Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Haedar Kenang Dyah Nur’aini, Kader yang Tak Lelah Mengabdi untuk Aisyiyah

Iklan Landscape Smamda
Haedar Kenang Dyah Nur’aini, Kader yang Tak Lelah Mengabdi untuk Aisyiyah
Prof. Haedar Nashir menyampaikan sambutan saat melepas jenazah Dyah Nur’aini di Kartasura, Ahad (23/8/2026). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Kepergian Dyah Nur’aini, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah periode 2010–2015 dan 2015–2022, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Namun, di balik kehilangan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir mengenang almarhumah sebagai kader yang mengabdikan hidupnya dengan ketulusan, kegigihan, dan kesetiaan pada amanah persyarikatan.

Haedar menyampaikan hal itu saat melepas jenazah Dyah Nur’aini di Kartasura, Ahad (23/8/2026). Dyah Nur’aini wafat pada Sabtu (22/8/2026) dalam usia 69 tahun.

Haedar mengatakan, wafatnya seseorang merupakan ketetapan Allah SWT yang tidak dapat ditunda maupun dipercepat. Karena itu, duka atas kepergian Dyah Nur’aini harus disertai keikhlasan, kesabaran, dan tawakal.

“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar.

Dia mengingatkan bahwa ketika ajal telah tiba, tidak seorang pun mampu mencegahnya. Sakit maupun sehat, menurut Haedar, hanyalah bagian dari jalan yang berada dalam ketetapan Allah SWT.

Haedar kemudian mengutip firman Allah dalam QS Yunus ayat 49 yang menegaskan bahwa ketika ajal telah datang, manusia tidak dapat meminta penundaan ataupun percepatan sesaat pun.

Karena itu, kepergian Dyah Nur’aini, kata Haedar, semestinya diterima dengan ketawakalan. Namun, yang tidak boleh ikut pergi bersama jasad adalah jejak pengabdian yang telah ditanamkan selama puluhan tahun.

Kader yang Menghidupkan Khidmat

Bagi Haedar Nashir, Dyah Nur’aini bukan sekadar pengurus organisasi. Ia merupakan sosok kader Aisyiyah dan Muhammadiyah yang menjadikan perjalanan organisasi sebagai bagian dari ikhtiar menjalankan peran sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi.

“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah,” katanya.

Kesaksian itu tidak disampaikan Haedar dari kejauhan. Ia mengenal perjalanan pengabdian Dyah Nur’aini sejak masa muda.

Keduanya pernah berada dalam dinamika aktivisme organisasi pada periode 1979–1982. Saat itu, Haedar aktif di IPM Wilayah DIY, sementara Dyah berkiprah di Tapak Suci.

Haedar Kenang Dyah Nur’aini, Kader yang Tak Lelah Mengabdi untuk Aisyiyah
Haedar Nashir ikut menyalatkan jenazah Dyah Nur’aini. Foto: Istimewa

Jejak pengabdian Dyah kemudian terus berlanjut. Ia dipercaya memimpin Nasyiatul Aisyiyah sebagai ketua umum periode 1995–2000. Setelah itu, pengabdiannya berlanjut di PP ‘Aisyiyah hingga dipercaya menjadi sekretaris umum selama dua periode.

Pengalaman panjang tersebut, kata Haedar, menunjukkan kegigihan Dyah dalam mengemban amanah organisasi. Ia bahkan mengenang bagaimana almarhumah tetap bekerja tanpa mengenal lelah dalam mengurus berbagai kepentingan ‘Aisyiyah, termasuk hingga Solo.

SMPM 5 Pucang SBY

“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” tuturnya.

Bagi Haedar, kegigihan semacam itu merupakan bentuk nyata dari makna khidmat. Organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan, tetapi juga mereka yang bersedia bekerja dengan ketulusan dan konsistensi.

Warisan Bukan Jabatan, Melainkan Keteladanan

Haedar Nashir menilai, warisan terbesar Dyah Nur’aini bukanlah jabatan yang pernah diembannya, melainkan keteladanan dalam menjalankan amanah.

Dia berharap seluruh pengabdian almarhumah selama berada di Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” ujarnya.

Haedar menegaskan, ketulusan dan kegigihan merupakan fondasi penting dalam menjalankan khidmat.

Pengabdian dalam organisasi, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada capaian kelembagaan atau posisi yang diduduki, tetapi harus diarahkan pada ikhtiar yang lebih hakiki, yakni memperoleh rida Allah SWT.

“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan rida Allah,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan panjang Dyah Nur’aini. Puluhan tahun pengabdian menunjukkan bahwa kaderisasi dalam Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan sekadar proses menyiapkan pengurus, melainkan membentuk pribadi yang bersedia mengabdikan kemampuan, waktu, dan kehidupannya untuk kemaslahatan umat.

Di titik itu, kepergian Dyah Nur’aini tidak hanya meninggalkan kesedihan. Ia juga meninggalkan pertanyaan sekaligus teladan bagi kader yang melanjutkan perjuangan: sejauh mana amanah organisasi dijalankan dengan ketulusan dan kegigihan.

Haedar kemudian mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang hadir untuk mengantarkan almarhumah dengan doa.

“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insya Allah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan doa. Insya Allah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” tutupnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/08/2026 15:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu