Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus mendorong keterlibatan dai muda dalam menjawab tantangan dakwah di era digital. Penguatan tersebut salah satunya dilakukan melalui pembekalan wawasan dakwah wasathiyah kepada para calon muballigh Muhammadiyah.
Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menyampaikan materi tentang dakwah wasathiyah di hadapan peserta Pelatihan Muballigh Muhammadiyah Nasional yang diselenggarakan oleh PC IMM Sukoharjo, Jumat (18/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Arifin mengajak dai muda untuk tidak hanya aktif berdakwah di mimbar, tetapi juga hadir di ruang digital dengan konten yang mencerahkan, santun, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
“LDK PP Muhammadiyah ingin terus menggandeng dan membersamai dai muda agar dakwah Muhammadiyah semakin dekat dengan generasi generasi hari ini. Ruang dakwah sekarang bukan hanya masjid dan mimbar, tetapi juga media sosial,” ujar Arifin.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah melahirkan perubahan besar dalam pola masyarakat menerima informasi keagamaan. Dai yang ingin menjangkau generasi muda harus mampu memahami karakter komunikasi di dunia digital tanpa kehilangan kedalaman ilmu dan akhlak dalam berdakwah.
Dai Muda Wajib Hadirkan Konten Wasathiyah
Arifin menegaskan bahwa salah satu tantangan dakwah di media sosial adalah munculnya konten keagamaan yang mudah memancing perdebatan, saling menyalahkan, bahkan menunjukkan sikap arogan.
Karena itu, ia mendorong dai muda untuk menghadirkan konten wasathiyah yang mengedepankan keseimbangan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan.
“Dai muda wajib hadirkan konten wasathiyah, bukan dakwah arogan. Jangan sampai media sosial menjadi tempat mempertontonkan siapa yang paling benar. Dakwah harus mengajak, bukan menghakimi; mencerahkan, bukan merendahkan,” tegasnya.
Arifin menyebut generasi dai saat ini harus mampu memahami dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata dan dunia maya.
“Kalau dai hanya memahami dunia nyata tetapi tidak memahami dunia maya, ada ruang dakwah yang akan kita tinggalkan. Sebaliknya, kalau hanya mengejar viralitas tanpa ilmu dan akhlak, dakwah juga kehilangan substansinya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan para dai muda untuk memiliki kemampuan literasi digital. Di tengah derasnya informasi, dai harus mampu melakukan tabayun, memeriksa sumber informasi, dan tidak ikut menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.
Membangun Ekosistem Dai Muda
Lebih jauh, Arifin menilai penguatan dai muda tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sesaat. Diperlukan ekosistem yang memungkinkan para dai muda terus belajar, berjejaring, menghasilkan karya, dan hadir di tengah persoalan masyarakat.
“Dai muda jangan hanya dipersiapkan untuk bisa berceramah. Mereka harus disiapkan menjadi komunikator dakwah yang mampu membaca perubahan zaman, memahami masyarakat, dan memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan nilai-nilai Islam,” katanya.
Ia berharap semakin banyak dai muda Muhammadiyah yang berani memasuki ruang digital dengan membawa konten keislaman yang berkualitas.
“Viral boleh, tetapi jangan menjadikan viralitas sebagai tujuan utama. Ukuran yang lebih penting adalah manfaat. Apakah konten kita memberikan pencerahan, membangun akhlak, memperkuat persaudaraan, dan membuat masyarakat semakin dekat dengan kebaikan,” ujar Arifin.
Melalui penguatan peran dai muda tersebut, LDK PP Muhammadiyah mendorong dakwah agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar Islam yang mencerahkan dan menggembirakan.
“Dakwah hadir untuk mencerahkan dan menggembirakan. Mari kita isi ruang digital dengan ilmu, akhlak, dan kedamaian, bukan dengan kesombongan dan arogansi,” pungkas Muchamad Arifin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments