Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seminar Anti Bullying di Mamda Paciran Ajak Siswa Jadi Remaja Hebat Tanpa Kekerasan

Iklan Landscape Smamda
Seminar Anti Bullying di Mamda Paciran Ajak Siswa Jadi Remaja Hebat Tanpa Kekerasan
Seminar Anti Bullying diselenggakan bersama Mamda dan Unesa di Pondok Modern Paciran. /Maftuhah.doc
pwmu.co -

Sebuah panggilan yang dianggap sebagai candaan belum tentu diterima dengan perasaan yang sama oleh orang lain.

Berangkat dari kesadaran tersebut, MA Muhammadiyah 02 Pondok Modern Paciran (Mamda) bekerja sama dengan PKM Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Seminar Anti Bullying bertema “Menjadi Remaja Hebat Tanpa Pembullyan dan Kekerasan”, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula KH Ridlwan Syarqowi Pondok Modern Paciran itu diikuti seluruh siswa Mamda. Seminar menghadirkan dosen Ilmu Komunikasi Unesa, Putri Aisyiyah Rachma Dewi, S.Sos., M.Med.Kom., sebagai pemateri.

Sejak awal kegiatan, Putri mengajak para siswa melihat kembali kebiasaan yang terjadi dalam lingkungan pertemanan sehari-hari.

“Apakah di Mamda ada pembullyan?” tanya Putri kepada para siswa.

Dengan kompak, peserta menjawab, “Tidak.”

Namun, Putri kemudian melanjutkan pertanyaannya.

“Kalau begitu, apakah masih ada yang memanggil temannya dengan sebutan yang bukan namanya? Atau bahkan memanggil menggunakan nama orangtuanya?”

Pertanyaan tersebut menjadi pengantar bagi siswa untuk memahami bahwa tindakan yang dianggap biasa dalam pergaulan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain.

Panggilan yang merendahkan, ejekan terhadap fisik, keluarga, kemampuan, maupun kondisi seseorang berpotensi berkembang menjadi perundungan.

Dalam pemaparannya, Putri menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk tindakan fisik.

Ia menyampaikan enam bentuk kekerasan, yakni kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan atau bullying, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan.

Menurutnya, kekerasan juga dapat muncul melalui perkataan, perlakuan, maupun kebijakan yang memberikan dampak merugikan bagi seseorang.

Perundungan sendiri dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan, pemberian julukan, pengucilan, hingga ancaman atau tindakan yang dilakukan secara berulang untuk merendahkan dan menyakiti orang lain.

SMPM 5 Pucang SBY

Melalui pembahasan tersebut, siswa diajak lebih peka terhadap perilaku yang terjadi dalam lingkungan pertemanan. Suasana yang dibangun di Mamda pun menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Putri juga mengingatkan para siswa agar dapat membedakan tindakan bullying dengan kedisiplinan yang ditegakkan guru.

Menurutnya, tidak semua teguran kepada siswa dapat disebut sebagai perundungan. Guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing murid dan menegakkan tata tertib sekolah agar proses pendidikan berjalan dengan baik.

Teguran kepada siswa yang terlambat, melanggar aturan, atau tidak menjalankan kewajibannya merupakan bagian dari pendidikan selama dilakukan secara proporsional dan bertujuan membina.

Hal tersebut berbeda dengan bullying yang dilakukan dengan tujuan merendahkan, menyakiti, mengintimidasi, atau mengucilkan seseorang.

Diskusi semakin berkembang ketika salah seorang siswa Mamda, Zidan Mumtaz, mengajukan pertanyaan tentang kemungkinan seorang korban bullying juga melakukan tindakan serupa terhadap orang lain.

“Bagaimana kalau ada siswa yang dibully, tetapi dia juga suka membully?” tanya Zidan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Putri menjelaskan bahwa pengalaman menjadi korban bullying tidak dapat menjadi alasan untuk melakukan tindakan yang sama kepada orang lain. Sikap tersebut justru berpotensi menciptakan siklus perundungan yang terus berulang.

Menurutnya, perilaku tersebut perlu dihentikan dengan mengakui kesalahan, meminta maaf, serta mencari bantuan kepada guru atau pihak yang dapat dipercaya apabila membutuhkan pendampingan.

Melalui seminar tersebut, siswa Mamda diharapkan semakin memahami dampak perundungan dan berani mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah.

Menjadi remaja hebat, tidak hanya berkaitan dengan prestasi, tetapi juga kemampuan untuk menghargai, menjaga, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan dapat tumbuh melalui kesadaran seluruh warga sekolah untuk saling menghormati dan membangun budaya pertemanan yang positif.

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/08/2026 11:12
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu