Muhammadiyah Magetan punya banyak tokoh yang ikut menorehkan sejarah. Namun, nama Padi Sumarsono memiliki tempat tersendiri. Dia bukan sekadar pernah memimpin Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Magetan.
Dia dikenal sebagai sosok yang menghidupkan gerakan turba—turun ke bawah—hingga menjadi denyut kehidupan persyarikatan di tingkat cabang dan ranting.
Bagi Padi Sumarsono, organisasi tidak cukup hanya bergerak dari balik meja. Pengurus harus turun, bertemu warga, mendengar persoalan mereka, sekaligus merawat silaturahmi.
Semangat itulah yang ia tanamkan ketika menjadi Ketua PDM Magetan periode 1995-2000.
Gerakan turba bukan sekadar slogan. Ia benar-benar dijalankan. Pertemuan antara PDM dan pimpinan cabang digelar secara rutin.
Para pengurus daerah diajak hadir langsung ke berbagai pelosok Magetan. Jarak, keterbatasan kendaraan, bahkan perjalanan malam tidak menjadi alasan untuk berhenti bersilaturahmi.
Kenangan tentang gerakan turba Padi Sumarsono itu masih tersimpan kuat dalam ingatan Syahrir, Sekretaris PDM Magetan periode 1995-2000.
Dalam wawancara di kediamannya di Jalan Raya Sukomoro-Maospati, Ahad, 30 Agustus 2021, Syahrir menceritakan bagaimana ia kerap mendampingi Padi Sumarsono turun ke berbagai wilayah.
Mereka menyambangi tokoh-tokoh Muhammadiyah di sejumlah cabang. Poncol, Lembeyan, Maospati, hingga wilayah lain yang berada di pelosok Magetan menjadi tujuan.
Syahrir masih mengingat sosok Amin, BA di Poncol, Mulyono di Maospati, serta sejumlah tokoh lain yang menjadi penggerak Muhammadiyah di tingkat cabang. Perjalanan terkadang dilakukan malam hari.
“Semua dilakukan dengan kerelaan hati. Rasa memiliki terhadap persyarikatan sangat terasa di hati para pengurus sehingga aktivitas turba terlaksana dengan baik dan lancar,” kenang Syahrir.
Bagi Padi Sumarsono, turba bukan hanya kunjungan organisasi. Ada dua tujuan yang selalu dibawanya: silaturahmi dan pembinaan internal.
Karena itu, perjalanan ke wilayah barat Magetan pun dilakukan untuk menemui tokoh-tokoh sentral Muhammadiyah. Di antaranya Dimyati di Mangge, Muh. Ramli di Tebon, Basuki di Mangge, dan Nur Hasyim di Bogorejo.
“Pengurus daerah mengunjungi cabang barat menemui tokoh-tokoh sentral. Agenda ini betul-betul sangat berkesan dan mengikat di hati para pengurus. Di tengah keterbatasan transportasi dan komunikasi, hal itu bukan penghalang dalam usaha menggerakkan persyarikatan,” ujar Syahrir, yang pernah menjadi pengawas Dinas Pendidikan Magetan.
Padi Sumarsono memimpin PDM Magetan pada periode yang sangat penting dalam sejarah Indonesia.
Tahun 1998 menjadi titik balik kehidupan politik nasional. Pemerintahan Soeharto yang berkuasa lebih dari tiga dekade akhirnya berakhir. Reformasi membuka ruang politik dan sosial yang jauh lebih luas.
Geliat perubahan itu juga terasa di Muhammadiyah Magetan. Pada detik-detik menjelang runtuhnya Orde Baru, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan instruksi kepada seluruh Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), termasuk di Magetan.
Kader pemuda dan Kokam diminta aktif menjaga masyarakat menyusul maraknya isu gerakan ninja yang saat itu menimbulkan keresahan. Berbagai kabar mengenai penculikan dan ancaman terhadap tokoh agama, masyarakat, maupun pemerintahan beredar luas.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian itu, Muhammadiyah mengambil peran sosial. Kader didorong hadir di tengah masyarakat. Padi Sumarsono berada dalam dinamika tersebut.
Muhammadiyah dan Dinamika Politik 1999
Memasuki era Reformasi, ruang partisipasi politik warga Muhammadiyah juga semakin terbuka.
Pada 1998, muncul instruksi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar kader dan simpatisan menyalurkan aspirasi politik melalui Partai Amanat Nasional (PAN).
Pemilu 1999 kemudian menjadi momentum penting. Di Magetan, PAN berhasil mengantarkan kader muda Muhammadiyah menjadi anggota legislatif. Kader tersebut bahkan mampu bertahan selama dua periode.
Dinamika politik itu berlanjut pada Pemilu 2004. Komposisi kekuatan politik di DPRD Magetan kemudian melahirkan Fraksi Umat. Fraksi ini terdiri atas PAN dengan dua kursi, PBB satu kursi, PPP satu kursi, dan Partai Keadilan satu kursi.
Bagi Muhammadiyah Magetan, masa itu bukan hanya tentang politik elektoral. Ia juga menjadi bagian dari proses belajar berdemokrasi setelah puluhan tahun berada dalam sistem politik Orde Baru.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Di tengah perubahan tersebut, gerakan Muhammadiyah tetap harus dijaga agar tidak kehilangan akar. Dan salah satu cara yang dilakukan Padi Sumarsono adalah memastikan pengurus daerah tidak berjarak dengan cabang dan ranting. Turba menjadi jembatannya.
Ada satu peristiwa lain yang memperkuat catatan sejarah kepemimpinan Padi Sumarsono.
Pada 28-29 Oktober 2000, PDM Magetan menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Jawa Timur di Sarangan, Plaosan, Magetan.
Musywil tersebut melahirkan komposisi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur periode 2000-2005.
KH Abdurrahim Nur, Lc dipercaya sebagai penasihat. Prof. Dr. Fasich, Apt menjadi ketua. Sementara Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, KH Mu’ammal Hamidy, Lc, dan Drs. Muhadjir Effendy menjadi wakil ketua.
Posisi sekretaris dipercayakan kepada Drs. Nur Cholis Huda, M.Si, sedangkan bendahara dijabat Drs. Abd. Rahman Aziz dan wakil bendahara Drs. Achmad Achsin.
Musywil di Sarangan menjadi salah satu momentum penting yang menunjukkan kapasitas Muhammadiyah Magetan dalam menggelar agenda persyarikatan di tingkat Jawa Timur.
Warisan yang Tidak Berhenti pada Jabatan
Padi Sumarsono telah lama meninggalkan jabatan struktural. Namun, jejaknya tidak ikut hilang.
Dia meninggalkan sebuah pelajaran sederhana: persyarikatan akan kuat jika pengurus tidak kehilangan hubungan dengan akar rumput.
Turba yang ia gerakkan menunjukkan bahwa membangun Muhammadiyah bukan hanya tentang menyusun program di tingkat daerah.
Ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar: mendatangi cabang, menemui tokoh, mendengarkan persoalan, dan menjaga rasa memiliki terhadap persyarikatan. Di situlah kekuatan kepemimpinannya terasa.
Karena itu, tidak berlebihan jika sebagian warga Muhammadiyah Magetan menyebut Padi Sumarsono sebagai Begawan Muhammadiyah Magetan. Sebutan itu bukan semata karena ia pernah menjadi ketua PDM.
Lebih dari itu, karena ia menjadi salah satu pelaku sejarah yang ikut menggerakkan dan membesarkan Muhammadiyah Magetan dalam masa transisi yang penuh perubahan.
Padi Sumarsono wafat pada Selasa, 7 Februari 2023, pukul 03.00 WIB setelah mengalami sakit. Kepergiannya meninggalkan duka bagi warga Muhammadiyah Magetan.
Namun, ada warisan yang tetap hidup: semangat untuk turun ke bawah, menyapa warga, merawat silaturahmi, dan menggerakkan persyarikatan dari akar rumput.
Sebab bagi seorang penggerak seperti Padi Sumarsono, Muhammadiyah bukan sekadar struktur organisasi. Ia adalah rumah besar yang harus terus didatangi, dirawat, dan dihidupkan bersama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments