Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Muhammadiyah 1 Krian hidupkan Seni Tradisi Lewat Tari Onclang Kidang dan Sapu Kerik

Iklan Landscape Smamda
SD Muhammadiyah 1 Krian hidupkan Seni Tradisi Lewat Tari Onclang Kidang dan Sapu Kerik
Moment anak-anak dapat berkeliling di dalam keraton (Maya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Siswa SD Muhammadiyah 1 Krian tampil memukai dalam Sekaten Solo. Suasana budaya di Kota Solo kembali semarak melalui perhelatan Sekaten Solo 2026 yang berlangsung sejak (25/7-5/9/2026). Tradisi tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah penyebaran Islam di Jawa, tetapi juga menjadi panggung bagi masyarakat untuk merawat kesenian dan tradisi.

Rangkaian Sekaten tahun ini dipusatkan di kawasan Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta. Suara gamelan pusaka Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu menjadi bagian penting dari tradisi yang telah melekat dalam perayaan Sekaten. Di tengah suasana tersebut, pasar rakyat turut menghadirkan keramaian yang membuat kawasan keraton semakin hidup.

Selain tradisi dan pasar rakyat, Sekaten Solo 2026 juga menghadirkan beragam pertunjukan seni.

Kawasan Alun-Alun Utara, Siti Hinggil, dan Pagelaran Keraton Surakarta menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati hiburan rakyat, musik, serta berbagai kesenian tradisional. Panggung budaya juga menghadirkan seni seperti wayang kulit, ketoprak, reog, dan tari-tarian klasik.

Pagelaran berlangsung selama 1 Minggu pada (19-25/8/2026). Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para siswa SD Sakri yang turut ambil bagian dalam pertunjukan seni.

Sebanyak 20 siswa tampil membawakan dua tarian, yakni Tari Onclang Kidang dan Tari Sapu Kerik. Mereka tidak sekadar menampilkan gerakan tari, tetapi juga belajar mengenal budaya melalui pengalaman secara langsung.

Ketika memasuki acara tampil mereka sempat sedikit merasakan adaptasi dengan acara Sekaten, walaupun ini merupakan kedua kalinya mereka dapat hadir di acara tersebut.

Tari Onclang Kidang dibawakan oleh sembilan siswa. Mereka adalah Adreena Mysha Kurniawan dan Natisha Sabria Cahyarani dari kelas 3 Horizon, Dzakira Ghaitsa Ackbar kelas 3 Horizon, Cheryl Marlinesha Hadi dan Nabila Nur Azzahra kelas 4 Abu, Fatimah Shakila Az Zalfa serta Elsa Talitha Ayunindya Larasati kelas 4 Ali, Sabrina Ayu Prameswari kelas 4 Utsman, dan Inayya Dhiona Nausha Wicaksono kelas 4 Abu.

Sementara itu, Tari Sapu Kerik dibawakan oleh 11 siswa, yaitu Aurora Balvania Afsheen Misya Kurniawan, Hafiza Khaira Al Lubna, dan Ashila Laras Safitri dari kelas 5 Umar; Aysha Shakila Zahra dan Kanaya Jenar Fathiya dari kelas 5 Ali; Nayyara Zahwa Pramudita, Nabila Husnia Putri Ahmad, Aisyah Desti Ayudia Inara, dan Atikah Balqis Azizah Muharram dari kelas 5 Abu; Putri Habibah Armita Khumayra kelas 5 Umar; serta Alldiana Syauqia kelas 6 Umar.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebelum tampil mereka menyempatkan memasuki keraton untuk berkeliling dan mengenal lebih jauh.

Guru SBDP, Riski Dwi, S.Sn., mengatakan keterlibatan siswa dalam kegiatan budaya seperti Sekaten memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak diperoleh hanya melalui buku.

“Anak-anak tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar menghargai budaya, bekerja sama, disiplin dalam latihan, dan berani tampil di depan masyarakat. Bagi mereka, tampil di Sekaten menjadi pengalaman yang akan dikenang sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap seni tradisional,” ujar Riski Dwi.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa seni tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Proses latihan hingga tampil di panggung mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan kerja keras.

Ratna Mettasari, MPd sebagai Waka Kesiswaan dan Prasarana sangat mengapresiasi keberanian anak-anak yang tampil dengan sangat baik.

Bagi para siswa, Sekaten bukan sekadar pertunjukan. Di balik gerakan tari dan kostum yang mereka kenakan, terdapat proses belajar tentang keberanian, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya. Kehadiran generasi muda dalam panggung Sekaten menjadi harapan agar tradisi dan seni Nusantara terus hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 22/08/2026 20:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu