Ada kalanya kita begitu cepat membaca orang lain, tetapi begitu lambat membaca diri sendiri. Melihat seseorang rajin beribadah, kita buru-buru berkata, “Pamer.” Melihat orang lain gemar bersedekah, kita berbisik, “Cari nama.”
Melihat seseorang sering mengunggah aktivitas kebaikan, kita merasa sudah tahu apa yang ada di baliknya. Padahal, kita hanya melihat apa yang tampak. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati seseorang.
Bisa jadi, orang yang kita tuduh riya justru sedang berjuang melawan riya. Bisa jadi, orang yang kita anggap mencari pujian justru sedang belajar ikhlas. Dan bisa jadi, amal yang kita remehkan di mata manusia justru sangat bernilai di hadapan Allah.
Di sinilah masalahnya. Kita sering merasa menjadi penonton kehidupan orang lain, lalu tanpa sadar berubah menjadi hakimnya.
Bayangkan seorang lelaki duduk di masjid setelah salat. Di sampingnya, ada seseorang yang menangis. Bahunya bergetar. Air matanya jatuh satu per satu. Orang itu melihatnya.
Alih-alih tergerak untuk ikut melembutkan hati, muncul sebuah pikiran: Jangan-jangan dia sedang menangis supaya dilihat orang. Satu prasangka kecil. Tetapi prasangka kecil itu bisa menjadi beban besar bagi hati.
Makhul rahimahullah pernah berkata:
“Aku melihat seorang laki-laki menangis dalam salatnya, aku curiga ia menangis karena riya’. Akibatnya, aku dihukum tidak bisa menangis selama satu tahun.”
Kisah ini terasa seperti tamparan halus. Kadang-kadang, ketika kita sibuk mencurigai ketulusan orang lain, justru hati kita sendiri yang kehilangan kelembutan.
Kita melihat air mata orang lain, tetapi tidak mampu menangis untuk dosa-dosa sendiri. Kita melihat tangan orang lain yang bersedekah, tetapi lupa menghitung berapa banyak kesempatan berbagi yang kita lewatkan.
Kita melihat ibadah orang lain, tetapi lupa bertanya: bagaimana kualitas ibadah kita? Kita Tidak Pernah Tahu Perjuangan Seseorang
Ada seorang ibu yang setiap pagi berangkat bekerja. Ia mungkin tidak banyak bicara tentang kebaikannya. Tidak ada unggahan tentang sedekahnya. Tidak ada cerita tentang perjuangannya. Tetapi diam-diam, sebagian penghasilannya ia sisihkan untuk membantu orang tuanya.
Ada pula seorang anak muda yang setiap malam terlihat membaca Al-Qur’an. Seseorang mungkin berkata, “Sekarang rajin ibadah karena ingin terlihat baik.”
Padahal, tidak ada yang tahu bahwa ia sedang berusaha bangkit setelah melakukan banyak kesalahan. Ia sedang mencoba kembali. Ia sedang memperbaiki hubungan dengan Allah. Begitulah kehidupan.
Kita sering hanya melihat satu halaman dari buku kehidupan seseorang, lalu merasa sudah memahami seluruh ceritanya. Padahal, setiap orang membawa bab yang tidak kita ketahui.
Ada luka yang disembunyikan. Ada dosa yang sedang ditangisi. Ada perjuangan yang tidak diceritakan. Ada amal yang sengaja dirahasiakan. Karena itu, mengapa kita begitu mudah menilai?
Prasangka Bisa Menjadi Dosa
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS Al-Hujurat: 12)
Ayat ini tidak sekadar mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap ucapan. Ia juga mengajak kita menjaga apa yang tumbuh di dalam hati.
Sebab buruk sangka jarang berhenti sebagai pikiran. Ia bisa berubah menjadi bisikan. Bisikan berubah menjadi ucapan. Ucapan berubah menjadi sikap. Dan akhirnya, hubungan antarmanusia pun rusak.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa su’uzan dalam hati tidak selalu berhenti sebagai prasangka. Ia dapat mendorong seseorang untuk berkata dan berbuat sesuatu yang tidak semestinya.
Maka, sebelum prasangka itu tumbuh menjadi dosa yang lebih jauh, sebaiknya kita memotongnya sejak berada di dalam hati.
Jangan Sibuk Mencari Debu di Mata Orang
Ada kisah sederhana yang sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang berjalan bersama. Salah satunya tiba-tiba menunjuk wajah orang lain.
“Lihat, ada kotoran kecil di matanya.”
Ia begitu jelas melihat sesuatu yang kecil pada diri saudaranya. Namun ia lupa bahwa di matanya sendiri terdapat sesuatu yang jauh lebih besar.
Begitulah manusia. Kita mudah melihat kekurangan orang lain karena kekurangan itu berada di luar diri kita.
Sementara kekurangan sendiri sering sulit terlihat karena tertutup oleh rasa bangga, pembenaran, dan ego.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR Bukhari: 460)
Kalimat itu seperti cermin. Sebelum menunjuk orang lain, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku benar-benar lebih baik darinya? Apakah aku tahu isi hatinya? Apakah aku tahu perjuangannya? Dan apakah aku sudah selesai dengan kekurangan diriku sendiri?
Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menginventarisasi kesalahan orang lain. Ada begitu banyak pekerjaan rumah dalam diri kita sendiri.
Salat yang perlu diperbaiki. Lisan yang perlu dijaga. Hati yang perlu dibersihkan. Kesombongan yang perlu ditundukkan. Dosa yang perlu ditobati. Dan amal yang masih jauh dari ikhlas.
Maka, ketika melihat kebaikan seseorang, doakanlah. Ketika melihat kekurangannya, nasihati dengan cara yang baik jika memang diperlukan. Jika tidak mampu melakukan keduanya, setidaknya jangan menambahkan prasangka.
Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang lebih tinggi kedudukannya di hadapan Allah. Boleh jadi orang yang kita pandang biasa saja justru memiliki satu amal tersembunyi yang membuatnya begitu dekat dengan Allah.
Sebaliknya, boleh jadi orang yang merasa sudah banyak berbuat baik justru sedang diuji oleh rasa bangga terhadap amalnya sendiri.
Pada akhirnya, tugas kita bukan mengadili isi hati manusia. Tugas kita adalah menjaga hati sendiri.
Jangan sampai terlalu sibuk melihat noda di wajah orang lain, sementara cermin di hadapan kita menunjukkan begitu banyak yang harus dibersihkan. Daripada sibuk menilai orang lain, mari sibuk memperbaiki diri.
Sebab ketika kita mulai fokus memperbaiki diri, hati perlahan menjadi lebih lembut. Dosa-dosa mulai kita sadari. Lisan menjadi lebih terjaga. Dan hubungan dengan sesama pun menjadi lebih sehat.
Mungkin, itulah bentuk kedewasaan iman yang sering kita lupakan: bukan merasa paling baik ketika melihat kekurangan orang lain, melainkan semakin rendah hati ketika menyadari betapa banyak kekurangan dalam diri sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments