Suasana hangat dan penuh khidmat menyelimuti Aula Lantai 3 Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Jalan Raya Permata, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (22/8/2026). Ratusan jajaran pimpinan, tokoh persyarikatan, dan kader unit pelaksana program menghadiri Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Muhammadiyah Kabupaten Gresik.
Mengusung tema “Pengembangan Persyarikatan Kunci Sukses Persyarikatan Muhammadiyah”, forum tersebut tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memetakan arah gerak dakwah Islam berkemajuan di Kabupaten Gresik.
Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. Dalam paparannya, tokoh pendidikan dan kesehatan Jawa Timur tersebut menegaskan bahwa fondasi utama keberhasilan organisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurut Prof. Sukadiono, salah satu indikator utama keberhasilan kader Muhammadiyah adalah memiliki profil well-educated, yakni kader yang terdidik, berwawasan luas, dan mampu menghadapi persoalan organisasi secara dewasa.
Ia menyampaikan setidaknya ada empat prinsip yang perlu dimiliki kader Muhammadiyah yang well-educated dalam menjalankan aktivitas persyarikatan.
Pertama, Berorientasi Mencari Solusi
Prof. Sukadiono menekankan pentingnya kader untuk berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan justru memperkeruh persoalan.
“Ketika seorang kader persyarikatan Muhammadiyah dihadapkan pada sebuah persoalan, kader yang terdidik akan mengubah paradigma berpikirnya untuk fokus mencari jalan keluar,” tegasnya.
Guru Besar Bidang Fisiologi Olahraga Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut menilai, persoalan dalam organisasi, khususnya di tingkat ranting, cabang, hingga daerah, kerap muncul karena pengurus justru menciptakan persoalan baru yang sebenarnya dapat dihindari.
Karena itu, ia mengimbau peserta Rapimda untuk membangun growth mindset atau pola pikir berkembang yang berorientasi pada perbaikan dan pencarian solusi. Menurutnya, pola pikir tersebut penting untuk memperkuat gerakan dakwah dan pembaruan Muhammadiyah.
Kedua, Efisien dalam Waktu dan Biaya
Prinsip kedua adalah kemampuan mengelola waktu dan biaya secara efisien. Menurut Prof. Sukadiono, kader Muhammadiyah yang well-educated harus mampu menjalankan program organisasi secara efektif dan tidak menghamburkan sumber daya persyarikatan.
“Dalam pengelolaan organisasi modern, Muhammadiyah menuntut kecerdasan dalam eksekusi dan meluncurkan sebuah kebijakan. Kader persyarikatan yang matang harus mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan dakwah secara efektif tanpa membuang-buang waktu dan anggaran persyarikatan,” imbuhnya.
Ketiga, Taat pada Kebijakan Pimpinan
Prinsip ketiga adalah ketaatan terhadap kebijakan dan keputusan pimpinan persyarikatan. Prof. Sukadiono menyebut sikap sami’na wa atho’na atau “kami mendengar dan kami taat” sebagai salah satu nilai penting dalam kehidupan berorganisasi di Muhammadiyah.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut menjelaskan, kepatuhan terhadap keputusan pimpinan diperlukan agar seluruh elemen persyarikatan dapat bergerak selaras menuju tujuan bersama.
Dengan adanya keselarasan tersebut, potensi benturan internal dapat diminimalkan sehingga energi organisasi dapat diarahkan untuk menjalankan program dan dakwah persyarikatan.
Keempat, Disiplin dalam Berorganisasi
Prinsip terakhir yang ditekankan Prof. Sukadiono adalah disiplin dalam berorganisasi. Menurutnya, kedisiplinan menjadi salah satu kunci penting untuk membentuk kader Muhammadiyah yang profesional dan well-educated.
“Sebagai kader Muhammadiyah yang modern, ketertiban administrasi, ketepatan waktu, serta kepatuhan pada aturan main persyarikatan menjadi cermin profesionalisme kader dalam menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah,” jelasnya.
Ia menambahkan, profesionalisme kader tidak hanya ditunjukkan melalui gagasan dan kemampuan intelektual, tetapi juga melalui kedisiplinan dalam menjalankan tugas-tugas organisasi.
Rapimda PDM Gresik tersebut diharapkan menghasilkan berbagai formula strategis untuk penataan ranting dan cabang serta penguatan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di Kabupaten Gresik.
Melalui penguatan kualitas kader dan penerapan empat prinsip tersebut, PDM Gresik optimistis persyarikatan dapat tumbuh semakin solid, unggul, dan berdaya saing di masa mendatang. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments