Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ikhlas: Berbuat Baik Tanpa Haus Pengakuan

Iklan Landscape Smamda
Ikhlas: Berbuat Baik Tanpa Haus Pengakuan
Hari ini, kebaikan sering kali berubah menjadi pertunjukan. Sedekah harus difoto, membantu orang harus direkam, bahkan doa pun kadang lebih sibuk dipublikasikan daripada dipanjatkan. (Mirko Bozzato/PWMU.CO).

Ikhlas berarti menerima bahwa tidak semua pintu yang tertutup adalah musibah. Bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari ruangan yang sedang terbakar.

Orang yang ikhlas juga memiliki ciri yang sederhana tetapi sangat sulit dipraktikkan. Ia tidak lapar pujian.

Ia tetap berbuat baik ketika tidak ada kamera, tetap jujur ketika tidak ada pengawas, dan tetap bekerja sungguh-sungguh meski tidak ada yang memberi penghargaan. Sebab ia tahu, penghargaan manusia hanyalah bonus, sedangkan ridho Allah adalah tujuan.

Lucunya, kita sering lebih khawatir dilihat manusia daripada dilihat Allah. Padahal manusia hanya melihat penampilan, sedangkan Allah melihat isi hati.

Kita menyetrika baju berjam-jam agar tampak rapi di hadapan tamu, tetapi hati yang kusut oleh riya sering kali dibiarkan tanpa setrika. Mungkin karena belum ada jasa laundry untuk membersihkan niat.

Di sinilah filsafat ikhlas menjadi sangat dalam. Ikhlas bukan berarti berhenti berkarya, bukan berarti menolak penghargaan, dan bukan pula berarti anti terhadap media sosial.

Manusia Mudah Lupa

Ikhlas adalah memastikan bahwa semua itu tidak menjadi tujuan utama. Pujian boleh datang, tetapi jangan dijadikan makanan jiwa.

Kritik boleh hadir, tetapi jangan membuat langkah berhenti. Popularitas boleh menghampiri, tetapi jangan sampai menggeser kiblat hati.

Karena sesungguhnya, manusia hanya penonton yang mudah lupa. Hari ini memuji, besok mencaci. Hari ini mengangkat, besok menjatuhkan. Hanya Allah yang penilaian-Nya tidak pernah berubah.

SMPM 5 Pucang SBY

Pada akhirnya, ikhlas bukan perjalanan menuju pengakuan atau validasi manusia, melainkan perjalanan pulang menuju Allah.

Semakin ikhlas seseorang, semakin tenang hidupnya. Ia tidak lagi sibuk membuktikan dirinya kepada dunia. Ia cukup memastikan dirinya dikenal di langit.

Mungkin itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa amal yang kecil tetapi ikhlas jauh lebih berat timbangannya daripada amal yang besar tetapi dipenuhi riya.

Sebab Allah tidak menghitung seberapa ramai tepuk tangan manusia. Allah menghitung seberapa murni hati yang bekerja.

Maka, sebelum kita bertanya, “Berapa banyak orang yang menyukai amal saya?”, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Apakah Allah meridhoi amal saya?” Kalau jawabannya “ya”, maka tepuk tangan dunia boleh datang atau tidak datang. Tidak ada yang benar-benar hilang.

Sebab bagi orang yang ikhlas, ridho Allah selalu lebih besar daripada riuhnya manusia.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 18/09/2026 01:28
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu