ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)
Surat Al-Hadid ayat 20 menjelaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, penuh dengan permainan, senda gurau, perhiasan, serta sikap saling bermegah-megahan harta dan keturunan.
Pernahkah Anda memperhatikan, ketika berlangsung Piala Dunia FIFA. Seluruh dunia seakan berhenti. Jutaan orang begadang. Stadion penuh. Nobar dimana-mana. Orang menangis karena timnya kalah. Orang lain melompat kegirangan karena timnya juara.
Empat tahun kemudian. Piala itu berpindah tangan. Juara berganti. Pemain pensiun. Pelatih dipecat. Dan dunia kembali menunggu turnamen berikutnya.
Lalu muncul pertanyaan, bukankah inilah yang telah digambarkan Al-Qur’an lebih dari 1.400 tahun yang lalu?
Allah Tidak Mengatakan Dunia Itu Jahat
Perhatikan ayatnya.
Allah tidak berfirman: “Dunia itu haram.”
Allah juga tidak berfirman: “Dunia itu harus ditinggalkan.”
Yang Allah jelaskan adalah hakikat dunia. Bahwa jika dibandingkan dengan akhirat, dunia hanyalah fase yang sementara.
Karena itu Allah menggunakan lima kata yang sangat menggugah.
1. Permainan.
2. Senda gurau.
3. Perhiasan.
4. Saling berbangga.
5. Berlomba memperbanyak harta dan keturunan.
Seakan Allah sedang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari kecil hingga tua.
1. Mengapa Allah Memulai dengan “Permainan”?
Ketika kecil. Anak-anak hidup dengan permainan. Main bola. Main mobil-mobilan. Main boneka. Main game. Ketika permainan selesai, semuanya ditinggalkan.
Tidak ada anak berusia empat puluh tahun yang masih menangisi mobil-mobilan yang hilang saat berumur lima tahun. Karena ia sadar. Itu hanyalah permainan.
Allah ingin mengajarkan bahwa suatu hari nanti. Dunia juga akan terlihat seperti itu.
2. Lalu Menjadi Senda Gurau
Ketika remaja. Yang dikejar sering kali adalah hiburan. Popularitas. Candaan. Keseruan. Media sosial. Tertawa. Semua terasa sangat penting.
Namun beberapa tahun kemudian… Banyak yang bahkan lupa apa yang dahulu begitu diributkan.
3. Kemudian Menjadi Perhiasan
Saat dewasa. Mulailah manusia menghias dirinya. Rumah. Mobil. Pakaian. Jabatan. Gelar. Semuanya ingin tampak indah.
Padahal, perhiasan bukanlah kebutuhan utama. Ia hanya mempercantik sesuatu yang sudah ada.
4. Setelah Itu Saling Berbangga
Lalu manusia mulai berkata, “Rumah saya lebih besar.”
“Perusahaan saya lebih maju.”
“Anak saya lebih sukses.”
“Pengikut saya lebih banyak.”
Yang dikejar bukan lagi manfaat. Tetapi pengakuan. Psikologi modern menyebutnya social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat menurunkan kepuasan hidup, meningkatkan kecemasan, dan memicu rasa iri.
Bukankah Al-Qur’an telah menggambarkannya jauh sebelum psikologi modern lahir?
5. Akhirnya Berlomba Mengumpulkan Harta
Pada usia yang lebih matang.
Banyak orang berkata, “Satu rumah lagi.”
“Satu proyek lagi.”
“Satu miliar lagi.”
Padahal target itu terus bergeser. Ilmu psikologi mengenal konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga terus mengejar hal berikutnya tanpa pernah benar-benar merasa cukup.
Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa perlombaan dunia tidak memiliki garis akhir selama hati tidak belajar bersyukur.
Piala Dunia Mengajarkan Pelajaran Besar
Bayangkan sebuah tim. Berlatih bertahun-tahun. Menghabiskan miliaran rupiah. Berjuang dalam puluhan pertandingan. Akhirnya mengangkat trofi. Seluruh dunia bersorak.
Namun, empat tahun kemudian. Trofi itu menjadi milik orang lain. Begitulah dunia. Hari ini juara. Besok menjadi sejarah. Hari ini viral. Besok dilupakan. Hari ini dipuji. Besok digantikan.
Tidak ada satu pun gelar dunia yang mampu menemani seseorang masuk ke liang kubur. Yang ikut hanyalah amalnya.
Keajaiban Al Qur’an
Yang menakjubkan. Allah tidak melarang manusia bekerja. Tidak melarang menjadi kaya. Tidak melarang berprestasi. Tidak melarang menjadi juara.
Islam justru mendorong umatnya menjadi kuat, amanah, dan memberi manfaat. Dan satu hal lagi jadi syiar dakwah.
Bayangkan ketika setelah cetak gol, para pemain muslim bersujud syukur. Bayangkan ketika setelah pertandingan, para supporter muslim membersihkan stadion dari sampah.
Namun banyak yang menjadikan ajang piala dunia jadi ajang judi, taruhan, dan keluar kata-kata sumpah serapah tanda kecewa
Padahal Allah mengingatkan, Jangan sampai permainan berubah menjadi tujuan hidup. Bermain boleh. Berprestasi boleh. Menang boleh. Menjadi kaya boleh.
Namun jangan sampai hati menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang pasti akan berpindah tangan. Karena dunia bukan rumah. Dunia hanyalah ruang ujian.
Renungan
Lihatlah anak kecil yang sedang bermain. Ketika waktu pulang tiba… Ia harus melepaskan mainannya.
Bukan karena mainan itu buruk. Tetapi karena memang waktunya telah selesai.
Begitu pula dunia. Semua yang kita pegang hari ini. Suatu saat akan kita lepaskan. Jabatan akan mencari pemilik baru. Rumah akan diwariskan. Rekening akan berpindah tangan. Piala akan diangkat oleh generasi berikutnya.
Yang tetap bersama kita hanyalah apa yang pernah kita lakukan karena Allah.
Maka pertanyaannya bukan, “Berapa banyak yang berhasil aku kumpulkan di dunia?”
Tetapi, “Berapa banyak dari apa yang kukumpulkan telah berubah menjadi bekal menuju akhirat?”
Karena pada akhirnya, pemenang sejati bukanlah mereka yang mengangkat piala tertinggi di dunia.
Pemenang sejati adalah mereka yang dipanggil Allah pada hari kiamat dengan hati yang tenang, lalu dipersilakan memasuki surga yang tidak pernah mengenal peluit akhir pertandingan.
Itulah salah satu keajaiban Al-Qur’an. Kitab yang mengajarkan bahwa dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan pernah dibiarkan menguasai hati kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments