Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hai’atu Tanfidzil Qudwah MBS Porong Dikukuhkan, Santri Diingatkan Pentingnya Keteladanan

Iklan Landscape Smamda
Hai’atu Tanfidzil Qudwah MBS Porong Dikukuhkan, Santri Diingatkan Pentingnya Keteladanan
Pelantikan Tanfidzul Qudwah diadakan setelah sholat Subuh berjamaah di halaman masjid MBS Porong
pwmu.co -

Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika halaman Masjid Al Munirah, Muhammadiyah Boarding School (MBS) Porong, mulai dipenuhi para santri, Sabtu (22/8/2026).

Seusai shalat Subuh berjamaah, sejumlah santri terpilih dikukuhkan sebagai bagian dari Hai’atu Tanfidzil Qudwah. Namun, pengukuhan tersebut tidak sekadar menjadi prosesi seremonial.

Di balik kepercayaan yang diberikan, para santri diingatkan tentang tanggung jawab menjadi pemimpin sekaligus teladan bagi lingkungan sekitarnya.

Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, S.Fil.I., M.Pd., menegaskan bahwa kepemimpinan tidak pertama-tama berbicara tentang jabatan, melainkan keteladanan.

Hai’atu Tanfidzil Qudwah menjadi wadah bagi santri terpilih dari kelas 9 hingga 12. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi contoh dalam kebaikan, tetapi juga berperan menjaga kedisiplinan, stabilitas, serta suasana kehidupan santri di lingkungan pesantren.

Menurut Rozaq, keberadaan Tanfidzil Qudwah bukan untuk membentuk organisasi baru yang berdiri sendiri. Wadah tersebut menjadi bagian dari penguatan nilai-nilai organisasi otonom Muhammadiyah, khususnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Karena itu, para santri yang dipercaya menjadi Qudwah tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan kepemimpinan di lingkungan pesantren, tetapi juga sebagai kader yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat.

“Dengan demikian, para santri tidak hanya menjadi pemimpin di pesantren, namun juga kader bangsa yang memiliki integritas dan kepedulian sosial,” kata Rozaq.

Pesan tentang kepemimpinan itu bahkan dimulai dari waktu pelaksanaan pengukuhan. Prosesi dilakukan seusai shalat Subuh berjamaah.

Bagi Rozaq, pilihan waktu tersebut bukan tanpa makna. Kebiasaan bangun pagi dan menjalankan ibadah menjadi bagian dari pembentukan karakter seorang pemimpin.

“Pemimpin yang sejati adalah mereka yang mampu bangun pagi dan menjalankan ibadah dengan khusyuk,” tegasnya.

Menurutnya, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri. Sebelum mengatur orang lain, seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu mendisiplinkan dirinya.

Di hadapan para Qudwah Tholabah, Rozaq kemudian mengingatkan bahwa seorang pemimpin bukanlah orang yang paling banyak memberikan instruksi, melainkan orang yang bersedia menjadi yang pertama dalam melakukan.

Karena itu, anggota Tanfidzil Qudwah diharapkan menunjukkan kedisiplinan dalam aktivitas sehari-hari, menjaga adab, menaati aturan pesantren, serta memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitarnya.

Menjadi Qudwah juga membawa konsekuensi moral. Ketika seorang santri dipercaya menjadi teladan, perilakunya akan dilihat dan dapat menjadi rujukan bagi santri lainnya.

Namun, Rozaq mengingatkan bahwa kepercayaan tersebut bukan berarti seorang Qudwah telah menjadi pribadi yang sempurna. Sebaliknya, posisi itu harus menjadi ruang untuk terus bertumbuh.

Para santri diminta tidak cepat merasa puas dengan kebaikan yang telah dimiliki. Jika hari ini sudah baik, hari berikutnya harus berusaha menjadi lebih baik.

Dalam nasihatnya, Rozaq menggunakan ungkapan not good enough sebagai dorongan untuk melakukan evaluasi diri. Ungkapan tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan diri, melainkan menyadari bahwa selalu ada ruang untuk memperbaiki diri.

“Apa yang masih bisa saya perbaiki?” demikian pertanyaan yang perlu terus diajukan seorang Qudwah kepada dirinya sendiri.

Menurutnya, orang yang berhenti pada rasa cukup akan sulit berkembang. Menjadi terbaik bukan berarti mengejar kesempurnaan, melainkan menghadirkan versi terbaik dari diri sendiri.

Nasihat itu juga menyentuh kebiasaan seseorang dalam menerima kelemahannya. Rozaq mengingatkan para santri agar tidak menggunakan kalimat “memang saya seperti ini” sebagai alasan untuk mempertahankan kekurangan.

Menjadi diri sendiri, kata dia, tidak berarti berhenti memperbaiki diri. Seorang santri tetap memiliki ruang untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

Karena itu, pesan yang ditekankan kepada para Qudwah adalah, “Don’t just be yourself. Be your best.”

Menjadi yang terbaik, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada niat. Prinsip tersebut harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam belajar, beribadah, menjaga adab, menjalankan amanah, memimpin, maupun melayani sesama.

Di sinilah istilah qudwah menemukan maknanya. Qudwah berarti sosok yang dijadikan panutan atau teladan. Sementara uswah berkaitan erat dengan keteladanan, khususnya dalam akhlak dan perilaku.

Landasan keteladanan tersebut terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 21 yang menyebut Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah, teladan yang baik.

Karena itu, Rozaq menegaskan bahwa Qudwah Tholabah bukan sekadar pengurus. Seorang Qudwah adalah panutan yang perilakunya layak diikuti.

“Jadilah role model, bukan sekadar pengikut,” demikian pesan yang dirangkum dalam ungkapan kun qudwatan, la mujarrada tabi’in.

Pesan tersebut kembali menegaskan bahwa pemimpin sejati bukan yang paling banyak menyuruh, melainkan yang pertama melakukan. Bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang memberi contoh melalui tindakan.

Jika ingin melihat teman disiplin, seorang Qudwah harus memulai dari dirinya sendiri. Jika ingin melihat teman rajin, ia juga harus menunjukkan sikap yang sama.

Your action speaks louder than your position. Tindakan, dalam kepemimpinan, berbicara lebih kuat daripada jabatan.

SMPM 5 Pucang SBY

Nasihat tentang keteladanan itu kemudian ditempatkan dalam konteks pendidikan yang lebih luas. Menurut Rozaq, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada kecerdasan akademik.

Ia mengibaratkan pendidikan sebagai sebuah pohon yang harus tumbuh secara utuh. Akarnya adalah iman dan karakter, meliputi iman, adab, disiplin, kejujuran, serta tanggung jawab.

Batangnya adalah ilmu dan cara berpikir yang mencakup pengetahuan, nalar, kemampuan memecahkan masalah, serta pengambilan keputusan.

Sementara cabang-cabangnya berupa bakat dan keterampilan, mulai dari sains, olahraga, seni, teknologi, bahasa, hingga kepemimpinan. Daunnya adalah pengalaman dan relasi, termasuk kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan menghadapi konflik.

Adapun buahnya berupa prestasi dan kebermanfaatan yang diwujudkan melalui karya, kontribusi, prestasi, serta manfaat bagi sesama.

Analogi tersebut menggambarkan bahwa pohon yang tinggi dengan akar rapuh akan mudah tumbang. Begitu pula prestasi akademik yang tinggi tidak akan cukup tanpa disertai iman, adab, tanggung jawab, dan karakter yang kuat.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menanyakan, “Berapa nilai matematikamu?”

Ada pertanyaan lain yang juga penting, seperti bagaimana adabnya, bagaimana ibadahnya, bagaimana seorang santri memperlakukan teman, apakah ia bertanggung jawab, apa bakat yang dimiliki, dan manfaat apa yang dapat diberikan.

Orientasinya adalah membentuk manusia yang utuh, yakni beriman, berilmu, berakhlak, berprestasi, dan bermanfaat.

Rozaq juga mengajak para Qudwah melihat kembali makna keberhasilan. Menjadi Qudwah bukan tentang apa yang diperoleh seorang santri karena memiliki posisi tersebut.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dapat diberikan.

Bukan, “Apa yang saya dapat karena menjadi Qudwah?” melainkan, “Apa yang bisa saya berikan karena menjadi Qudwah?”

Begitu pula bukan tentang bagaimana agar terlihat hebat, tetapi bagaimana kehadiran seseorang dapat membuat orang lain menjadi lebih baik.

Dalam pemaknaan kebahagiaan, Rozaq menggambarkan perjalanan seseorang dari pleasure, ketika merasa senang karena mendapatkan sesuatu, menuju achievement saat berhasil mencapai sesuatu.

Namun, kebahagiaan yang hanya bertumpu pada pencapaian dapat mudah goyah ketika kegagalan datang. Karena itu, para Qudwah diajak bergerak menuju contribution atau kebermanfaatan.

Pada tahap tersebut, kebahagiaan muncul ketika keberadaan seseorang memberi arti bagi orang lain. Membantu teman, membimbing adik kelas, berbagi ilmu, melayani, dan menjadi teladan menjadi bentuk kontribusi yang menggeser orientasi dari sekadar mendapatkan menjadi memberikan.

Rozaq kemudian menempatkan satu orientasi yang lebih tinggi, yakni ultimate good atau hidup untuk kebaikan tertinggi. Pada tahap itu, pencapaian dan kontribusi diarahkan kepada tujuan yang lebih besar, yakni mencari rida Allah dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Prestasi menjadi sarana. Jabatan menjadi amanah. Ilmu menjadi jalan pengabdian. Sementara kepemimpinan menjadi bentuk pelayanan.

Dengan demikian, perjalanan seorang Qudwah bergerak dari pleasure menuju achievement, kemudian contribution, dan akhirnya ultimate good.

Dari keinginan untuk mendapatkan menuju keinginan untuk mencapai. Dari keinginan untuk mencapai menuju keinginan untuk memberikan. Hingga akhirnya, dari memberikan menuju pengabdian kepada kebaikan tertinggi.

Pada akhirnya, Rozaq kembali mengingatkan bahwa para santri tidak dikukuhkan sebagai Qudwah karena telah sempurna. Mereka dipercaya karena diharapkan terus bertumbuh.

Jabatan dapat tertulis dalam surat keputusan. Namun, keteladanan tidak cukup dituangkan dalam dokumen. Keteladanan harus terlihat dalam perilaku sehari-hari, mulai dari cara bangun pagi, menjalankan ibadah, menjaga adab, belajar, menaati aturan, memperlakukan teman, menjalankan amanah, hingga memberikan manfaat.

Pesan terakhir kepada para Qudwah Tholabah pun bukan sekadar tentang bagaimana menjadi pemimpin, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang layak diteladani.

“Don’t just be yourself. Be your best. Do your best. Give your best. Become a Qudwah.”

Dari halaman Masjid Al Munirah seusai Subuh, nasihat itu mengarah pada satu kesadaran: Qudwah bukanlah santri yang paling banyak mendapatkan atau semata-mata paling banyak mencapai.

Qudwah adalah santri yang semakin tinggi prestasinya, semakin besar kontribusinya, dan semakin kuat orientasinya kepada Allah.

Sebab, menjadi teladan bukan hanya tentang bertanya, “Apakah saya sudah menjadi baik?”

Lebih dari itu, seorang Qudwah perlu terus bertanya, “Apakah kehadiran saya membuat orang lain menjadi lebih baik?”

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/08/2026 11:50
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu