Layanan pendidikan inklusi di SD Mumtaz tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui program home visit, Guru Pendamping Khusus (GPK) mendatangi rumah siswa untuk mendampingi proses belajar sekaligus memahami karakter dan kebutuhan anak dalam lingkungan kesehariannya.
Program tersebut berlangsung pada 18 Agustus hingga 5 September 2026, setiap Selasa hingga Sabtu pukul 08.00–10.00 WIB. Dalam kunjungan tersebut, GPK tidak hanya memberikan pendampingan akademik, tetapi juga mengamati kebiasaan dan respons siswa ketika berada di lingkungan rumah.
Kegiatan home visit diisi dengan berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Salah satunya diawali dengan salat duha bersama, kemudian siswa mengikuti kegiatan pembelajaran melalui Zoom bersama teman-temannya.
Setelah itu, GPK memberikan worksheet atau lembar kerja sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran. Pendampingan juga dapat dilanjutkan dengan kegiatan yang berkaitan dengan terapi sensorik dan motorik untuk membantu siswa mengikuti proses belajar sesuai kemampuannya.
Berbeda dengan pembelajaran di sekolah, pendampingan di rumah menghadirkan tantangan tersendiri. Lingkungan rumah merupakan ruang yang lebih familiar bagi siswa sehingga respons mereka terhadap kegiatan belajar dapat berbeda dibandingkan ketika berada di sekolah.
Kondisi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi GPK dalam memahami karakter setiap siswa. Salah satunya terlihat ketika seorang siswa terkadang mengeluhkan sakit saat kegiatan pembelajaran mulai dilakukan.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi GPK untuk memahami kondisi siswa secara lebih menyeluruh. Keluhan yang disampaikan perlu diperhatikan dengan melihat berbagai kemungkinan, mulai dari kondisi fisik, kelelahan, kebutuhan perhatian, hingga respons siswa terhadap aktivitas yang sedang diberikan.
GPK SD Mumtaz, Yasmin, mengatakan pendampingan secara langsung di rumah memberikan kesempatan bagi guru untuk memahami cara siswa menyampaikan kebutuhan dan perasaannya.
“Setiap anak memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Karena itu, kami perlu memahami bahasa dan respons setiap anak agar pendampingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya,” ujar Yasmin.
Menurutnya, keberadaan GPK di rumah juga memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keseharian siswa. Guru dapat melihat bagaimana siswa berinteraksi dengan anggota keluarga, merespons lingkungan sekitar, serta menjalani rutinitas di luar sekolah.
“Ketika berada di rumah, kita bisa melihat bagaimana ananda berinteraksi dengan keluarga. Dari situ, kami bisa mendapatkan informasi yang mungkin tidak terlihat ketika anak berada di sekolah,” lanjutnya.
Bagi GPK, informasi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan pendampingan. Pemahaman terhadap kebiasaan dan karakter siswa membantu guru menyesuaikan aktivitas sehingga proses belajar tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi.
Home visit akhirnya bukan sekadar memindahkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi GPK untuk mengenali siswa secara lebih dekat sekaligus membangun komunikasi dengan keluarga.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan inklusi tidak hanya memastikan siswa mendapatkan materi pembelajaran, tetapi juga memberikan ruang bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang sesuai dengan kebutuhan serta karakter masing-masing. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments