Trauma pascagempa tidak hanya menyisakan persoalan fisik. Anak-anak di wilayah terdampak juga menghadapi ketakutan yang membutuhkan pendampingan serius. Hal itu dialami Anggun Mardathila, anak berusia 10 tahun yang masih mengalami trauma setelah gempa NTT.
Saat mendapat pendampingan dari tim Disaster Medical Committee (DMC) Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) hari ini, Jumat (21/8/2026), Anggun mengungkapkan ketakutannya terhadap kondisi tertentu. Ia juga mengalami pusing ketika melihat kerumunan.
Perawat DMC RSML Agus Yulianto, S.Kep., Ns., mengatakan kondisi Anggun menunjukkan bahwa dampak bencana pada anak tidak berhenti setelah gempa berlalu.
“Anak-anak membutuhkan rasa aman. Trauma bisa muncul dalam berbagai bentuk, sehingga mereka perlu didampingi dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi anak,” ujar Agus.
Menurutnya, penanganan anak korban bencana seharusnya dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya pemeriksaan kesehatan, tetapi juga pendampingan psikososial serta pemulihan rutinitas anak.
Sekolah Anak Terhenti
Agus juga menyoroti kondisi pendidikan anak-anak yang masih tinggal di tenda pengungsian. Aktivitas sekolah mereka terhenti akibat bencana, sementara keberadaan sekolah darurat di lokasi pengungsian masih menjadi kebutuhan.
“Anak-anak ini bukan hanya kehilangan rumah atau rasa aman. Mereka juga kehilangan rutinitas belajar. Sekolah bagi anak bukan sekadar tempat mendapatkan pelajaran, tetapi juga ruang untuk bermain, berinteraksi, dan membangun kembali rasa aman,” jelasnya.
Ia menilai keberadaan sekolah darurat di tenda-tenda pengungsian penting segera diupayakan. Dengan adanya ruang belajar sederhana, anak-anak dapat kembali memiliki aktivitas terstruktur di tengah situasi pengungsian.
“Kalau anak kembali belajar, bermain, dan bertemu dengan teman-temannya dalam suasana yang aman, itu bisa menjadi bagian dari proses pemulihan. Jadi respons bencana harus melihat kebutuhan anak secara utuh,” tambah Agus.
Menurutnya, pendidikan darurat juga dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan pendampingan psikologis lebih lanjut, seperti anak yang mengalami ketakutan berlebihan, sulit tidur, mudah panik, atau mengalami keluhan fisik ketika menghadapi situasi tertentu.
Jangan Biarkan Anak Kehilangan Masa Depan
Kondisi Anggun menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan waktu. Anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, guru, relawan, dan masyarakat agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
DMC RSML terus melakukan pelayanan kepada masyarakat terdampak gempa di Manggarai Timur, termasuk memberikan perhatian terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Bagi Agus, membantu korban gempa bukan hanya memastikan mereka mendapatkan pengobatan, tetapi juga memastikan kehidupan mereka dapat kembali berjalan.
“Bencana boleh menghentikan sekolah untuk sementara, tetapi jangan sampai menghentikan masa depan anak-anak,” tegasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments