Jumat (18/9/2026) malam , saya bertemu kawan lama. Namanya Gatot Tjatur Prasetyo. Dia pemilik “Warung Dewi” yang cukup laris. Berdiri pada tahun 1978. Lokasinya di Jalan Darmokali, Surabaya.
Warung itu menyediakan menu makanan tradisional. Tidak macam-macam. Makanan yang akrab dengan lidah orang kampung.
Usahanya berkembang. Pelan-pelan. Dari warung itu, Gatot sudah memiliki beberapa properti. Beberapa mobil juga sudah dimilikinya.
Tetapi bukan soal kesuksesan itu yang membuat saya tertarik pada cerita Gatot. Warung yang kini dikelolanya merupakan warisan sang ibu. Nama warung itu pun diambil dari nama ibunya, sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan yang telah tiada.
Beberapa kakaknya pernah mencoba meneruskan usaha tersebut. Namun, warung itu tidak berkembang di tangan mereka.
Ketika Gatot yang menjalankan, warung itu justru tumbuh. Tidak tiba-tiba besar. Lamat, tetapi pasti. Sampai akhirnya menjadi usaha yang cukup berhasil.
Ada dua pesan ibunya yang sampai sekarang masih diingat Gatot. Kalau ada orang yang tidak bisa makan, beri dia makan. Tidak usah bayar.
Pesan kedua: bantulah tetangga, terutama para janda dan orang tua yang sudah tidak bisa bekerja. Bantu mereka. Cukupkan kebutuhan makan mereka.
Pesannya sederhana. Tetapi Gatot menyimpannya.
Hari itu, saya melihat sendiri bagaimana pesan itu bekerja. Saat kami sedang berbincang, Gatot tiba-tiba memanggil seseorang. Namanya Kadar. Usianya sudah 60-an tahun. Saya juga mengenalnya.
Kadar hidup dalam keterbatasan. Orang kampung mengenalnya sebagai orang miskin. Gatot memanggilnya.
“Dar, makan!”
Kadar mendekat. Gatot menyuruhnya segera makan di warung. Saya baru mengetahui sebuah kebiasaan kecil yang selama ini terjadi. Kalau Kadar merasa lapar, dia sering berjalan di depan warung Gatot. Dia tidak pernah mengatakan, “Saya lapar.”
Tidak pernah berkata, “Boleh saya makan?”
Apalagi meminta. Dia hanya lewat. Mungkin berharap Gatot atau istrinya melihatnya. Dan kalau Gatot atau istrinya ada, mereka akan mempersilakannya makan.
Saya terdiam mendengar cerita itu. Ada orang yang lapar tetapi tidak sanggup mengatakan bahwa dirinya lapar.
Ada pula orang yang cukup peka untuk mengerti tanpa harus mendengar permintaan.
Kadar tidak meminta. Gatot tidak menunggu permintaan. Saya kira di situlah pesan ibu Gatot menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Bukan dalam kalimat. Bukan dalam teori. Tetapi dalam sepiring makanan. Orang lapar makan. Selesai.
Tidak ada pertanyaan panjang. Tidak ada pemeriksaan apakah ia benar-benar miskin. Tidak ada kewajiban membalas.
Dan yang mungkin lebih penting: tidak ada keharusan bagi Kadar untuk merendahkan dirinya dengan meminta-minta.
Gatot cukup memanggil.
“Makan.”
***
Saya teringat ajaran Islam tentang memberi makan. Al-Qur’an memuji orang-orang yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang membutuhkan, sementara yang mereka cari adalah rida Allah.
Memberi makan ternyata bukan hanya perkara mengisi perut. Ada martabat manusia yang juga harus dijaga.
Mungkin itu sebabnya kebaikan paling indah kadang justru tidak banyak bicara. Sepiring nasi. Segelas minum. Sebuah panggilan.
“Makan.”
Gatot mempunyai tiga anak. Anak pertama sudah bekerja sebagai guru. Anak kedua sedang kuliah di Universitas Jember, semester lima. Anak ketiga masih belum sekolah.
Gatot sendiri tidak pernah kuliah. Hanya lulusan SMA. Istrinya juga tidak lulus SMP. Tetapi sejak lama mereka selalu mendorong anak-anaknya untuk sekolah dan menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Gatot sering mengajak anak-anaknya berbincang ketika sedang santai di rumah.
Dia mengatakan, “Aku sering ngajak ngobrol anak-anakku kalau pas lagi santai di rumah. Tak kandani, lek pingin sekolah opo kuliah maneh, tak dukung. Insya Allah bapak siapno duwike.” (Kalau ingin sekolah atau kuliah lagi, saya dukung. Insya Allah, Bapak siapkan uangnya).
Kalimat yang sederhana. Tetapi saya membayangkan betapa besar artinya bagi seorang anak.
Ayah yang tidak pernah kuliah justru berkata kepada anaknya: kalau ingin belajar lebih tinggi, Bapak akan berusaha membiayai.
Dari mana keyakinan itu datang? Gatot menyebut seorang tetangganya: Bu Zulaichah.
“Dia janda. Hanya punyai warung kelontong kecil. Tetapi tujuh anaknya bisa kuliah sampai lulus,” ujar Gatot.
Gatot belajar dari kehidupan di sekitarnya. Dia melihat sendiri bahwa warung kecil tidak harus melahirkan cita-cita yang kecil.
Seorang janda bisa mengantarkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Maka ia pun ingin anak-anaknya mendapatkan kesempatan yang sama.
Saya kemudian melihat ada benang merah dari semua cerita itu. Ibu Gatot mengajarinya memberi makan orang yang lapar. Gatot meneruskannya kepada Kadar dan orang-orang lain yang membutuhkan.
Gatot juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mengejar ilmu setinggi mungkin. Sementara ia sendiri belajar dari Bu Zulaichah.
Begitulah nilai berpindah. Tidak selalu melalui sekolah. Tidak selalu melalui buku. Kadang melalui seorang ibu. Kadang melalui tetangga.
Kadang melalui seorang lelaki tua yang berjalan pelan di depan warung karena sedang lapar. Dan kadang melalui sepiring nasi yang diberikan tanpa diminta.
***
Al-Qur’an menggambarkan sedekah seperti benih yang tumbuh berkali-kali lipat. Saya suka perumpamaan itu. Sebab kebaikan memang seperti benih.
Kita tidak pernah tahu ke mana ia akan tumbuh. Ibu Gatot menanam satu pesan. Gatot menjaganya.
Kemudian dia menanam nilai lain kepada anak-anaknya. Kebaikan bergerak. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Barangkali suatu hari nanti anak-anak Gatot akan mengingat sesuatu dari ayahnya. Bukan hanya warung. Bukan hanya mobil. Bukan pula properti.
Mungkin mereka akan mengingat bagaimana ayahnya memperlakukan orang miskin. Bagaimana seorang Kadar datang ke warung tanpa pernah berani meminta.
Lalu ayahnya berkata: “Makan.”
Mungkin mereka juga akan mengingat pesan ayahnya: Kalau ingin sekolah lagi, Bapak dukung. Insya Allah Bapak siapkan uangnya.
Dua kalimat yang kelihatannya sangat berbeda. Yang satu tentang makan. Yang satu tentang pendidikan. Tetapi keduanya mempunyai akar yang sama: memberi kesempatan kepada orang lain untuk hidup lebih baik.
Kepada Kadar, Gatot memberi kesempatan untuk melewati hari tanpa lapar. Kepada anak-anaknya, ia memberi kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.
Mungkin itulah rezeki yang sebenarnya. Bukan hanya sesuatu yang masuk ke rumah kita. Tapi sesuatu yang melewati tangan kita dan sampai kepada orang lain.
Kita sering mengira warisan adalah rumah, tanah, uang, kendaraan, atau usaha.
Gatot memang mendapatkan warung dari ibunya. Tetapi warisan paling penting dari ibunya bukan warung itu. Melainkan pesan. Kalau ada orang tidak bisa makan, beri dia makan. Tidak usah bayar. Dan Gatot tampaknya memahami pesan itu dengan cara yang sangat sederhana.
Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu membuat orang malu. Tidak perlu menunggu orang meminta.
Kadang kita hanya perlu melihat. Ada orang yang sedang lapar. Ada tetangga yang kesulitan. Ada anak yang ingin sekolah. Lalu kita melakukan apa yang bisa kita lakukan.
Saya pulang dari pertemuan dengan Gatot sambil membawa satu pikiran sederhana.
Bisa jadi ukuran kekayaan seseorang bukan hanya apa yang bisa ia beli. Tetapi juga berapa banyak orang yang bisa ia bantu tanpa membuat mereka merasa sedang dikasihani.
Warung Gatot boleh semakin besar. Mobil boleh bertambah. Properti boleh bertambah. Anak-anaknya boleh sekolah semakin tinggi.
Tetapi semoga satu hal tidak pernah berubah: ketika ada orang lapar berjalan di depan warungnya, Gatot tetap bisa melihatnya.
Dan ketika Kadar lewat tanpa berkata apa-apa, masih ada seseorang yang memanggil: “Dar, makan!” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments