Hasil budidaya ikan lele dan nila di Dusun Buwek, Desa Sitirejo, selama ini lebih banyak dipasarkan dalam bentuk ikan segar. Kondisi tersebut mendorong KKN MAs (Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-Aisyiyah) 2026 Kelompok 45 mengembangkan pengolahan lele menjadi produk ikan asap menggunakan alat pengasapan sederhana berupa drum smoker.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya persiapan hilirisasi sektor perikanan dengan memanfaatkan potensi budidaya yang telah berkembang di tengah masyarakat. Pengolahan ikan diharapkan dapat membuka alternatif pemanfaatan hasil panen sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan lokal.
Keberadaan Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) di Dusun Buwek menjadi salah satu penggerak kegiatan ekonomi masyarakat melalui pembesaran ikan lele dan nila. Kegiatan budidaya tersebut telah berjalan dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam bentuk hibah.
Namun, pengelolaan budidaya belum sepenuhnya melibatkan seluruh anggota Pokdakan secara aktif. Ketua Pokdakan Dusun Buwek, Arifin, mengatakan kegiatan budidaya saat ini masih lebih banyak dikelola secara perorangan.
“Tidak semua aktif, sehingga hanya dikelola oleh perorangan yaitu ketua. Sehingga, anggota lain yang tidak aktif tidak mendapatkan hasil dari keuntungan budidaya,” ujar Arifin.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan potensi perikanan secara kolektif. Padahal, komoditas lele dan nila memiliki siklus budidaya yang relatif terukur sehingga dapat dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Potensi Lele dan Nila
Berdasarkan estimasi budidaya yang digunakan dalam program, ikan lele memiliki masa pemeliharaan sekitar 2,5–3 bulan. Dari 1.000 ekor bibit, hasil panen diperkirakan mencapai 100–150 kilogram, bergantung pada kualitas pakan, sistem budidaya, tingkat kelangsungan hidup ikan, dan kondisi lingkungan.
Sementara itu, ikan nila membutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 4–5 bulan dengan estimasi hasil panen 200–250 kilogram dari 1.000 ekor bibit. Angka tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam proses budidaya.
Potensi produksi tersebut menunjukkan bahwa perikanan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu komoditas ekonomi masyarakat Dusun Buwek. Persoalannya, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk ikan segar sehingga peluang pengolahan untuk memperoleh nilai tambah belum dimanfaatkan secara optimal.
Selain pengolahan, tantangan lain yang dihadapi mencakup pengemasan, pengembangan identitas produk, serta pemasaran. Kondisi tersebut mendorong Kelompok 45 KKN MAs untuk tidak hanya melihat persoalan dari sisi budidaya, tetapi juga dari tahap setelah ikan dipanen.
Lele Segar Diolah Menjadi Lele Asap
Salah satu langkah yang dikembangkan mahasiswa adalah membuat dan memanfaatkan drum smoker sebagai alat pengasapan ikan. Melalui alat tersebut, ikan lele hasil budidaya diolah menjadi lele asap sebagai alternatif produk pangan yang berbeda dari penjualan ikan dalam kondisi segar.
Pengolahan ini menjadi tahap awal untuk menghubungkan kegiatan budidaya dengan pengolahan hasil perikanan. Ikan yang sebelumnya langsung dipasarkan sebagai komoditas segar dapat diproses terlebih dahulu sehingga memiliki bentuk produk yang berbeda dan berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan.
Pengembangan produk juga tidak berhenti pada proses pengasapan. KKN MAs Kelompok 45 memberikan pendampingan terkait pengolahan hasil perikanan, desain kemasan, identitas produk, serta strategi pemasaran.
Aspek kesehatan dan keamanan pangan turut diperkenalkan kepada masyarakat, terutama berkaitan dengan kebersihan selama proses pengolahan dan penanganan produk. Langkah tersebut diperlukan agar pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada tampilan dan pemasaran, tetapi juga memperhatikan kelayakan pangan.
Membuka Akses Pemasaran Lebih Luas
KKN MAs Kelompok 45 juga mendorong pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan produk lele asap. Penggunaan media digital diharapkan dapat membantu masyarakat mengenalkan produk kepada konsumen di luar Dusun Buwek sekaligus membuka alternatif saluran pemasaran.
Pengembangan identitas dan kemasan menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Produk hasil budidaya lokal perlu memiliki tampilan yang mudah dikenali agar dapat dibedakan ketika dipasarkan kepada konsumen.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan lele asap tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pengolahan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari rantai usaha yang menghubungkan budidaya, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran.
Hilirisasi tersebut sekaligus dapat menjadi alternatif bagi Pokdakan untuk memanfaatkan hasil panen ketika pemasaran ikan segar menghadapi kendala. Produk olahan memberikan pilihan lain bagi masyarakat untuk mengembangkan hasil budidaya menjadi komoditas dengan bentuk dan nilai ekonomi yang berbeda.
Melalui program tersebut, KKN MAs 2026 Kelompok 45 berharap potensi perikanan Dusun Buwek dapat dikelola secara lebih optimal dan melibatkan lebih banyak anggota Pokdakan. Pengembangan lele asap juga diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun kegiatan usaha berbasis hasil perikanan lokal.
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada kemampuan masyarakat dalam mempertahankan kualitas produk, mengelola produksi, membangun pemasaran, serta mengembangkan kelembagaan kelompok. Dengan demikian, inovasi drum smoker tidak berhenti sebagai teknologi pengolahan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai perikanan di Dusun Buwek.
Kegiatan ini terlaksana dengan dukungan Panitia Pusat dan Lokal KKN MAs 2025, Konsorsium LPPM PTMA, serta Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari fasilitasi pengembangan program KKN MAs yang diarahkan untuk menghasilkan inovasi dan manfaat bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments