Bahtera atau kapal laut sudah ada sejak zaman Nabi Nuh As. Bahkan, atas petunjuk Allah Swt dan ikhtiar Nabi Nuh As, bahtera telah berhasil dibuat oleh manusia pada zaman tersebut. Bahtera itu kemudian digunakan untuk mengangkut manusia dan hewan yang hidup pada masa itu (QS. Hud: 40).
Kehadiran bahtera yang pertama kali dibuat manusia tersebut menjadi pelajaran berharga, di antaranya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perkapalan serta kelautan (QS. Al-Qamar: 15).
Sejak saat itu, ketika kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di daratan tetapi juga di lautan, keberadaan ilmu dan teknologi untuk membuat bahtera memiliki manfaat dan hikmah yang besar. Manfaat tersebut bahkan terus dirasakan hingga zaman modern dalam berbagai aspek kehidupan manusia (QS. Al-‘Ankabut: 16).
Bahtera Nuh, Cikal Bakal Teknologi Kapal Laut
Nabi Nuh As adalah nabi ketiga dari 25 nabi dan rasul yang diutus Allah Azza wa Jalla dan disebutkan dalam Al-Qur’an serta sejarah peradaban manusia. Beliau merupakan nabi yang sangat panjang masa dakwahnya, hingga mencapai 950 tahun (QS. Al-‘Ankabut: 14).
Pada zaman itu, ilmu dan teknologi pembuatan bahtera tentu masih merupakan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Karena itu, apa yang dilakukan Nabi Nuh As ditertawakan dan diejek oleh para pemimpin kaumnya yang sangat menentang dakwah dan ajarannya (QS. Hud: 38).
Bahtera yang dibuat Nabi Nuh As tergolong besar dan luar biasa. Berdasarkan perkiraan yang dikutip dari arkencounter.com, lebih dari 3,1 juta board feet kayu digunakan dalam pembangunan bahtera tersebut. Satu board foot setara dengan 12 inci × 12 inci × 1 inci. Jika disusun ujung ke ujung, jumlah kayu tersebut diperkirakan cukup untuk membentang dari Williamstown, Kentucky, hingga Philadelphia, Pennsylvania.
Proses pembuatannya menggunakan bahan kayu dari pohon yang hidup pada masa itu. Namun, bagaimana bahan tersebut dapat dibentuk menjadi sebuah bahtera yang besar? Tentunya diperlukan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt:
“Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qamar: 13)
Pembuatan bahtera Nabi Nuh As merupakan perpaduan antara wahyu Allah Azza wa Jalla dengan akal, keterampilan, dan tenaga manusia. Hal ini memberikan pelajaran bahwa dalam membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tidak dapat mengabaikan peran wahyu (QS. Al-Mu’minun: 27).
Bahtera sebagai Alat Transportasi Manusia dan Kebutuhannya
Bahtera yang dibuat Nabi Nuh As juga menjadi gambaran penting mengenai pemanfaatan sarana transportasi air untuk perjalanan manusia melintasi sungai, danau, dan laut (QS. Al-Isra’: 70).
Sarana transportasi air tidak hanya digunakan untuk mengangkut manusia, tetapi juga berbagai jenis barang kebutuhan manusia. Sandang, pangan, dan papan, termasuk minyak dan gas bumi, dapat didistribusikan dari berbagai belahan dunia melalui jalur laut.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 164)
Bahtera atau kapal-kapal besar berlayar setiap hari di lautan, membawa minyak dan gas serta berbagai jenis barang dalam kontainer. Kapal-kapal yang lebih kecil juga melakukan hal serupa, menghubungkan pulau dengan pulau dan kota dengan desa melalui sungai-sungai besar maupun kecil (QS. Ibrahim: 32).
Sebagai alat transportasi, bahtera dan kapal laut memiliki beberapa fungsi dan manfaat bagi manusia.
Pertama, Transportasi Perjalanan Manusia
Untuk menyeberangi pulau dan benua, manusia dapat menggunakan bahtera atau kapal yang mampu berlayar di lautan. Kapal-kapal yang berlayar di lautan bahkan digambarkan seperti gunung-gunung yang menjulang tinggi (QS. Asy-Syura: 32; Ar-Rahman: 24).
Nabi Yunus As pernah menaiki kapal ketika hendak pergi meninggalkan kaumnya setelah tidak berhasil mengajak mereka menyembah Allah Swt. Namun, ia tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kapal tersebut penuh dengan muatan.
Akhirnya, setelah dilakukan undian dan Nabi Yunus As menjadi orang yang kalah dalam undian, ia harus menceburkan diri ke laut dan kemudian ditelan oleh ikan besar.
Hal ini disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (QS. Ash-Shaffat: 139–142)
Kedua, Transportasi Barang Kebutuhan Manusia
Kebutuhan manusia di bumi sangat beragam, mulai dari pangan dan berbagai kebutuhan konsumsi, sandang beserta sarana pendukung aktivitas sehari-hari, hingga papan sebagai tempat tinggal dan beristirahat.
Manusia di suatu negara tidak selalu dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dari sumber daya yang tersedia di negaranya sendiri. Karena itu, mereka membutuhkan barang-barang dari negara lain.
Untuk mengangkut berbagai barang tersebut diperlukan alat transportasi yang memenuhi syarat, efisien, dan mampu membawa muatan dalam jumlah besar.
Salah satu alat transportasi yang banyak digunakan adalah bahtera atau kapal laut sebagai karunia dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut…” (QS. Al-Isra’: 70)
Bermanfaat untuk Mencari Rezeki di Lautan
Tempat manusia mencari rezeki atau karunia Allah tidak hanya di daratan, tetapi juga di lautan. Bahtera atau kapal-kapal yang berlayar di lautan dapat menjadi sarana untuk memperoleh rezeki dari Allah Azza wa Jalla (QS. Al-Isra’: 66; Al-Jatsiyah: 13).
Rezeki yang diberikan Allah Swt kepada manusia melalui bahtera sangat beragam. Di antaranya sebagai berikut.
Pertama, Digunakan untuk Mencari Ikan
Bahtera, kapal laut, dan perahu dapat digunakan untuk mencari ikan serta berbagai hewan laut lainnya. Hal ini dilakukan, antara lain, oleh para nelayan yang menggantungkan kehidupan sehari-harinya dari hasil laut (QS. Al-Kahfi: 71, 79).
Ikan dan berbagai hasil laut lainnya dapat dikonsumsi manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut…” (QS. Al-Ma’idah: 96)
Rasulullah Saw juga bersabda:
“Air laut itu suci dan bangkainya halal.” (HR. Abu Dawud No. 83, An-Nasa’i No. 59, At-Tirmidzi No. 69; Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih).
Kedua, Membawa Penumpang dan Wisata
Bahtera atau kapal laut juga dapat menjadi sarana mencari rezeki dengan membawa orang atau penumpang yang hendak bepergian maupun berwisata. Dari tiket dan berbagai biaya layanan lainnya, masyarakat yang bekerja dalam sektor ini dapat memperoleh penghasilan, baik secara tunai maupun melalui transaksi perbankan (QS. Ash-Shaffat: 139–140).
Ketiga, Pengiriman Barang dengan Bayaran
Bahtera atau kapal laut dapat digunakan sebagai sarana pengangkutan barang padat, cair, maupun gas dengan biaya tertentu.
Usaha ini tidak hanya memberikan rezeki kepada pemilik dan kru kapal, tetapi juga kepada para pekerja pelabuhan serta karyawan berbagai perusahaan yang bergerak dalam jasa pengelolaan dan pengiriman barang melalui jalur laut (QS. Al-Baqarah: 164; Al-Isra’: 66; Al-Jatsiyah: 12).
Keempat, Pembuatan Bahtera atau Kapal
Industri pembuatan bahtera atau kapal laut juga dapat menjadi sumber rezeki bagi manusia, baik bagi produsen maupun karyawan yang terlibat dalam proses produksinya. Demikian pula perusahaan jasa pengiriman dan para pekerjanya.
Pembuatan kapal membutuhkan modal, tenaga, keahlian, serta teknologi. Produk yang dihasilkan kemudian dapat menjadi sumber keuntungan bagi pelaku usaha.
Walaupun Nabi Nuh As membuat bahtera tanpa mengharapkan upah dari kaumnya, pada era modern produksi kapal laut telah berkembang menjadi industri dan bidang usaha yang bernilai ekonomi (QS. Hud: 29).
Harga kapal laut dewasa ini dapat mencapai miliaran rupiah, bahkan jauh lebih tinggi bergantung pada jenis, ukuran, teknologi, dan peruntukannya. Industri pembuatan kapal, baik untuk keperluan militer maupun sipil, dapat membuka lapangan pekerjaan dan mendatangkan rezeki bagi banyak orang.
Kelima, Bahan Material, Teknologi, dan Tenaga Ahli
Bahan material yang digunakan untuk membuat bahtera atau kapal laut sangat beragam. Pada zaman Nabi Nuh As, bahan yang disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain papan dan paku (QS. Al-Qamar: 13).
Papan yang digunakan tentunya berkaitan dengan pemilihan kayu yang tepat dan layak untuk pembuatan bahtera. Demikian pula paku yang digunakan untuk menyambungkan papan satu dengan lainnya. Di sinilah peran tukang kayu atau teknisi menjadi penting.
Rasulullah Saw juga menghargai peran seorang tukang kayu. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
Dari Jabir bin Abdullah Ra, bahwa seorang wanita Anshar berkata kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku buatkan untukmu sesuatu yang bisa engkau gunakan untuk duduk, karena aku mempunyai seorang anak yang bekerja sebagai tukang kayu?” Beliau menjawab, “Jika kamu mau, silakan.” Maka wanita itu memerintahkan anaknya untuk membuat mimbar.
(HR. Bukhari).
Papan diperoleh dari kayu, sedangkan paku dibuat dari besi. Allah Swt berfirman tentang besi:
“…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…”
(QS. Al-Hadid: 25)
Tukang kayu, tukang besi, teknisi, dan berbagai tenaga ahli yang terlibat dalam proses pembuatan bahtera atau kapal laut memperoleh rezeki dari hasil kerja mereka.
Pada zaman Nabi Nuh As, teknologi yang digunakan tentu berbeda dengan teknologi kapal modern. Saat ini, besi dan berbagai material lainnya tidak hanya digunakan untuk membentuk badan kapal, tetapi juga untuk membuat berbagai komponen dan mesin penggeraknya agar kapal dapat berlayar ke berbagai penjuru dunia.
Namun, kemampuan kapal untuk berlayar tetap tidak terlepas dari kehendak dan kekuasaan Allah Azza wa Jalla (QS. Asy-Syura: 32; Ar-Rahman: 24; Ibrahim: 32).
Allah Swt juga berfirman:
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di laut dengan perintah-Nya…”
(QS. Al-Hajj: 65)
Dengan demikian, bahtera bukan sekadar alat transportasi. Ia merupakan salah satu contoh bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan ikhtiar manusia dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Pada saat yang sama, semua kemampuan tersebut tetap berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah Swt. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments