Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Jabatan Berakhir, Apa yang Tersisa?

Iklan Landscape Smamda
Saat Jabatan Berakhir, Apa yang Tersisa?
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada nasihat yang sederhana, tetapi dalam maknanya: Orang jujur tetap terhormat meskipun dipecat dan dipenjara. Sementara pencuri tetap hina meskipun ia seorang pejabat.

Kalimat itu mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang sesungguhnya tidak selalu ditentukan oleh jabatan, pakaian, gelar, atau kedudukan.

Kemuliaan lebih sering lahir dari sesuatu yang tidak terlihat. Dari kejujuran. Dari amanah.

Dari keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kita bisa berkaca pada kisah Nabi Yusuf as. Sejak kecil, Nabi Yusuf as menghadapi ujian yang tidak ringan. Saudara-saudaranya merasa iri dan dengki karena melihat kasih sayang Nabi Ya’qub AS yang lebih besar kepadanya. Nabi Yusuf kecil kemudian dibuang ke dalam sumur.

Bayangkan seorang anak yang tidak mengerti mengapa dirinya harus menerima perlakuan seperti itu.

Ia tidak memilih dilahirkan sebagai anak yang disayangi ayahnya. Ia tidak meminta saudara-saudaranya iri kepadanya.

Tetapi hidup membawanya ke sebuah sumur.

Dari sana, Nabi Yusuf as kemudian dibawa oleh rombongan kafilah ke Mesir. Perjalanan hidupnya berubah berkali-kali. Dari seorang anak yang dibuang, ia tumbuh menjadi seorang yang dipercaya mengelola urusan penting negara.

Namun ujian belum selesai. Ketika berhadapan dengan godaan, Nabi Yusuf AS memilih menjaga kehormatan dirinya. Akibat fitnah, ia bahkan harus merasakan pahitnya penjara.

Di sinilah kisah Nabi Yusuf menjadi sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Kadang-kadang orang yang memilih benar tidak langsung mendapatkan kemudahan. Kadang-kadang kejujuran justru membuat seseorang kehilangan sesuatu.

Kehilangan jabatan. Kehilangan teman. Kehilangan kesempatan. Bahkan, dalam keadaan tertentu, kehilangan kebebasan.

Tetapi kehilangan itu tidak selalu berarti kehinaan. Sebab ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dipertahankan: harga diri.

Bayangkan seorang pegawai yang menemukan kesalahan dalam laporan keuangan kantornya. Ia tahu jika diam, urusannya akan lebih mudah. Tidak ada yang memusuhinya. Tidak ada yang menyalahkannya. Tetapi ia memilih menyampaikan kebenaran.

Akibatnya, ia mungkin dianggap tidak bisa bekerja sama. Temannya menjauh. Atasannya tidak senang. Kariernya bahkan mungkin tersendat. Di mata sebagian orang, ia terlihat seperti orang yang kalah.

Padahal boleh jadi justru di situlah ia sedang memenangkan sesuatu yang lebih besar: kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Ada pula orang yang diberi amanah mengelola uang. Jumlahnya mungkin tidak besar. Tidak ada kamera yang mengawasi. Tidak ada auditor yang datang setiap hari.

Ia bisa saja mengambil sedikit. Tidak akan ada yang tahu. Seratus ribu hari ini. Lima ratus ribu besok. Lama-lama menjadi kebiasaan.

Masalahnya bukan lagi tentang jumlah uang yang diambil. Masalah sesungguhnya adalah ketika hati mulai terbiasa mengkhianati amanah.

Sebaliknya, orang yang amanah akan berpikir lain.

“Ini bukan milik saya.”

Kalimat pendek itu sering kali menjadi pagar yang sangat kuat. Ia mungkin miskin secara materi. Tetapi kaya dalam kehormatan. Ia mungkin tidak mempunyai jabatan tinggi. Tetapi namanya dipercaya. Dan kepercayaan adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Rasulullah saw juga memberikan teladan yang sangat kuat tentang hal ini. Jauh sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad SAW telah dikenal masyarakat sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Gelar itu bukan pemberian karena jabatan. Bukan pula karena kekuasaan. Masyarakat mengenalnya melalui perilakunya. Kejujuran yang terus-menerus. Amanah yang terjaga. Perkataan yang dapat dipercaya.

Itulah yang membuat seseorang mendapatkan kehormatan bahkan sebelum ia memiliki kedudukan apa pun.

SMPM 5 Pucang SBY

Maka ada sesuatu yang menarik untuk kita renungkan. Jabatan bisa diberikan oleh manusia. Gelar bisa diberikan oleh lembaga. Kekuasaan bisa datang melalui sistem. Tetapi kepercayaan harus dibangun melalui perilaku. Dan sekali kepercayaan hancur, mengembalikannya tidak mudah.

Kita sering melihat seseorang begitu bersemangat mengejar jabatan. Ia ingin dikenal. Ingin dihormati. Ingin dianggap penting.

Tetapi sesungguhnya ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah ia dapat dipercaya? Sebab menjadi orang penting belum tentu menjadi orang yang dipercaya.

Sebaliknya, orang yang tidak terkenal bisa menjadi manusia yang sangat berarti bagi lingkungannya karena ia memegang amanah.

Seorang ayah yang tidak pernah mengambil hak anaknya. Seorang ibu yang menjaga titipan keluarga. Seorang guru yang tidak membeda-bedakan murid. Seorang bendahara yang mengembalikan uang yang bukan haknya.

Seorang pegawai yang tetap bekerja dengan benar meskipun atasannya tidak melihat. Seorang pejabat yang berani mengatakan benar ketika lingkungan sekitarnya memilih diam.

Mereka mungkin tidak masuk berita. Tidak mendapatkan penghargaan. Tidak memiliki pengikut jutaan orang. Tetapi mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting: kemuliaan diri.

Karena itu, ketika melihat berbagai persoalan kehidupan hari ini, kita tidak cukup hanya bertanya siapa yang salah.

Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita masih jujur ketika kejujuran itu merugikan kita?

Apakah kita masih amanah ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah kita masih berani mengatakan benar ketika kebohongan justru lebih menguntungkan?

Pertanyaan itu penting. Sebab kerusakan besar sering kali bermula dari ketidakjujuran kecil yang dibiarkan. Uang yang sedikit diambil karena merasa tidak akan ketahuan.

Data yang sedikit dimanipulasi karena dianggap tidak penting. Janji yang sedikit dilanggar karena merasa orang lain akan memaklumi.

Lama-lama yang kecil menjadi besar. Yang awalnya terasa salah menjadi biasa. Dan sesuatu yang biasa akhirnya dianggap benar. Di situlah bahayanya.

Mungkin kita terlalu sering mencari orang jujur di antara para pemimpin, pejabat, pengusaha, atau tokoh masyarakat. Padahal sebelum mencari mereka, barangkali kita perlu mencari kejujuran itu di dalam diri sendiri. Sebab bangsa yang jujur tidak lahir hanya dari pemimpin yang jujur.

Ia juga lahir dari keluarga yang membiasakan kejujuran. Sekolah yang mengajarkan amanah. Tempat kerja yang menghargai integritas. Dan masyarakat yang tidak memuja keberhasilan dengan mengabaikan cara mencapainya.

Nabi Yusuf as mengajarkan bahwa jalan hidup orang yang menjaga kehormatan tidak selalu mudah.

Rasulullah saw mengajarkan bahwa kepercayaan dibangun jauh sebelum seseorang mendapatkan kedudukan.

Maka ukuran kemuliaan manusia sesungguhnya bukan seberapa tinggi ia berdiri. Tetapi seberapa bersih ia ketika berdiri di tempat yang tinggi.

Bukan seberapa banyak orang memujinya. Tetapi apakah orang masih bisa mempercayainya ketika tidak ada yang melihat.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berganti. Harta akan ditinggalkan. Nama pun perlahan dilupakan. Yang tersisa adalah jejak perilaku.

Dan mungkin, pada saat itulah manusia benar-benar tahu bahwa kejujuran dan amanah bukan sekadar sifat baik. Keduanya adalah cara seseorang menjaga kemuliaan dirinya.

Maka pertanyaan paling penting bukan hanya: Masih adakah pejabat yang jujur dan amanah di negeri ini?

Tetapi juga: Masih adakah kejujuran dan amanah di dalam diri kita? (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/10/2026 10:25
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu