Mimpi Imara Al Hamani, S.S. untuk melanjutkan studi ke Jepang akhirnya terwujud. Guru sekaligus Koordinator Muhammadiyah International Class Orientation (M-ICO) SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) itu berhasil meraih beasiswa Monbukagakusho (MEXT) untuk melanjutkan pendidikan di Jepang.
Kepastian tersebut diterima Imara pada Jumat (21/8/2026), setelah melewati rangkaian seleksi selama sekitar enam bulan sejak pendaftaran pada Januari 2026.
Rencananya, Imara akan berangkat ke Jepang pada 30 September 2026. Ia akan menjalani rangkaian pendidikan hingga 2028 dengan durasi sekitar 1,6 tahun.
Persaingan untuk mendapatkan beasiswa tersebut tidak mudah. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Kedutaan Besar Jepang, lebih dari 1.000 peserta dari Indonesia mengikuti seleksi. Dari jumlah tersebut, hanya enam peserta yang akhirnya dinyatakan lolos.
Imara menjadi salah satu dari enam penerima beasiswa tersebut. Menariknya, MEXT merupakan pengalaman pertamanya mengikuti seleksi beasiswa.
“Sebetulnya sudah lama ingin mendaftar, tetapi baru tahun ini diperbolehkan oleh orang tua. Ini pertama kali saya mendaftar beasiswa dan alhamdulillah diterima,” ujar Imara yang juga menjabat Sekretaris PCNA Sepanjang.
Enam Bulan Penuh Perjuangan
Perjalanan Imara menuju Jepang berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Seleksi dimulai dengan pemeriksaan dokumen, kemudian dilanjutkan dengan ujian tulis dan wawancara.
Setelah dinyatakan lolos pada tahap awal, berkas peserta dikirim ke Jepang untuk mengikuti proses seleksi oleh pihak MEXT. Persaingan pun semakin ketat karena peserta harus bersaing dengan kandidat dari berbagai negara.
Perjuangan Imara semakin berat ketika kondisi kesehatannya menurun menjelang tahap wawancara. Ia harus menjalani perawatan selama sekitar satu pekan.
“Di tengah proses ujian tulis dan menjelang wawancara saya terkena tipes selama sepekan. Bahkan saat berangkat ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk proses wawancara, saya baru lepas infus tambahan. Perban infusnya masih ada di tangan,” kenangnya.
Momen menerima kabar kelulusan juga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Saat itu, Imara sedang berada di rumah bersama keluarganya. Mereka membuka email pengumuman bersama-sama dan mendapati Imara dinyatakan lolos.
Tertarik Sistem Pendidikan Jepang
Keputusan memilih Jepang sebagai negara tujuan studi bukan tanpa alasan. Imara mengaku telah lama tertarik dengan sistem pendidikan Jepang yang menurutnya memiliki tata kelola yang sistematis.
Ketertarikan tersebut semakin kuat karena bidang yang akan dipelajarinya berkaitan erat dengan dunia pendidikan.
“Saya tertarik sekali dengan sistem pendidikan dan negara Jepang yang sangat sistematis,” ungkapnya.
Melalui beasiswa MEXT, Imara akan memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuan sekaligus melihat secara langsung praktik pendidikan di Jepang.
Belajar Bahasa Jepang hingga Penelitian di Nara
Setelah dinyatakan lolos, Imara akan menjalani sejumlah tahapan pendidikan di Jepang. Pada tahap awal, ia akan mengikuti pembelajaran bahasa Jepang di JASSO Osaka.
Selanjutnya, ia akan melanjutkan kegiatan akademik dan penelitian di Nara University of Education. Di kampus tersebut, Imara akan bergabung dengan Faculty of Teacher Education, English Language Education, Graduate School of Education.
Kesempatan itu menjadi ruang bagi Imara untuk memperluas wawasan mengenai pendidikan, bahasa, dan praktik pembelajaran dalam lingkungan akademik internasional.
Sebagai Koordinator M-ICO Smamita, pengalaman tersebut memiliki arti tersendiri bagi Imara. Selama ini, ia turut mendampingi berbagai program yang berorientasi pada penguatan wawasan internasional siswa. Kini, ia berkesempatan merasakan secara langsung atmosfer pendidikan internasional di Jepang.
Pulang Membawa Ilmu untuk Smamita
Bagi Imara, keberhasilan meraih beasiswa MEXT bukan sekadar kesempatan untuk belajar dan tinggal di Jepang. Ia memiliki misi untuk membawa pulang ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani pendidikan.
Ia berharap pengetahuan, pengalaman penelitian, serta interaksi dengan lingkungan pendidikan di Jepang dapat memberikan manfaat bagi Smamita, para siswa, dan masyarakat di sekitarnya.
“Setelah pendidikan nanti saya bisa membawa manfaat dan menebarkan banyak ilmu untuk sekitar,” katanya.
Keberangkatan Imara menjadi kabar membanggakan bagi keluarga besar Smamita. Perjalanannya juga menunjukkan bahwa proses belajar tidak berhenti ketika seseorang menjadi guru.
Dari ruang-ruang kelas Smamita, langkah Imara kini berlanjut menuju Jepang. Ia membawa tekad untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, memperluas pengalaman, kemudian kembali membawa pengetahuan baru untuk memberi warna bagi dunia pendidikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments