Kabar membanggakan datang dari keluarga besar Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur. Salah satu alumninya, Farhan Alif Ujilast, berhasil meraih ASEAN Scholarship untuk menempuh studi Master of Arts (M.A.) in Philosophy di Nalanda University, India, pada tahun akademik 2026–2028.
Bagi Farhan, keberhasilan tersebut bukan semata-mata buah kerja keras pribadi. Ia meyakini setiap ikhtiar yang dijalani selalu berada dalam pertolongan Allah SWT.
“Allah selalu membersamai,” ujarnya.
Keyakinan itu lahir dari perjalanan panjangnya selama aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Berorganisasi telah mempertemukannya dengan banyak guru, sahabat, dan ruang-ruang diskusi yang membentuk cara pandangnya terhadap ilmu pengetahuan hingga mengantarkannya meraih kesempatan belajar di luar negeri.
Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PW IPM Jawa Timur periode 2023–2026 ini, mengungkapkan ada tiga alasan utama memilih melanjutkan studi di India, yaitu ketersediaan beasiswa penuh (fully funded), kualitas akademik, dan pertimbangan sosiologis.
Melalui ASEAN Scholarship, seluruh kebutuhan studinya ditanggung, mulai dari biaya kuliah, tempat tinggal di hostel kampus, uang saku bulanan, hingga tiket pesawat.
Selain dukungan beasiswa, Farhan menilai India sebagai negara yang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan.
Pemerintah India menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu pilar utama pembangunan sumber daya manusia sebagaimana tertuang dalam Economic Survey 2025–2026.
Di tingkat global, UNESCO juga terus memantau capaian India dalam mewujudkan Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Dari sisi sosial dan budaya, India juga memiliki kedekatan historis dengan Indonesia. Negara tersebut dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dunia, tempat lahir berbagai agama besar dan tradisi filsafat yang berkembang selama ribuan tahun.
Selain itu, India juga memiliki populasi umat Islam yang sangat besar sehingga dinilai memiliki lingkungan yang beragam untuk memperkaya pengalaman akademik maupun kehidupan sosial.
IPM Menjadi Ruang Bertumbuh
Farhan mengakui, keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari proses panjang selama ber-IPM. Organisasi pelajar Muhammadiyah itu menjadi ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak tokoh dan kader yang menginspirasi untuk berani bermimpi melanjutkan studi ke luar negeri.
“Alhamdulillah, di IPM saya bisa berdiskusi dengan banyak kawan tentang akademik, agama, filsafat, sastra, dan berbagai hal lainnya. Lingkungan seperti inilah yang perlahan membentuk orientasi saya untuk melanjutkan studi,” tuturnya.
Ia bahkan melihat ada keterkaitan yang menarik antara perjalanan organisasinya dengan berbagai pencapaian penting dalam hidupnya.
Saat dinyatakan lulus ujian skripsi pada 2023, misalnya, Farhan sedang bertugas sebagai fasilitator dalam Pelatihan Fasilitator Pendamping (PFP) II IPM di Sidoarjo. Begitu pula ketika kabar kelulusannya sebagai penerima ASEAN Scholarship datang melalui surat elektronik, tepat sehari setelah Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV IPM Jawa Timur di Kota Malang berakhir.
“Setiap momen besar dalam hidup saya sejauh ini selalu ada kaitannya dengan IPM. Syukur kepada Allah yang selalu membersamai,” ungkapnya.
Menurut Farhan, hal tersebut bukan sekadar kebetulan. Ia meyakini bahwa setiap pengabdian di organisasi yang diniatkan sebagai ibadah akan menghadirkan keberkahan dengan cara-cara yang sering kali tidak terduga.
Pesan kepada Kader IPM
Meski bersyukur atas kesempatan belajar di luar negeri, Farhan menyadari bahwa amanah tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Karena titik ini merupakan pemberian Allah, saya mohon doa terbaik agar diberi kelancaran dalam menjalani studi,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh kader IPM Jawa Timur untuk menjadikan organisasi sebagai jalan menebar amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Boleh saja kita ‘mencari-cari’ ketika ber-IPM. Namun yang perlu digarisbawahi, mencari di sini arahnya kepada ridha Allah. Sehingga IPM menjadi wasilah amal saleh kita untuk kebaikan dunia dan akhirat,” pesannya.
Perjalanan Farhan menjadi pengingat bahwa prestasi akademik tidak hanya lahir dari kecerdasan dan kerja keras, tetapi juga dari ketekunan berproses, kesungguhan dalam berorganisasi, serta keyakinan bahwa setiap langkah akan menemukan jalannya ketika disertai niat yang baik dan pertolongan Allah SWT. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments