Empat masjid Muhammadiyah di Tuban kini tidak hanya menjadi tempat ibadah. Di atas bangunannya, panel-panel surya terpasang, menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi sumber listrik.
Pemandangan itulah yang menarik perhatian PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Selasa (15/9/2026) pukul 09.30 WIB, rombongan BSI datang ke Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban. Bukan sekadar kunjungan silaturahmi, kedatangan tersebut menjadi pintu untuk membicarakan kemungkinan sinergi yang lebih luas antara BSI dan Muhammadiyah.
Perwakilan BSI Pusat dari Jakarta, Yursita dan Faris, hadir bersama jajaran BSI Tuban. Salah satu hal yang ingin mereka lihat lebih dekat adalah program pemanfaatan energi surya yang dikembangkan Muhammadiyah Tuban.
Sekretaris PDM Tuban Edi Utomo menjelaskan, energi terbarukan menjadi salah satu program yang tengah dikembangkan. Empat masjid Muhammadiyah telah memulai langkah tersebut dengan memanfaatkan panel surya.
“Program ini memang sedang kita jalankan dan sudah mulai kita lakukan. Namun, kita masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk BSI dan stakeholder lainnya,” ujarnya.
Bagi Edi, energi surya tidak berhenti pada persoalan bagaimana masjid mendapatkan sumber listrik alternatif. Lebih jauh, energi terbarukan diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat.
Dari energi menuju ekonomi.
“Kita ingin agar pengembangan energi ini juga bisa di-upgrade menjadi potensi ekonomi lokal. Jadi, tidak hanya berbicara soal energi, tetapi juga bagaimana energi terbarukan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan luasnya ekosistem Muhammadiyah Tuban. Edi menyebut terdapat berbagai potensi yang bisa dikembangkan bersama, mulai dari masjid, lembaga pendidikan, Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM), Surya Mart, Suli 5 atau pabrik air minum, hingga sektor properti.
Di bidang properti, misalnya, Muhammadiyah Tuban tengah mengembangkan rumah subsidi. Sebagian unitnya bahkan telah bekerja sama dengan BSI.
“Prinsipnya adalah bagaimana kita bisa saling membantu, saling mendukung, dan saling memberikan manfaat,” kata Edi.
BSI Melihat Muhammadiyah sebagai Ekosistem
Kunjungan tersebut juga menjadi momentum bagi BSI Tuban untuk memperkenalkan gagasan Islamic Ecosystem.
Pimpinan BSI Tuban Yudi mengatakan, dirinya baru mendapatkan amanah memimpin BSI Tuban sejak 3 September 2026. Menurutnya, BSI memiliki divisi khusus yang menangani pengembangan ekosistem ekonomi Islam, termasuk melalui sinergi dengan organisasi Islam seperti Muhammadiyah.
“Kami ingin bersama-sama bersinergi dalam mengembangkan ekonomi syariah. Kami ingin ikut membantu pembangunan dan mendorong agar umat dapat berkembang dan tidak tertinggal,” ujarnya.
Menurut Yudi, Muhammadiyah memiliki ekosistem yang luas dan beragam. Masjid menjadi salah satu kekuatan penting, tetapi bukan satu-satunya.
Karena itu, ia mengusulkan agar berbagai potensi Muhammadiyah Tuban dihimpun dalam sebuah katalog. Katalog tersebut nantinya dapat menjadi peta bagi BSI untuk melihat bidang-bidang yang berpotensi dikolaborasikan.
“Ke depan mungkin kita bisa membuat kegiatan bersama, seperti pameran atau kegiatan promosi yang mempertemukan potensi Muhammadiyah dengan layanan BSI,” katanya.
Berawal dari Instagram, Berlanjut ke Tuban
Ketertarikan BSI terhadap program energi surya Muhammadiyah Tuban ternyata bermula dari sebuah unggahan media sosial.
Faris, perwakilan BSI Pusat Jakarta, mengaku mengetahui keberadaan empat masjid Muhammadiyah yang telah menggunakan tenaga surya melalui akun Instagram Muhammadiyah Tuban.
Informasi tersebut kemudian membuatnya tertarik untuk datang langsung ke Tuban.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di sini sekaligus membangun kembali sinergi antara BSI dengan Muhammadiyah,” ujarnya.
Namun, Faris menegaskan, sinergi yang dibangun tidak ingin berhenti pada hubungan finansial.
Baginya, ekosistem Muhammadiyah memiliki ruang kolaborasi yang jauh lebih luas. Pesantren, sekolah, rumah sakit, kantor, masjid, hingga berbagai lembaga dan unit usaha dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
“Kita ingin agar kader dan warga Muhammadiyah tidak hanya mendapatkan manfaat dari sisi finansial, tetapi juga mendapatkan penguatan literasi dan ekosistem ekonomi syariah,” jelasnya.
Karena itu, BSI ingin menghadirkan ruang silaturahmi sekaligus edukasi melalui diskusi, pelatihan, dan forum bersama berbagai stakeholder.
Bahkan, BSI telah membentuk Project Management Office (PMO) yang secara khusus menangani ekosistem Muhammadiyah. BSI juga menyiapkan buku yang memuat berbagai penawaran untuk Muhammadiyah, mulai dari pendanaan, pembiayaan, hingga program dan promo.
Harapannya, kolaborasi tersebut tidak hanya memperluas layanan keuangan syariah, tetapi juga ikut memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah di tengah masyarakat.
“Melalui silaturahmi dengan Muhammadiyah, kita bisa bersama-sama melakukan edukasi dan dakwah ekonomi syariah,” tutur Faris.
Melihat Energi dari Masjid
Usai pemaparan dan diskusi di Kantor PDM Tuban, rombongan melanjutkan kegiatan dengan tanya jawab serta pembahasan sejumlah peluang kerja sama.
Perjalanan kemudian berlanjut ke lapangan.
Rombongan mengunjungi tiga masjid Muhammadiyah yang memanfaatkan energi surya, yakni Masjid Supangat Panyuran, Masjid Jami’ Al-Azmi, dan Masjid Nurah binti Saad Al Muaither.
Di sana, BSI dapat melihat secara langsung bagaimana gagasan energi terbarukan diterapkan di lingkungan masjid. Sekaligus melihat berbagai aktivitas dan potensi yang tumbuh dari masjid sebagai pusat kehidupan umat.
Dari panel-panel surya di atas masjid, pembicaraan pun berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar: bagaimana masjid, pendidikan, kesehatan, pesantren, usaha, properti, dan layanan keuangan syariah dapat terhubung dalam sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Bagi Muhammadiyah Tuban, kunjungan BSI tersebut diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas. Sebab, energi matahari yang ditangkap panel surya hanyalah satu potongan kecil dari potensi besar yang dimiliki Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments