Delapan puluh satu tahun yang lalu, tepatnya Jumat, 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Kemerdekaan itu bukan sekadar peristiwa politik. Bagi bangsa yang religius, kemerdekaan juga memiliki dimensi spiritual. Hal itu bahkan ditegaskan secara terang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata pembuka konstitusi. Di dalamnya terkandung kesadaran mendalam para pendiri bangsa bahwa kemerdekaan Indonesia tidak semata-mata lahir dari kekuatan manusia. Ada ikhtiar, pengorbanan, keberanian, doa, dan pada akhirnya ada pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.
Rahmat secara bahasa berarti nikmat, kebaikan, karunia, kasih sayang, dan kemurahan. Maka, rahmat Allah adalah segala bentuk kebaikan dan kasih sayang-Nya yang diberikan kepada makhluk-Nya.
Bayangkan suasana Indonesia pada hari-hari menjelang 17 Agustus 1945. Negeri ini masih berada dalam bayang-bayang penjajahan. Rakyat hidup dalam keterbatasan. Kekuasaan asing menentukan banyak hal. Kebebasan bukan sesuatu yang mudah dimiliki.
Namun, di tengah ketidakpastian itu, tumbuh sebuah keyakinan: bangsa Indonesia harus berdiri sebagai bangsa yang merdeka.
Di kampung-kampung, para pemuda berkumpul. Di surau dan masjid, doa dipanjatkan. Para kiai dan ulama memberikan semangat. Para pejuang meninggalkan keluarga dan kenyamanan hidup untuk mempertaruhkan segala sesuatu demi masa depan negeri.
Kemudian, pada pagi 17 Agustus 1945, di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, teks Proklamasi dibacakan.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada tata cahaya. Tidak ada pengeras suara seperti acara kenegaraan zaman sekarang.
Namun, dari tempat sederhana itu, sebuah bangsa mengumumkan kepada dunia: Indonesia telah merdeka. Sang Merah Putih dikibarkan. Tangis haru pecah. Doa dan syukur mengalir.
Hari itu menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kemerdekaan akhirnya bukan lagi cita-cita. Ia menjadi kenyataan.
Dan para pendiri bangsa menyebutnya dengan sangat jelas: atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Rahmat Allah Tidak Boleh Terputus
Rahmat Allah sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, manusia tidak mungkin hidup tanpa rahmat-Nya.
Jika rahmat Allah terputus, manusia kehilangan daya untuk bertahan. Alam kehilangan keseimbangannya. Kehidupan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Allah mengingatkan tentang besarnya karunia dan rahmat-Nya: “Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar…” (QS An-Nur: 14).
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hidup karena karunia dan rahmat Allah. Begitu pula dengan sebuah bangsa.
Kemerdekaan yang telah diperoleh harus dipandang sebagai amanah. Ia bukan tiket untuk hidup tanpa batas. Bukan pula alasan untuk merasa paling kuat.
Kemerdekaan justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Setelah terbebas dari penjajahan, bangsa Indonesia memiliki kewajiban mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, keadilan, pendidikan, kesejahteraan, dan kehidupan yang bermartabat.
Kemerdekaan harus membawa rakyat menuju kehidupan yang lebih baik.
Takbir dan Perjuangan
Kemerdekaan Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama dan umat Islam.
Di berbagai daerah, para kiai, santri, ustaz, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat bersama-sama menghadapi penjajahan.
Mereka tidak hanya membawa senjata. Mereka juga membawa keyakinan.
Di tengah dentuman senjata dan kepulan asap pertempuran, takbir menggema:
Allahu Akbar!
Takbir bukan sekadar seruan. Ia menjadi peneguh keberanian. Bahwa manusia boleh memiliki kekuatan, tetapi kemenangan sejati berada dalam kehendak Allah.
Semangat itu salah satunya terdengar dalam pidato Bung Tomo ketika membakar keberanian rakyat Surabaya dalam menghadapi pasukan Sekutu.
Di tengah ancaman perang, ia menyerukan keyakinan bahwa kemenangan akan berpihak kepada mereka yang berada di jalan yang benar.
Kemudian suara itu ditutup dengan pekikan yang menggetarkan:
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!
Bayangkan suasana Surabaya ketika itu. Jalan-jalan dipenuhi manusia. Pemuda bersiap menghadapi pertempuran.
Para ibu melepas anak dan suaminya dengan doa. Di masjid dan musala, takbir menggema. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Mungkin mereka akan pulang. Mungkin pula tidak. Tetapi mereka tetap maju. Sebab ada sesuatu yang lebih besar daripada rasa takut: keyakinan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Iman dan Takwa
Kini, kita tidak lagi hidup dalam situasi perang seperti para pejuang dahulu. Kita tidak perlu mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan kemerdekaan.
Namun, bukan berarti perjuangan telah selesai. Bentuk perjuangan berubah. Jika dahulu para pejuang berjuang mengusir penjajah, sekarang kita harus berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, keserakahan, perpecahan, dan berbagai perilaku yang merusak bangsa.
Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan darah, sekarang kemerdekaan harus diisi dengan karya.
Jika dahulu para pejuang mengorbankan harta dan jiwa, sekarang kita dituntut memberikan kemampuan terbaik untuk bangsa.
Dan sebagai seorang Muslim, cara terbaik mensyukuri rahmat kemerdekaan adalah dengan menghadirkan iman dan takwa dalam kehidupan.
Allah berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS Al-A’raf: 96).
Ayat tersebut memberikan pesan yang sangat relevan. Kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, jalan yang panjang, teknologi yang canggih, atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus menghadirkan keberkahan.
Apa artinya negeri maju jika rakyatnya kehilangan kejujuran? Apa artinya ekonomi tumbuh jika kesenjangan semakin lebar?
Apa artinya teknologi berkembang jika manusia semakin kehilangan kepedulian? Apa artinya kemerdekaan jika masih ada rakyat yang tidak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak?
Karena itu, kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat.
Merdeka Bukan Berarti Bebas dari Tanggung Jawab
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita benar-benar mengisi kemerdekaan?
Bukan hanya dengan memasang bendera. Bukan hanya mengikuti upacara. Bukan hanya mengadakan perlombaan. Semua itu penting sebagai simbol kebangsaan. Tetapi makna kemerdekaan jauh lebih dalam.
Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengajar dengan ikhlas. Petani bekerja dengan tekun. Pedagang berdagang dengan jujur.
Pejabat menjalankan amanah. Pengusaha membuka lapangan kerja. Pelajar belajar bersungguh-sungguh. Orang tua mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Dan setiap warga menjaga persatuan.
Itulah cara sederhana merawat kemerdekaan. Kemerdekaan adalah rahmat. Tetapi rahmat juga merupakan amanah.
Karena itu, jangan sampai generasi hari ini menikmati kemerdekaan tanpa memahami harga yang telah dibayar oleh generasi sebelumnya.
Jangan sampai kita menikmati hasil perjuangan para pahlawan, tetapi justru merusak negeri yang mereka perjuangkan.
Delapan puluh satu tahun bukan usia yang pendek. Indonesia telah melewati berbagai zaman, krisis, konflik, perubahan politik, dan tantangan global.
Namun, negeri ini tetap berdiri. Merah Putih tetap berkibar. Indonesia tetap menjadi rumah bersama.
Maka, pada peringatan 81 tahun kemerdekaan ini, mari kita kembali mengingat kalimat sakral dalam Pembukaan UUD 1945:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”
Kalimat itu mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan harus melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.
Kemerdekaan harus melahirkan persatuan, bukan permusuhan. Kemerdekaan harus melahirkan keadilan, bukan kesewenang-wenangan. Kemerdekaan harus melahirkan kesejahteraan, bukan kesenjangan.
Dan kemerdekaan harus membawa bangsa Indonesia semakin dekat kepada nilai-nilai kebaikan yang diridai Allah.
Semoga kita mampu menjaga, memelihara, dan meningkatkan iman serta takwa sebagai wujud syukur atas 81 tahun kemerdekaan Indonesia.
Allahu Akbar!
Merdeka!
Semoga Allah meridai dan menganugerahkan kepada kita kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, rahmat dan kasih sayang-Nya, keberkahan dalam kehidupan, ampunan atas dosa-dosa kita, umur yang bermanfaat, rezeki yang halal, serta kemudahan dalam mengarungi kehidupan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Berkat rahmat Allah, Indonesia merdeka. Semoga dengan rahmat-Nya pula Indonesia semakin maju, adil, sejahtera, dan penuh berkah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments