Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kita Sedang Menuju Pulang

Iklan Landscape Smamda
Kita Sedang Menuju Pulang
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada satu perjalanan yang pasti dilalui setiap manusia. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Kita tumbuh, belajar, bekerja, mencintai, membangun keluarga, mengejar cita-cita, lalu pada waktunya meninggalkan semua yang kita miliki.

Rumah yang kita bangun akan ditinggalkan. Jabatan yang kita banggakan akan berakhir. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat pun akhirnya kembali menjadi tanah.

Lalu, untuk apa sebenarnya kita hidup?

Dari Allah Kita Datang

Kehidupan manusia bermula dari sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan sendiri. Kita tidak pernah memilih kapan dilahirkan, di mana dilahirkan, siapa orang tua kita, bagaimana bentuk wajah kita, atau seperti apa perjalanan hidup yang akan kita jalani.

Dalam hadis tentang proses penciptaan manusia disebutkan bahwa ketika janin telah mencapai 120 hari, malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan menuliskan ketentuan tentang rezeki, ajal, amal perbuatan, serta keadaan akhir kehidupannya. Artinya, sejak awal kehidupan, manusia sudah berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Seorang bayi lahir ke dunia dengan tangisan. Orang-orang di sekelilingnya tersenyum bahagia. Ia belum mengenal harta, jabatan, popularitas, bahkan belum tahu siapa dirinya sendiri.

Tetapi perlahan ia tumbuh. Ia belajar berjalan, kemudian berlari. Belajar berbicara, kemudian berpikir. Ia mulai mengenal keinginan, mengejar cita-cita, mencari rezeki, membangun rumah tangga, dan menata masa depan.

Tanpa terasa, rambut mulai memutih. Langkah yang dahulu ringan menjadi lebih pelan. Teman-teman seperjalanan satu per satu pergi.

Orang tua yang dahulu menggandeng tangan kita pun mungkin sudah lebih dahulu kembali kepada Allah. Di situlah manusia seharusnya berhenti sejenak dan bertanya:

Untuk apa semua perjalanan ini?

Untuk Allah Kita Hidup

Allah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dengan sangat tegas: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah bukan hanya salat, puasa, membaca Al-Qur’an, atau berzikir. Bekerja mencari nafkah untuk keluarga dapat menjadi ibadah ketika diniatkan karena Allah. Mendidik anak dengan penuh kasih sayang dapat menjadi ibadah.

Menolong tetangga, menjaga amanah, berkata jujur, menyingkirkan kesulitan orang lain, bahkan tersenyum dengan tulus pun dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Karena itu, kehidupan bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang untuk siapa semua itu kita jalani. Ada orang yang memiliki sedikit harta, tetapi hidupnya penuh keberkahan karena banyak memberi.

Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi sepanjang hidupnya tidak pernah merasa cukup.

Ada yang mengejar jabatan bertahun-tahun. Ketika jabatan itu diperoleh, ia bahagia sesaat. Setelah itu muncul keinginan baru: jabatan yang lebih tinggi, penghasilan yang lebih besar, pengaruh yang lebih luas. Begitulah manusia. Keinginan tidak pernah selesai jika tidak dikendalikan oleh iman.

Maka hidup membutuhkan arah. Dan arah itu adalah Allah.

Kepada Allah Kita Kembali

Dunia bukan tempat tinggal selamanya. Dunia adalah tempat beramal sekaligus tempat ujian.

Allah berfirman: “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan siapa yang paling banyak amalnya, tetapi siapa yang paling baik amalnya. Ini mengajarkan bahwa kualitas lebih penting daripada sekadar kuantitas.

Seseorang mungkin tidak dikenal banyak orang. Namanya tidak muncul di media. Tidak memiliki jabatan tinggi. Tidak pula mempunyai kekayaan berlimpah.

Namun, setiap pagi ia bangun dan menunaikan kewajibannya. Ia bekerja dengan jujur. Ia menjaga keluarganya. Ia tidak mengambil hak orang lain. Ia membantu ketika mampu. Ia meminta maaf ketika salah. Ia bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat ujian.

Boleh jadi, kehidupan sederhana seperti itu justru sangat bernilai di hadapan Allah. Sebab pada akhirnya, yang kita bawa bukan rumah, kendaraan, rekening, gelar, atau jabatan. Yang kita bawa adalah amal.

Takdir Tertulis, Ikhtiar Tetap Berjalan

Berbicara tentang takdir bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha. Kita memang tidak mengetahui apa yang telah Allah tetapkan untuk kita.

Karena itu, tugas manusia bukan menerka-nerka takdir, melainkan menjalani kehidupan dengan ikhtiar, doa, tawakal, dan kesediaan menerima ketetapan Allah.

Allah berfirman: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” (QS. Ar-Ra’d: 39)

Kita tidak tahu berapa panjang usia kita. Karena itu, jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri.

SMPM 5 Pucang SBY

Kita tidak tahu kapan ajal datang. Karena itu, jangan menunda meminta maaf.

Kita tidak tahu kapan kesempatan berbuat baik berakhir. Karena itu, jangan terlalu lama menunggu untuk membantu orang lain.

Sering kali manusia merasa masih memiliki banyak waktu.

“Nanti kalau sudah longgar saya akan lebih rajin beribadah.”

“Nanti kalau sudah tua saya akan lebih banyak mendekat kepada Allah.”

“Nanti kalau sudah punya banyak uang saya akan bersedekah.”

Padahal, kata nanti tidak pernah memberikan jaminan.

Bisa jadi, kesempatan yang kita kira masih panjang ternyata berhenti hari ini.

Mengingat Kematian Bukan Berarti Menakutkan Kehidupan

Mengingat kematian bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya. Mengingat kematian membuat kita lebih menghargai kehidupan.

Kita menjadi lebih hati-hati ketika berbicara karena sadar setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan.

Kita lebih mudah memaafkan karena sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam permusuhan.

Kita lebih ringan bersedekah karena sadar bahwa harta tidak akan kita bawa ke dalam kubur.

Kita lebih bersungguh-sungguh beribadah karena sadar bahwa kesempatan hidup tidak pernah bisa dipastikan. Kita juga belajar menikmati hal-hal sederhana.

Secangkir kopi bersama keluarga. Percakapan dengan orang tua. Tawa anak-anak. Pertemuan dengan sahabat. Kesempatan membantu seseorang yang sedang kesulitan.

Semua itu adalah nikmat yang sering baru kita sadari nilainya ketika kehilangan.

Maka, selama masih diberi usia, mari memperbanyak kebaikan. Bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Bukan agar dikenang banyak orang. Tetapi karena kita sadar bahwa suatu hari nanti kita akan kembali kepada Pemilik kehidupan.

Dari Allah, Untuk Allah, Kepada Allah

Pada akhirnya, hidup manusia dapat diringkas dalam satu perjalanan: Dari Allah kita datang. Kita lahir karena kehendak-Nya, tumbuh dengan rezeki-Nya, dan hidup dalam berbagai nikmat serta ujian yang Dia berikan.

Untuk Allah kita hidup. Setiap aktivitas hendaknya diarahkan untuk mencari rida-Nya. Bekerja, belajar, berkeluarga, bermasyarakat, dan berbuat baik menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar.

Kepada Allah kita kembali. Ketika waktunya tiba, tidak ada yang dapat menunda. Karena itu, mari menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat. Jangan pula merasa terlalu banyak dosa sehingga berhenti berharap kepada rahmat Allah.

Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat masih terbuka.

Mari memperbaiki salat. Memperbanyak istighfar. Menjaga lisan. Menunaikan amanah. Memperbaiki hubungan dengan sesama. Memperbanyak sedekah. Dan melakukan kebaikan sekecil apa pun.

Sebab kita tidak pernah tahu, amal yang mana yang kelak menjadi sebab datangnya rahmat Allah.

Ya Allah, ampunilah dosa dan kekurangan kami. Terimalah amal ibadah kami yang penuh kekurangan. Bimbinglah langkah kami agar senantiasa berada di jalan-Mu. Berikan kami kekuatan untuk menjalani hidup dengan iman, ikhlas, sabar, dan tawakal.

Dan ketika tiba saatnya kami kembali kepada-Mu, wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin Allahumma Aamiin. (*)

Semoga mengingat kematian tidak membuat kita kehilangan semangat menjalani kehidupan, tetapi justru menjadi pengingat untuk menggunakan setiap waktu dengan sebaik-baiknya: memperkuat iman, meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Karena kita datang dari Allah. Kita hidup karena Allah. Dan kepada Allah kita akan kembali. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu