin. Ponselnya tergeletak di atas meja. Tidak ada pesan baru.
Beberapa jam sebelumnya ia baru saja mendapat kabar: usahanya gagal. Modal habis. Pesanan menurun. Utang masih harus dibayar.
Ia menatap cangkir kopi. Menarik napas panjang. Besok mungkin ia akan bangun dengan masalah yang sama. Tetapi setidaknya masih ada kata besok.
Itulah dunia. Gagal bisnis, masih bisa mulai lagi. Gagal bekerja, masih bisa mencari pekerjaan lain. Gagal cinta, masih bisa sembuh. Kadang sambil ngopi bersama teman. Gagal ujian, masih bisa belajar dan mencoba tahun depan.
Bahkan ketika seseorang jatuh berkali-kali, dunia masih menyediakan kesempatan untuk bangkit. Hari ini gagal, besok dicoba lagi.
Tahun ini belum berhasil, tahun depan diperjuangkan kembali. Dunia memang tempat yang penuh kesempatan kedua. Bahkan kadang kesempatan ketiga, keempat, dan entah yang keberapa.
Tetapi ada satu kegagalan yang tidak menyediakan kesempatan untuk mengulang. Kegagalan di akhirat. Di sana tidak ada tombol reset. Tidak ada revisi.
Tidak ada kesempatan untuk berkata, “Ya Allah, beri saya satu kesempatan lagi. Kali ini saya akan berubah.”
Ketika kehidupan dunia berakhir, lembar ujian itu ditutup. Yang tersisa adalah catatan amal.
Yang dipertanggungjawabkan bukan lagi apa yang ingin kita lakukan, melainkan apa yang benar-benar kita kerjakan.
Di situlah persoalannya. Sering kali kita begitu serius mempersiapkan masa depan dunia, tetapi lupa bahwa ada masa depan yang jauh lebih panjang.
Kita menghitung tabungan. Menghitung cicilan. Menghitung keuntungan. Menghitung berapa tahun lagi bisa membeli rumah. Menghitung berapa anak yang harus disekolahkan.
Tetapi berapa kali kita menghitung bekal untuk pulang?
Kita bisa panik ketika saldo rekening berkurang. Tetapi pernahkah kita gelisah ketika salat mulai berkurang?
Kita takut kehilangan pekerjaan. Tetapi apakah kita takut kehilangan kesempatan untuk berbuat baik?
Kita menjaga hubungan dengan orang yang kita cintai. Tetapi bagaimana dengan hubungan kita dengan Allah?
Barangkali inilah jebakan paling halus dalam kehidupan. Bukan ketika kita tidak memiliki dunia. Justru ketika dunia terlalu sibuk kita kejar sampai kita lupa untuk apa sebenarnya hidup ini.
Padahal dunia bukan tempat tinggal terakhir. Ia hanya tempat singgah. Kita bekerja, tetapi pekerjaan bukan tujuan terakhir. Kita mencari uang, tetapi uang bukan tujuan terakhir.
Kita membangun rumah, tetapi rumah bukan tujuan terakhir. Kita mengejar kesuksesan, tetapi kesuksesan dunia pun bukan tujuan terakhir.
Semua akan ditinggalkan. Pada akhirnya kita pulang hanya membawa apa yang pernah kita kerjakan.
Karena itu mengejar dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dunia menjadi tujuan terbesar.
Kerja dengan sungguh-sungguh. Berbisnis dengan jujur. Mencari rezeki yang halal. Mendidik anak dengan baik. Menikmati kopi sesekali. Tertawa bersama keluarga. Semua itu boleh. Bahkan bisa menjadi amal jika diniatkan dengan benar.
Tetapi jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat kita lupa menyiapkan perjalanan pulang. Ada satu bekal yang sering kita abaikan: memaafkan. Kita membawa banyak luka dalam hidup.
Ada pesan yang tidak pernah dibalas. Ada perkataan yang masih terngiang. Ada teman yang mengkhianati.
Ada saudara yang mengecewakan. Ada orang yang pernah merendahkan kita. Bertahun-tahun kemudian, orang itu mungkin sudah lupa. Tetapi kita masih mengingatnya.
Kadang bukan karena lukanya masih berdarah, melainkan karena kita terus menyentuhnya dalam ingatan.
Padahal hati yang terlalu sibuk mengingat kesalahan orang lain bisa kehilangan ruang untuk mengingat Allah.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa memaafkan termasuk akhlak orang-orang shiddiqin, karena hati mereka sibuk mengingat Allah sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengingat kesalahan orang lain.
Memaafkan memang tidak selalu berarti mengatakan bahwa kesalahan itu benar. Bukan pula berarti membiarkan kezaliman terus terjadi.
Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membawa luka itu terlalu jauh. Sebab kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup.
Bisa jadi orang yang hari ini kita benci justru menjadi sebab kita belajar tentang kesabaran. Bisa jadi orang yang pernah menyakiti kita menjadi alasan kita belajar melepaskan.
Dan bisa jadi, sebelum sempat meminta maaf, salah satu dari kita sudah lebih dulu dipanggil Allah.
Hasan al-Bashri mengingatkan, orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu memaafkan kesalahan orang lain.
Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah mengungkapkan keinginannya untuk memaafkan orang yang menzaliminya agar tidak ada orang yang kelak berdiri di hadapan Allah karena sebab dirinya.
Kalimat itu terasa berat. Sebab kita hidup dengan naluri ingin membalas. Disakiti, ingin menyakiti balik. Dihina, ingin membalas penghinaan. Dikecewakan, ingin membuat orang lain merasakan kekecewaan yang sama.
Tetapi hidup terlalu singkat untuk menyimpan semua itu. Dan akhirat terlalu panjang untuk mempertaruhkan semuanya demi dendam.
Mungkin malam ini kita memang sedang gagal dalam banyak hal. Bisnis belum berhasil. Karier belum seperti yang diharapkan. Cinta kandas. Ujian belum lulus. Rencana berantakan. Tidak apa-apa.
Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan memperbaiki. Masih ada esok pagi. Masih ada sajadah. Masih ada istighfar. Masih ada tangan yang bisa diulurkan untuk menolong. Masih ada hati yang bisa belajar memaafkan. Masih ada amal yang bisa ditanam.
Dunia masih memberi kesempatan. Tetapi jangan sampai kita berhasil di dunia dengan cara yang membuat kita gagal di akhirat. Sebab secangkir kopi yang dingin masih bisa dibuatkan yang baru. Bisnis yang bangkrut masih bisa dirintis kembali.
Hati yang patah masih bisa disembuhkan. Tetapi ketika perjalanan dunia benar-benar selesai, tidak ada lagi kata coba lagi. Tidak ada hari esok untuk memperbaiki catatan amal.
Maka kejarlah dunia secukupnya. Nikmati secukupnya. Bekerjalah sebaik-baiknya. Tetapi siapkan perjalanan pulang semaksimal mungkin.
Sebab dunia adalah tempat kita menanam. Akhirat adalah tempat kita memanen. Semoga ketika waktunya tiba, kita tidak pulang dengan tangan kosong.
Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jadikan akhirat sebagai tujuan terbesar kami. Ampuni kesalahan kami, lembutkan hati kami, dan ajarkan kami memaafkan sebelum kami diminta mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan-Mu. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments